Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Gelar Akademik dan Integritas Pejabat Publik

Ketika jabatan tinggi tak cukup didukung kompetensi, apakah publik masih bisa percaya pada pemerintahan yang mengedepankan etika?
Udex MundzirUdex Mundzir28 Februari 2025 Editorial
Skandal Gelar Akademik Bahlil Lahadalia
Skandal Gelar Akademik Bahlil Lahadalia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan karena kebijakan atau pencapaiannya di sektor energi, melainkan polemik seputar gelar doktornya yang ditangguhkan oleh Universitas Indonesia (UI). Keputusan ini diambil setelah Dewan Guru Besar UI menemukan adanya perlakuan khusus dan konflik kepentingan dalam proses akademiknya.

Kasus ini memunculkan pertanyaan serius tentang integritas pejabat publik dan bagaimana standar akademik bisa dipermainkan demi kepentingan politik atau jabatan. Ketika seorang menteri terlibat dalam pelanggaran etik akademik, dampaknya bukan hanya pada reputasi individu, tetapi juga pada kredibilitas pemerintah secara keseluruhan.

Presiden Prabowo Subianto kini menghadapi dilema. Jika mempertahankan Bahlil, itu berarti membiarkan preseden buruk tentang standar moral di lingkaran kekuasaannya. Sebaliknya, jika mengambil langkah tegas, ia bisa menunjukkan bahwa pemerintahan ini menjunjung tinggi transparansi dan meritokrasi.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Prabowo tampaknya tidak berani memecat Bahlil, dan alasannya bukan sekadar etika atau hukum, melainkan stabilitas politik. Bahlil adalah bagian dari Golkar, partai yang punya sejarah panjang dalam pemerintahan dan telah terbukti piawai dalam memainkan politik kekuasaan. Dalam kabinet yang disusun berdasarkan koalisi besar, Golkar adalah elemen yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Jika Prabowo memecat Bahlil, ia harus siap menghadapi reaksi politik dari Golkar. Partai ini dikenal sebagai kelompok yang pragmatis, tetapi juga penuh dengan kepentingan. Dengan jaringan yang kuat dan peran strategis dalam pemerintahan, mereka bisa membuat kondisi politik menjadi tidak stabil. Bahkan, ada kemungkinan Golkar akan menuntut lebih banyak kompensasi jika salah satu kadernya digeser dari posisi strategis seperti Menteri ESDM.

Di sisi lain, publik juga sudah memahami pola permainan elite Golkar. Partai ini terbiasa dengan manuver politik yang penuh kalkulasi, bahkan jika itu mengorbankan prinsip moral dan integritas. Kasus-kasus manipulasi, korupsi, dan skandal akademik bukan hal baru dalam lingkup elite partai ini. Dan selama stabilitas politik lebih diutamakan dibandingkan integritas pejabat, praktik semacam ini akan terus berlangsung.

Dalam situasi ini, Prabowo berada di persimpangan jalan. Jika ia memilih mempertahankan Bahlil, maka kredibilitas pemerintahannya akan dipertanyakan. Tapi jika ia berani mengambil tindakan tegas, maka ia bisa menciptakan standar baru bagi pejabat publik yang ingin tetap berada dalam lingkaran kekuasaan.

Namun, melihat peta politik saat ini, kemungkinan besar Prabowo akan memilih jalan aman: membiarkan Bahlil tetap bertahan sambil menunggu isu ini mereda dengan sendirinya. Ini adalah kompromi politik klasik yang sering terjadi dalam pemerintahan koalisi.

Pada akhirnya, rakyat membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin dengan gelar akademik tinggi. Yang lebih penting adalah pejabat yang memiliki kompetensi nyata, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan. Jika tidak, kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan akan semakin terkikis, dan itu adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.

Bahlil Lahadalia Etika Pejabat Golkar Integritas Pemerintah Prabowo Subianto
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLarangan Study Tour: Solusi atau Masalah Baru?
Next Article Dinsos Kukar Latih Pendamping PKH Lakukan Verifikasi Data DTESN

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Bupati Aceh Utara Pertanyakan Absennya Presiden Saat Banjir

30 Desember 2025

Prabowo Nilai Anggaran Pemulihan Sumatera Realistis dan Terukur

8 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Vitamin Syukur

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Ijazah Jokowi dan Dagelan Akademik

Editorial Udex Mundzir

Agar Generasi Z tidak Mencemaskan

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Keindahan Alam Jepang yang Mempesona di Setiap Musim

Travel Alfi Salamah

D’MASIV Menuju Panggung Dunia dari Ciledug ke Los Angeles

Happy Ericka
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.