Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?

Kepekaan sosial kita kini diuji oleh tren dan algoritma media.
Udex MundzirUdex Mundzir19 Desember 2024 Opini
Viralitas dan kepedulian sosial
Viralitas dan kepedulian sosial (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Seberapa tulus kita peduli? Pertanyaan ini muncul di tengah gelombang berita viral yang terus bermunculan di media sosial. Dalam dua tahun terakhir, kita sering melihat aksi peduli masyarakat baru terjadi setelah sebuah kisah menyentuh hati menjadi sorotan publik. Tapi, mengapa harus menunggu viral?

Kasus Miftah, seorang tokoh agama, pernah menjadi sorotan karena dianggap menghina Sunhaji, seorang penjual teh yang tengah berjualan di acara pengajian. Insiden ini membelah opini masyarakat. Banyak yang menyerang Miftah, tetapi tak sedikit pula yang mendukung Sunhaji dengan berbagai donasi dan bantuan setelah kisahnya tersebar luas. Viralitas kasus ini justru membuka mata tentang kepedulian kolektif kita—apakah dorongan untuk membantu benar-benar murni atau hanya reaksi terhadap tekanan sosial?

Ada pula kisah seorang guru di sebuah sekolah yang harus memungut sampah di luar jam mengajar demi menambah penghasilan. Ketika video sang guru diunggah ke media sosial, respons yang datang luar biasa. Donasi mengalir deras, dan berbagai tawaran bantuan pun diberikan. Namun, muncul pertanyaan penting: jika cerita ini tidak sampai ke layar ponsel kita, apakah akan ada yang peduli?

Fenomena serupa terjadi pada banyak kasus lain. Seorang anak kecil yang menangis karena tidak mampu membeli seragam sekolah menjadi viral, dan dalam hitungan hari, berbagai pihak berlomba-lomba memberikan bantuan. Begitu pula dengan lansia yang bekerja sebagai pemulung, yang setelah fotonya tersebar, tiba-tiba mendapatkan perhatian luar biasa.

Semua ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari kita tidak tergerak oleh kebutuhan, tetapi oleh eksposur. Kita lebih peduli pada apa yang terlihat dibandingkan dengan apa yang tersembunyi. Akibatnya, orang-orang yang membutuhkan tapi tidak terekspos ke media sering kali tetap terabaikan.

Kebergantungan pada viralitas juga menimbulkan risiko. Ada pihak-pihak yang sengaja mengeksploitasi kemiskinan untuk mendapatkan perhatian. Berita palsu tentang seseorang yang membutuhkan sering kali muncul hanya demi mengundang simpati palsu. Hal ini menciptakan dilema: bagaimana memastikan bantuan kita sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan?

Sebagai masyarakat yang saling bergantung, kita perlu melakukan refleksi mendalam. Kepedulian tidak boleh didasarkan pada popularitas, tetapi pada kebutuhan yang nyata. Ada jutaan Sunhaji lain di luar sana, yang tidak memiliki kesempatan untuk muncul di media sosial, tetapi sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Satu langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah memperluas kesadaran sosial di luar ruang media. Menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar kita, menyadari bahwa ada orang-orang yang diam-diam berjuang untuk bertahan hidup. Tidak perlu menunggu kisah mereka viral untuk memberikan bantuan.

Sebagai seorang Pramuka, saya percaya pada nilai dasar gotong royong dan aksi nyata tanpa pamrih. Pengalaman menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan telah mengajarkan saya bahwa setiap tindakan kecil dapat menciptakan dampak besar, bahkan tanpa kamera yang merekam.

Mari kita jadikan kepedulian sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar reaksi sesaat terhadap apa yang sedang viral. Jangan biarkan algoritma media sosial mendikte belas kasih kita. Karena, jika kita hanya peduli pada apa yang viral, siapa yang akan membantu mereka yang tak terlihat?

Fenomena Miftah Kasus Inspiratif Kepedulian Sosial Pemberdayaan Masyarakat Viral Media Sosial
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKamu Menjadi Korban Penipuan Online? Begini Cara Melapornya
Next Article Unisba Bahas Inovasi Obat Modern Berbasis Produk Alami

Informasi lainnya

Urban Farming: Mandiri di Kota

18 Januari 2026

Tren Fashion Terbaru 2026

16 Januari 2026

TikTok & Konten Viral

16 Januari 2026

Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

28 Desember 2025

Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat

28 Desember 2025

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

26 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Ketika Putra Mahkota Solo ‘Menyesal’ Bergabung dengan Republik

Editorial Udex Mundzir

Vasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan

Opini Udex Mundzir

Bekerja Berat saat Ramadan: Bolehkah Tidak Puasa dan Bayar Fidyah?

Islami Assyifa

Tips dan Perlengkapan Mendaki Gunung Rinjani bagi Pemula

Travel Alfi Salamah

Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah

Opini Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.