Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kemenkes Tegaskan ChatGPT Tak Bisa Gantikan Diagnosis Dokter

Masyarakat boleh gunakan AI untuk awalan, namun validasi medis tetap wajib demi keamanan kesehatan.
ErickaEricka24 Juli 2025 Saintek
Batasan ChatGPT untuk Diagnosis Penyakit 2025
Ilustrasi Batasan ChatGPT untuk Diagnosis Penyakit 2025 (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT sebagai alat utama diagnosis penyakit. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (23/7/2025), Staf Ahli Teknologi Kesehatan Kemenkes, Setiaji, menekankan bahwa AI hanya dapat digunakan sebagai pendeteksi awal dan tidak bisa menggantikan peran tenaga medis profesional.

“Saat ini kita belum bisa percaya 100 persen terhadap kecerdasan buatan, jadi tetap harus berkonsultasi ke dokter,” ujar Setiaji, yang juga menjabat Ketua Tim Transformasi Teknologi dan Digitalisasi Kesehatan (TTDK) Kemenkes.

Ia menjelaskan bahwa ChatGPT dan teknologi sejenis mampu mengenali pola-pola gejala berdasarkan data global, namun konteks lokal, seperti penyakit endemik dan standar pengobatan di Indonesia, sering kali tidak tercakup secara tepat.

“Kalau sekadar ingin tahu dan waspada terhadap diri sendiri, silakan gunakan ChatGPT. Tapi paling tidak, tetap harus dilanjutkan dengan konsultasi ke dokter,” tegasnya.

Menurutnya, teknologi AI memang berhasil mendorong kesadaran masyarakat terhadap kesehatan pribadi, namun publik diminta cermat dalam membandingkan informasi dari berbagai sumber.

“Cara paling mudah, bandingkan jawabannya. Posisinya sama atau beda? Kalau beda, kita wajib waspada,” ujarnya.

Setiaji menyarankan masyarakat menggunakan platform AI lokal seperti Sahabat AI yang telah dikembangkan dengan menyesuaikan data dan bahasa berdasarkan konteks Indonesia. Platform ini dinilai lebih akurat dan relevan dalam memberikan rekomendasi awal.

“Datanya ada di Indonesia dan pakai bahasa lokal, itu sudah lebih baik dibanding hanya mencari di Google,” tambahnya.

Kemenkes juga menyoroti beberapa kelemahan AI dalam bidang medis, seperti sensitivitas terhadap konteks klinis, akurasi diagnosis awal, serta keterbatasan dalam menginterpretasikan hasil gambar medis seperti rontgen atau MRI, terutama jika kualitasnya rendah.

“Kalau image-nya blur, ya hasilnya pasti tidak akurat. Jadi yang kita ukur dua hal: sensitivitas dan akurasi. Dan ChatGPT masih belum cukup di dua hal itu,” terang Setiaji.

Pemerintah berharap penggunaan AI dapat diarahkan untuk keperluan preventif dan edukatif, bukan sebagai pengganti konsultasi medis. Validasi oleh dokter tetap menjadi langkah krusial dalam menjaga keselamatan dan akurasi perawatan pasien.

AI Diagnosis Penyakit ChatGPT Medis Kemenkes 2025 Saintek Indonesia Transformasi Digital Kesehatan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBareskrim Naikkan Status Kasus Beras Oplosan, 67 Produsen Diduga Terlibat
Next Article Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat

Informasi lainnya

Gunung Padang Bongkar Tabir Peradaban Tertua di Dunia?

28 Desember 2025

Lima Fakta Menarik tentang Penemuan Ruang Antarbintang Voyager

26 Desember 2025

Langit Nusantara dan Fenomena Cahaya yang Tampak di atas kepulauan Indonesia

21 Desember 2025

Chatbot Religius Merebak, Akankah Tuhan Hadir Lewat Kode?

23 November 2025

BRIN Beri Penjelasan Tentang Meteor Jatuh di Cirebon

7 Oktober 2025

Puncak Gerhana Bulan Total Terlihat 8 September 01.11 WIB

7 September 2025
Paling Sering Dibaca

Jabatan Simbolis atau Ancaman Toleransi?

Editorial Udex Mundzir

Mau Upgrade Diri? Inilah 5 Buku yang Wajib Kamu Baca di Awal Tahun

Daily Tips Alfi Salamah

Pentingnya Persetujuan Warga dalam Infrastruktur Lingkungan

Gagasan Udex Mundzir

Menghapus Jerat Judi Online Pasca Pilkada

Editorial Udex Mundzir

Ketika Moral Publik Mati

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.