Belanja online kini menjadi bagian dari rutinitas. Mulai dari kebutuhan pokok, pakaian, hingga gadget, semua bisa dibeli hanya dengan satu klik. Marketplace besar menjanjikan keamanan, kemudahan, dan kecepatan. Tapi, di balik kemudahan itu, penipuan digital justru meningkat secara masif, menyasar konsumen awam yang belum paham betul cara mengenali risiko.
Kita cenderung percaya bahwa belanja online melalui platform besar seperti Tokopedia, Shopee, atau TikTok Shop selalu aman. Faktanya, laporan dari Kominfo tahun 2025 mencatat lebih dari 12.000 kasus penipuan belanja online dilaporkan, dan tidak semuanya terjadi di platform kecil.
Modus Baru, Korban Lama
Modus penipuan belanja online terus berkembang:
- Toko palsu dengan rating tinggi hasil manipulasi.
- Barang KW atau bekas dijual sebagai barang baru.
- Tautan phishing di luar platform yang mengarahkan ke “tokoh-tokoh palsu”.
- Pembayaran di luar sistem resmi marketplace dengan alasan “diskon tambahan”.
Semua trik ini mengeksploitasi kelemahan psikologis konsumen: tergoda harga murah, terburu-buru checkout saat flash sale, atau terlalu percaya testimoni yang sudah direkayasa.
Ironisnya, semakin maraknya diskon dan promo justru membuka celah lebih besar untuk kejahatan siber. Di balik euforia diskon 12.12 atau Harbolnas, banyak akun palsu memanfaatkan hype untuk menyebarkan tautan palsu dan menjebak pengguna yang tidak hati-hati.
Edukasi Konsumen Masih Lemah
Salah satu akar masalah adalah rendahnya literasi digital konsumen. Banyak pengguna masih belum memahami bagaimana sistem escrow marketplace bekerja, bagaimana membaca kredibilitas toko, atau cara mengenali URL palsu.
Sayangnya, edukasi yang diberikan oleh platform sering hanya berupa pop-up atau pesan umum yang mudah diabaikan. Tidak ada intervensi sistemik yang mendalam padahal, kerugian akibat penipuan online bukan hanya materi, tapi juga trauma dan hilangnya kepercayaan pada sistem digital.
Tanggung Jawab Siapa?
Kita juga harus bertanya: sejauh mana tanggung jawab marketplace dalam kasus penipuan?
Sering kali, platform berdalih bahwa jika transaksi terjadi di luar sistem resmi (misal: transfer langsung ke penjual), maka kerugian adalah tanggung jawab konsumen. Tapi kenyataannya, banyak toko palsu dibiarkan eksis terlalu lama di dalam sistem karena kurangnya verifikasi ketat.
Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pengguna. Marketplace harus aktif menjadi pengawas, bukan sekadar perantara.
Belanja Online Harusnya Cerdas, Bukan Spekulatif
Konsumen juga perlu mengubah pola pikir. Belanja online bukan lagi sekadar soal “murah dan cepat”, tetapi harus dilihat sebagai interaksi digital yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.
Beberapa tips belanja online cerdas:
- Selalu cek reputasi penjual dan ulasan produk.
- Jangan tergoda harga yang terlalu murah.
- Gunakan sistem pembayaran resmi (jangan transfer langsung).
- Cek deskripsi dan foto produk secara detail.
- Laporkan toko yang mencurigakan atau menipu.
Lebih dari itu, kita juga harus mulai menilai marketplace bukan hanya dari jumlah promo, tapi juga dari komitmen mereka terhadap keamanan dan perlindungan konsumen.
Praktis bukan Tanpa Risiko
Belanja online memang praktis, tapi bukan tanpa risiko. Penipuan yang semakin canggih menunjukkan bahwa keamanan digital harus berjalan seiring dengan kemudahan. Konsumen perlu diedukasi, dan platform perlu bertanggung jawab lebih besar.
Karena pada akhirnya, kemajuan teknologi e-commerce harus tetap berpihak pada perlindungan pengguna, bukan hanya keuntungan penyedia.
