Setiap tahun punya tren makanannya sendiri. Dari cheese tea hingga croffle, dari dalgona kopi hingga es kepal Milo, kita telah menyaksikan betapa makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga gaya hidup. Dan di tahun 2026, fenomena ini makin tak terbendung.
Makanan kekinian kini hadir dengan satu tujuan utama: viral di media sosial. Muncul tren kuliner yang tidak hanya harus enak, tapi juga unik, estetik, dan “Instagrammable”. Dalam era TikTok dan Reels, makanan yang layak tampil di kamera sering kali lebih laku daripada yang sekadar lezat.
Tren Makanan Paling Viral 2026
Beberapa makanan kekinian yang merajai linimasa tahun ini:
- Es Krim Nasi Uduk, paduan es krim rasa gurih-rempah yang sempat dianggap “aneh”, kini justru viral karena unik dan lokal.
- Toast Pelangi Lava Keju, roti panggang dengan lelehan keju warna-warni yang menggoda mata dan kamera.
- Sate Mochi Bakar, varian mochi gurih-manis dibakar di atas arang, disajikan dengan bumbu kacang kekinian.
- Minuman Susu + Jelly Fanta, kombinasi warna ngejreng yang muncul dari tren “childhood drinks revamp”.
- Martabak Mini Pizza, topping ala western di martabak telur mini, laku keras di food court dan TikTok.
Semua ini punya satu benang merah: unik, mencolok, dan bisa divideo dalam 15 detik. Rasa bisa menyusul, yang penting tampilannya menarik.
Kuliner = Konten = Komoditas
Tak bisa dimungkiri, makanan kini bukan sekadar konsumsi, tapi juga konten dan komoditas visual. Banyak UMKM kuliner yang merancang produknya untuk tampil keren di kamera, bukan hanya di lidah.
Fenomena ini menciptakan peluang luar biasa di sektor ekonomi kreatif. Brand-brand kecil bisa viral hanya dengan satu video FYP. Contohnya, penjual “Ramen Es Krim” di Cirebon yang naik 800% pesanan setelah videonya ditonton 4 juta kali.
Namun, ini juga membawa tantangan:
- Ketergantungan pada algoritma membuat bisnis tidak stabil.
- Muncul produk yang “gimmick” saja tanpa kualitas rasa jangka panjang.
- Lonjakan harga bahan baku tertentu akibat satu tren viral.
Artinya, meski menyenangkan dan profitable, tren makanan kekinian bisa menjadi ekosistem yang tidak sehat jika tak dikendalikan.
Budaya Konsumsi yang Bergeser
Makanan viral mencerminkan pergeseran budaya konsumsi: dari fungsi (makan untuk kenyang) menjadi simbol (makan untuk tampil). Ini bisa berdampak positif bagi pelaku kreatif kuliner, tapi juga mendorong konsumerisme dangkal jika tak disikapi bijak.
Generasi muda kini lebih tertarik mencoba “apa yang lagi rame” ketimbang menggali makanan khas daerah atau resep turun-temurun. Makanan tradisional pun mulai “disulap” demi kebutuhan tampilan, kadang mengorbankan otentisitasnya.
Antara Kreativitas dan Komersialisasi
Tak ada yang salah dengan makanan viral. Bahkan, banyak inovasi lahir dari keberanian untuk tampil beda. Tapi perlu dicatat, tidak semua yang viral pantas ditiru secara membabi buta. Kreativitas kuliner harus tetap memperhatikan aspek kesehatan, etika, dan keberlanjutan bahan baku.
Sebagai konsumen, kita juga perlu lebih reflektif: apakah kita mencoba makanan itu karena suka, penasaran, atau cuma ikut-ikutan biar bisa upload? Sementara itu, bagi pelaku usaha kuliner, penting untuk tidak hanya mengejar tren sesaat. Bisnis makanan yang kuat adalah yang mampu menggabungkan daya tarik visual dengan kualitas rasa dan pengalaman konsumen yang konsisten.
Tren makanan kekinian tahun ini menampilkan semangat eksplorasi dan kreativitas tinggi. Namun, di balik tampilan cantik dan warna-warni mencolok, ada dinamika sosial dan ekonomi yang tak bisa diabaikan. Karena pada akhirnya, yang viral belum tentu bertahan dan yang bertahan, harus punya lebih dari sekadar tampilan.
