Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas

Ketika pemerintah gagal membaca aspirasi rakyat, peluang emas berubah menjadi krisis yang mengguncang demokrasi.
Udex MundzirUdex Mundzir30 Agustus 2025 Editorial
Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Indonesia tengah berguncang. Protes besar pecah di berbagai kota, dipicu oleh tunjangan mewah DPR dan tragedi tewasnya seorang pengemudi ojek online akibat tindakan aparat. Gelombang aksi ini bukan sekadar letupan emosional, melainkan cermin ketidakpuasan mendalam terhadap cara negara dikelola. Di tengah situasi ini, Presiden Prabowo Subianto menghadapi ujian terberat di awal masa pemerintahannya.

Kemarahan rakyat jelas. Mereka melihat ketidakadilan yang mencolok: di saat harga kebutuhan pokok melonjak dan pekerjaan sulit, para wakil rakyat justru menikmati fasilitas supermewah. Lalu, tragedi yang menimpa rakyat kecil memperkuat kesan bahwa negara lebih melindungi elit dibandingkan warga biasa. Kombinasi dua hal ini menciptakan ledakan sosial yang sulit diredam hanya dengan imbauan.

Secara politik, momen ini bisa menjadi peluang emas bagi Prabowo untuk menunjukkan kepemimpinan sejati. Ia bisa berdiri di sisi rakyat dengan menindak tegas aparat yang bersalah, menolak pemborosan anggaran DPR, dan mendorong reformasi kepolisian. Tetapi, jika responsnya lamban atau sekadar simbolik, legitimasi pemerintah akan terkikis. Masyarakat akan menilai bahwa presiden tidak lebih dari bagian dari sistem lama yang mereka lawan.

Di sisi hukum, tragedi ini membuka ruang untuk menegakkan akuntabilitas. Konstitusi menjamin perlindungan terhadap setiap warga negara, tanpa kecuali. Namun, praktik di lapangan menunjukkan betapa rapuhnya penegakan hukum ketika aparat justru menjadi sumber ketakutan. Jika Prabowo tidak memastikan proses hukum yang transparan dan adil, maka janji untuk menegakkan keadilan sosial hanya akan terdengar sebagai slogan kosong.

Dari perspektif sosial, luka rakyat sangat dalam. Kematian seorang pengemudi ojek online bukan hanya kasus individual, melainkan simbol ketidakadilan struktural. Ia mewakili suara jutaan rakyat kecil yang merasa terpinggirkan. Jika pemerintah gagal membaca makna sosial dari peristiwa ini, maka jarak antara negara dan rakyat akan semakin melebar, dan krisis kepercayaan akan sulit dipulihkan.

Dampak ekonomi langsung terasa. Pasar modal terguncang, rupiah melemah, dan investor ragu. Semua ini terjadi karena faktor non-ekonomi: ketidakpastian politik. Investor tahu, tanpa stabilitas politik, kebijakan ekonomi sehebat apa pun tidak akan berjalan. Artinya, jika gejolak sosial terus berlanjut, program ambisius Prabowo—seperti swasembada pangan dan industrialisasi pertahanan—hanya akan tinggal di atas kertas.

Budaya politik Indonesia juga ikut memperburuk situasi. DPR sebagai simbol kedaulatan rakyat justru menjadi pemicu utama krisis. Ketika lembaga perwakilan rakyat lebih sibuk memikirkan kenyamanan sendiri ketimbang penderitaan rakyat, maka wajar bila masyarakat marah. Jika Prabowo tidak berani bersikap keras terhadap praktik semacam ini, ia akan kehilangan kesempatan emas untuk meneguhkan diri sebagai presiden rakyat, bukan presiden elit.

Namun, di sinilah letak peluangnya. Prabowo masih punya kesempatan untuk membalik keadaan. Ia bisa mengambil langkah-langkah berani: memotong tunjangan DPR, mempercepat reformasi kepolisian, dan menginisiasi paket kebijakan pro-rakyat. Tindakan konkret semacam itu akan meredam kemarahan publik sekaligus memperkuat legitimasi pemerintahannya.

Reformasi institusi keamanan menjadi prioritas mendesak. Kasus tewasnya rakyat kecil akibat tindakan aparat tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa. Ia harus menjadi momentum untuk menata ulang Polri agar benar-benar menjadi pelindung rakyat, bukan alat kekuasaan. Jika langkah ini gagal dilakukan, maka bayang-bayang “polisi represif” akan terus menghantui demokrasi Indonesia.

Prabowo juga harus berani menegur DPR. Tidak ada alasan logis bagi wakil rakyat untuk menikmati fasilitas mewah di tengah kesulitan ekonomi. Jika DPR menolak perubahan, Prabowo bisa mendorong transparansi anggaran dan membuka ruang bagi rakyat untuk menilai langsung kinerja wakilnya. Dengan cara itu, publik akan melihat pemerintah berpihak kepada rakyat, bukan kepada elit.

Komunikasi politik juga perlu diperkuat. Prabowo harus berbicara langsung kepada rakyat, menjelaskan langkah-langkah konkret yang akan ditempuh. Imbauan kosong tidak lagi cukup. Rakyat butuh kepastian bahwa presiden benar-benar mendengar aspirasi mereka, bukan sekadar menenangkan situasi untuk sementara.

Masyarakat sipil juga memegang peran penting. Protes harus dijaga agar tetap damai dan tidak berubah menjadi anarki. Tuntutan rakyat akan kehilangan legitimasi jika aksi berujung kekerasan. Media, akademisi, dan aktivis harus memastikan bahwa aspirasi publik tersalurkan dengan cara yang bermartabat, sehingga pemerintah terdesak untuk mendengar tanpa punya alasan untuk menindas.

Dari perspektif sejarah, momen seperti ini bisa menentukan arah sebuah pemerintahan. Soeharto jatuh karena tidak mampu meredam protes rakyat yang dipicu krisis ekonomi. Jokowi bertahan karena berhasil menjaga stabilitas meski banyak kebijakan kontroversial. Kini, giliran Prabowo diuji: apakah ia akan dikenang sebagai pemimpin yang berani berdiri bersama rakyat, atau presiden yang kehilangan kesempatan emas di awal pemerintahannya.

Jika Prabowo gagal membaca momentum, maka legitimasi pemerintahannya akan runtuh lebih cepat daripada yang diduga. Ia akan dipandang sebagai presiden yang sekadar melanjutkan warisan lama, bukan pemimpin yang membawa arah baru. Pada akhirnya, rakyatlah yang akan menarik kesimpulan, dan sejarah akan mencatatnya dengan cara yang dingin.

Sebagai media, kami menegaskan bahwa bangsa ini tidak boleh kembali ke pola lama: elit hidup mewah, rakyat menanggung derita. Prabowo masih punya kesempatan emas untuk membalik keadaan. Tetapi, kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Ia harus bertindak sekarang, atau kehilangan segalanya.

DPR RI Politik Indonesia Prabowo Subianto Protes Rakyat Reformasi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBayang Luhut di Tubuh Prabowo
Next Article Ketika Moral Publik Mati

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Bupati Aceh Utara Pertanyakan Absennya Presiden Saat Banjir

30 Desember 2025

Prabowo Nilai Anggaran Pemulihan Sumatera Realistis dan Terukur

8 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Agar Generasi Z tidak Mencemaskan

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Ibu Rumah Tangga di Musi Banyuasin Raup Penghasilan dari Ternak Jangkrik

Bisnis Silva

Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi

Editorial Udex Mundzir

Kisah Pengusaha Lokal Kalahkan Raksasa Dunia dalam Sengketa Merek

Bisnis Assyifa

Membeli Oleh-Oleh yang Bermanfaat dan Bernilai: Tips Agar Tidak Menjadi Sampah

Opini Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.