Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Minuman Ini Redakan Nyeri Haid

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 10 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

QRIS dan Tunai, Ketika Teknologi Tak Selalu Memudahkan Semua

Peralihan pembayaran digital memunculkan ironi: praktis bagi muda, menantang bagi sebagian generasi tua.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati28 Desember 2025 Ekonomi
QRIS dan Tunai, Ketika Teknologi Tak Selalu Memudahkan Semua
Ilustrasi masyarakat yang membayar dengan QRIS (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Di sebuah kafe kecil yang dingin oleh hembusan pendingin ruangan, ironi zaman terasa nyata.Musik instrumental mengalun lembut, sementara di depan meja kasir seorang perempuan paruh baya tampak mengernyitkan dahi.

Stiker kode batang QRIS menempel rapi di etalase kayu, seolah menjadi simbol perubahan yang tak bisa ditawar. Di tangan Saras, 51 tahun, ponsel pintar terasa seperti bahasa asing yang belum sepenuhnya ia kuasai.

Kisah Saras menggambarkan bagaimana perubahan sistem pembayaran di Indonesia berjalan begitu cepat. Ia sebenarnya tidak menolak teknologi. Namun, ritme perubahannya terasa terlalu deras.

Uang tunai yang selama puluhan tahun menjadi alat transaksi paling ia pahami kini perlahan tersisih. Ketika kafe atau toko tidak lagi menerima pembayaran cash, ia kerap merasa serba salah, bahkan terpojok oleh situasi.

“Saya sudah pernah sih bayar pakai scan begini, diajarin anak,” katanya pelan sambil tersenyum kikuk. “Tapi namanya umur, kadang lupa juga. Kalau tidak terima tunai, mau tidak mau minta bantuan.”

Pengalaman Saras berbanding terbalik dengan Juan, 25 tahun, seorang karyawan swasta yang hampir tak pernah membawa uang fisik. Baginya, ponsel adalah dompet utama. QRIS bukan lagi inovasi, melainkan kebiasaan sehari-hari.

Dari kedai kopi hingga pedagang kaki lima, ia terbiasa memindai kode lalu selesai dalam hitungan detik.

“Lebih praktis. Sekarang apa-apa tinggal scan,” ujarnya. Meski demikian, ketergantungan pada sistem digital juga pernah menyulitkannya. Ia mengisahkan pernah kebingungan saat harus membayar parkir yang hanya menerima uang tunai, sementara dompetnya kosong.

“Waktu itu harus transfer ke pedagang dulu baru ditukarin uang. Ribet juga cari ATM,” kenangnya.

Dua pengalaman tersebut mencerminkan jurang kecil yang makin terasa di tengah masifnya digitalisasi pembayaran. Data dari Bank Indonesia per pertengahan 2025 menunjukkan bahwa pengguna QRIS masih didominasi generasi muda.

Kelompok Gen Z tercatat mencapai lebih dari 75 juta pengguna, disusul generasi milenial sekitar 69 juta orang. Di sisi lain, jumlah merchant QRIS telah menembus 38 juta, dengan total pengguna sekitar 57 juta di seluruh Indonesia. Mesin EDC nontunai pun mencapai sekitar 2,3 juta unit.

Angka-angka tersebut menegaskan bahwa QRIS kini telah menjadi arus utama transaksi. Namun, pertumbuhan statistik tidak selalu sejalan dengan kesiapan sosial. Tidak semua orang tumbuh bersama layar sentuh dan aplikasi dompet digital.

Bagi sebagian masyarakat, terutama generasi yang lebih tua, uang tunai bukan sekadar alat bayar, melainkan rasa aman dan kendali.

Ke depan, QRIS hampir pasti terus berkembang dan menjadi wajah transaksi masa depan Indonesia. Meski begitu, uang tunai masih menyimpan peran penting, terutama bagi kelompok yang membutuhkan adaptasi lebih panjang.

Di antara layar ponsel dan lembaran rupiah, ada proses belajar, penyesuaian, dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, teknologi yang baik bukan hanya soal kecepatan dan efisiensi. Ia juga harus memiliki ruang untuk merangkul semua generasi, tanpa meninggalkan mereka yang berjalan sedikit lebih lambat dari laju perubahan.

Ekonomi digital Inklusi Keuangan Pembayaran Digital qris Uang Tunai
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLaba Freeport Rp67 T, Setoran Negara Dinilai Janggal
Next Article Dolar AS Melemah, Momentum Tepat Akumulasi Emas Global

Informasi lainnya

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

5 Februari 2026

Menabung Tak Cukup di Era Sekarang

21 Januari 2026

Mendirikan Yayasan, Cara Orang Kaya Menata Warisan Sosial

20 Januari 2026

Pemerintah Bebaskan PPh 21 Pekerja Padat Karya Hingga 2026

5 Januari 2026

Pekan Awal 2026, Harga Emas Antam Merosot Tajam

4 Januari 2026

Tahun Pajak 2026 Tanpa Kenaikan Tarif, Pemerintah Fokus Digitalisasi dan Insentif

31 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Memilih Menteri

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Cara Mengetahui Sifat Asli Manusia

Opini Udex Mundzir

Bebas Bertanggung Jawab

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Risma Nurrohmah, Empati yang Menjadi Strategi

Profil Adit Musthofa

Rekomendasi Menu untuk Mengelola Daging Qurban

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Hukum
Ericka6 Agustus 2025

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Optimalisasi Kepemimpinan dalam Transformasi Pelayanan Publik: Peserta Sespimmen Polri Dikreg ke-63 Gelar FGD di Surabaya

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ekskul Pramuka Wajib di Sekolah, Kemendikdasmen Terbitkan Aturan Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand