Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Relawan Muda di Arus Mudik

Takbiran Diminta di Rumah Saat Nyepi di Bali

Libur Lebaran, Program MBG Hemat Rp5 Triliun

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 18 Maret 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bela Negara atau Bela Penguasa?

Ketika kader bela negara berubah jadi tentara digital yang anti-kritik dan terlalu tunduk pada kekuasaan.
Udex MundzirUdex Mundzir13 April 2025 Opini
Kritik Alumni Bela Negara dan Politik Kekuasaan
Ilustrasi Kritik Alumni Bela Negara dan Politik Kekuasaan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Program-program pelatihan bela negara digalakkan dengan semangat tinggi. Pemerintah mengklaim ini sebagai upaya membangun nasionalisme dan semangat cinta tanah air. Namun kenyataannya, banyak kader alumni pelatihan itu justru menjelma menjadi pion-pion yang bukan membela negara, tapi membela penguasa.

Mereka mulai ikut ramai di media sosial. Mengibarkan jargon nasionalisme. Berteriak soal ancaman terhadap stabilitas. Tapi giliran ada kritik terhadap pemerintah—mereka justru menyerang balik. Bukan dengan argumen, tapi dengan kemarahan, ancaman, dan labelisasi: pengkhianat, radikal, tidak cinta NKRI.

Fenomena ini menyedihkan. Karena sejatinya, bela negara tidak identik dengan membela kebijakan yang keliru. Bela negara bukan soal memuja kekuasaan. Tapi menjaga agar kekuasaan tidak keluar jalur.Ironisnya, banyak dari mereka justru lebih gusar kepada kelompok-kelompok sipil yang bersuara kritis. Mereka tidak risih pada korupsi, kolusi, atau manipulasi. Tapi mereka reaktif jika ada warga mempertanyakan proyek mangkrak, utang negara, atau penyalahgunaan kekuasaan.

Mereka lupa, negara bukan milik pemerintah. Negara adalah milik rakyat. Dan tugas warga negara—termasuk alumni bela negara—adalah mengawal agar negara dijalankan sesuai konstitusi dan amanat rakyat. Bukan menutup mata atas kesewenang-wenangan dengan dalih “demi stabilitas” dan “yang penting guyub”.

Bela negara tidak identik dengan loyalitas buta. Justru dalam banyak kasus, yang paling cinta negara adalah mereka yang berani mengkritik ketika negara diselewengkan oleh elitnya. Kritik bukan bentuk kebencian. Kritik adalah bentuk tertinggi dari kecintaan yang rasional.

Yang menyedihkan, program bela negara ini tak jarang dijalankan dalam atmosfer indoktrinasi. Pesertanya dijejali semangat semu tentang ancaman luar, tanpa diajak berpikir kritis terhadap ancaman dari dalam, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan manipulasi hukum.

Dalam atmosfer seperti ini, tidak heran jika banyak alumninya menjadi pasukan “buzzer halus”. Tidak dibayar, tapi secara sukarela menyerang oposisi. Tidak ditugaskan secara formal, tapi merasa bertugas atas nama negara—padahal yang dibela bukan negara, melainkan citra pejabat.

Inilah titik krusialnya, ketika negara mulai menyamakan dirinya dengan pemerintah, maka segala bentuk kritik dianggap sebagai ancaman. Dan di sinilah para kader bela negara kehilangan orientasi. Mereka lupa bahwa sumpah mereka adalah untuk republik ini, bukan untuk wajah pemimpinnya.

Bela negara sejati bukan tentang membela simbol, lambang, atau sosok tertentu. Tapi membela nilai. Membela keadilan. Membela konstitusi. Termasuk jika itu berarti berdiri di barisan yang berseberangan dengan kekuasaan yang melenceng.Semoga para “oknum” alumni bela negara segera sadar.

Bahwa keberanian bukan ditunjukkan dengan menyerang lawan politik pemerintah. Tapi dengan menjaga agar negara tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai luhur yang mereka ikrarkan saat pelatihan dulu.

Anti-Kritik Bela Negara Kritik Pemerintah Loyalis Kekuasaan Politik Populis
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”
Next Article Ribuan Warga Riau Ikuti Karhutla Fun Run 2025

Informasi lainnya

Dapur Rapi, Pikiran Tertata

12 Maret 2026

Urban Farming: Mandiri di Kota

18 Januari 2026

Tren Fashion Terbaru 2026

16 Januari 2026

TikTok & Konten Viral

16 Januari 2026

Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

28 Desember 2025

Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat

28 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Belva Devara: Anak Bangsa Pelopor Pendidikan Digital

Biografi Alfi Salamah

Untuk Apa Kenaikan UMP 6,5% Itu?

Editorial Udex Mundzir

Curug Malela: Niagara Mini di Jantung Hutan Jawa Barat

Travel Alfi Salamah

Lebih 12 Persen Tidak Mau Andi Harun Jadi Wali Kota!

Editorial Udex Mundzir

Belajar dari Kegagalan, Tips Bangkit dari Kekalahan dengan Penuh Semangat

Opini Alfi Salamah
Berita Lainnya
Kesehatan
Lisda Lisdiawati14 Maret 2026

Mengapa Banyak Orang Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan?

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Mendagri Tito Wajibkan Siskamling Aktif di Seluruh RT/RW

SMPN 1 Cisayong Tutup Program Kokulikuler Ramadhan

Diskon Tarif Tol Mudik Lebaran 30 Persen Masih Berlaku Hari Ini

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi