Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Celios Minta BPS Gunakan Metode Baru Ukur Kemiskinan

Pendekatan berbasis disposable income dinilai lebih representatif dan adil.
ErickaEricka30 Mei 2025 Ekonomi
Badan Pusat Statistik (BPS)
Badan Pusat Statistik (BPS) (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) mengkritik pendekatan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam menghitung angka kemiskinan yang dinilai tidak sesuai dengan realitas kesejahteraan masyarakat saat ini. Celios mendorong agar Indonesia mengadopsi metode pengukuran baru berbasis disposable income atau pendapatan bersih setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menyatakan bahwa metode yang digunakan BPS—berdasarkan garis kemiskinan makanan dan non-makanan—telah usang dan gagal menangkap kompleksitas kemiskinan modern.

“Pendekatan ini cocok untuk era 1970-an, tapi kini sudah tidak relevan. Kita perlu indikator yang mempertimbangkan faktor geografis, beban generasi sandwich, hingga kebutuhan dasar non-makanan,” ujar Media dalam diskusi publik, Rabu (28/5/2025).

Ia menyarankan agar metode yang digunakan mengacu pada praktik internasional seperti di Uni Eropa, yang menilai kesejahteraan masyarakat secara multidimensi, termasuk aspek pendidikan, kesehatan, dan keseimbangan kehidupan.

Celios juga menekankan bahwa data kemiskinan harus berfungsi sebagai alat evaluasi kebijakan sosial, bukan sekadar alat statistik atau kepentingan politik.

“Data kemiskinan seharusnya digunakan untuk menilai dampak kebijakan fiskal dan sosial, seperti subsidi pangan, PKH, hingga MBG. Jika tidak efektif, maka program tersebut perlu dievaluasi,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Celios mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur pendekatan baru dalam pengukuran kemiskinan, sekaligus menyelaraskan indikator antarinstansi dan memperkuat integrasi data.

Peneliti Celios, Bara, menambahkan bahwa bukan hanya data kemiskinan yang perlu diperbarui, tapi juga angka pengangguran. Ia menyoroti bahwa data resmi belum mencerminkan realitas pekerja informal, terutama mereka yang tergabung dalam gig economy seperti ojek online.

“Banyak pekerja dengan jam kerja tinggi tapi penghasilan di bawah UMR. Ini tidak tercermin dalam data resmi,” ujar Bara.

Ia mencatat bahwa proporsi pekerja yang menerima upah di bawah UMR meningkat dari 63% pada 2021 menjadi 84% pada 2024. Pekerja ojek online bahkan tercatat bekerja rata-rata 54,5 jam per minggu, jauh di atas rata-rata nasional.

Perbedaan data kemiskinan antara BPS dan Bank Dunia juga menjadi sorotan. Jika menurut BPS angka kemiskinan hanya 8,57% atau 24 juta orang, Bank Dunia menyebutkan hingga 60% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan global dengan standar US$ 6,85 per hari.

BPS Celios Disposable Income Gig Economy Kemiskinan Indonesia Pengangguran
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKericuhan Job Fair Bekasi, Pemerintah Diminta Evaluasi Total Sistem Bursa Kerja
Next Article Komdigi Ancam Blokir 36 PSE Global, Termasuk Nike dan Google

Informasi lainnya

Menabung Tak Cukup di Era Sekarang

21 Januari 2026

Mendirikan Yayasan, Cara Orang Kaya Menata Warisan Sosial

20 Januari 2026

Pemerintah Bebaskan PPh 21 Pekerja Padat Karya Hingga 2026

5 Januari 2026

Pekan Awal 2026, Harga Emas Antam Merosot Tajam

4 Januari 2026

Tahun Pajak 2026 Tanpa Kenaikan Tarif, Pemerintah Fokus Digitalisasi dan Insentif

31 Desember 2025

Rupiah Dibuka Tertekan di Level 16.773 per Dolar AS

29 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Temukan 3 Jam Produktif dalam Seharimu!

Daily Tips Assyifa

Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya

Travel Alfi Salamah

Rahasia Melempar Jumrah Syarat-Syarat yang Harus Diketahui

Islami Alfi Salamah

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

Profil Alfi Salamah

Vasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan

Opini Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.