Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber

BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami Pascagempa Besar Sangihe

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 9 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Tren Paylater Melonjak, Saatnya Melek Finansial

Kemudahan bertransaksi harus diimbangi dengan kesadaran finansial.
ErickaEricka19 Mei 2025 Bisnis
Risiko penggunaan paylater dan pentingnya literasi keuangan
Ilustrasi Paylater (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ledakan penggunaan layanan Paylater menjadi fenomena baru dalam lanskap keuangan digital Indonesia. Data per November 2024 menunjukkan bahwa utang Paylater masyarakat telah menembus angka Rp30,36 triliun, menjadikannya sinyal serius bagi industri keuangan, khususnya terkait manajemen konsumsi dan edukasi literasi finansial.

Pertumbuhan ini dipicu oleh kemudahan dalam mengakses layanan beli sekarang bayar nanti (BNPL) yang ditawarkan oleh berbagai platform perbankan dan multifinance. Dengan 16,4 juta pengguna aktif dan 48,4 juta akun tercatat, Paylater semakin populer, terutama di kalangan usia produktif.

Namun, di balik tren tersebut, muncul kekhawatiran akan jebakan utang dan rendahnya kontrol konsumsi masyarakat.

Jabar Tertinggi, Perempuan Paling Dominan

Menurut Pefindo Biro Kredit, Provinsi Jawa Barat menyumbang 27,87 persen dari total pengguna Paylater, disusul Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Hal ini menandakan konsentrasi penggunaan Paylater terjadi di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi dan populasi padat.

Lebih menarik lagi, 58,27 persen pengguna Paylater adalah perempuan, menunjukkan kecenderungan kelompok ini lebih aktif dalam transaksi konsumtif via platform digital.

Tren ini bukan hanya mencerminkan pola belanja modern, tetapi juga tantangan serius dalam literasi dan kontrol keuangan personal.

OJK Bertindak: Paylater Tak Bisa Sembarangan

Melihat tingginya potensi risiko, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera mengambil langkah pengendalian. Mulai 2025, syarat penggunaan Paylater diperketat. Calon pengguna minimal harus berusia 18 tahun atau sudah menikah, dan memiliki penghasilan minimal Rp3 juta per bulan.

Baca Juga:
  • THR 2025 Cair Lebih Cepat, Siapkan Rencana Anda!
  • Ibu Rumah Tangga di Musi Banyuasin Raup Penghasilan dari Ternak Jangkrik
  • Pelanggan adalah Kunci Sukses Bisnis Anda
  • Hindari 5 Jenis Orang Ini Jika Ingin Sukses dalam Bisnis

Langkah ini bertujuan untuk:

  • Mencegah jebakan utang yang bisa menimpa kalangan muda.
  • Melindungi konsumen dari akses keuangan yang tidak sesuai kapasitas.
  • Menjaga keberlangsungan industri pembiayaan dari risiko gagal bayar.

Dengan pendekatan ini, OJK berharap penggunaan layanan Paylater lebih selektif dan bertanggung jawab.

Saatnya Literasi Keuangan Masuk Gigi Tiga

Masalah utama bukan pada layanan Paylater-nya, melainkan pada pemahaman pengguna terhadap konsekuensi finansial jangka panjang. Paylater memang memudahkan transaksi, tetapi tanpa edukasi keuangan, pengguna bisa tergelincir ke utang konsumtif yang membengkak.

Untuk itu, penguatan literasi keuangan digital menjadi urgensi nasional. Edukasi tentang bunga tersembunyi, jatuh tempo, denda keterlambatan, serta pentingnya budgeting harus digalakkan, terutama di media sosial tempat mayoritas pengguna aktif.

Program-program seperti PeKA (Peduli, Kenali, Adukan) dari Bank Indonesia bisa dijadikan fondasi. Namun pendekatannya harus lebih membumi: melalui konten visual, video pendek, bahkan kolaborasi dengan influencer yang punya pengaruh di kalangan Gen Z dan milenial.

Paylater Bukan Uang Tambahan

Paylater seharusnya diposisikan sebagai alat bantu keuangan, bukan “uang tambahan”. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap transaksi Paylater adalah komitmen utang yang harus dikembalikan.

Artikel Terkait:
  • Mengapa Orang Kaya Rajin Berdonasi?
  • Membedah Tren Pembelian Barang Palsu di Dunia Fashion
  • Hukum Jual Beli Emas Digital dalam Islam
  • Kiat SDM Kawakan: Kuasai Ilmu Keberlanjutan

Membangun pola pikir ini tidak bisa hanya melalui regulasi. Butuh keterlibatan sekolah, keluarga, dan komunitas. Edukasi dasar seperti:

  • Menghitung cicilan dan bunga,
  • Membedakan kebutuhan dan keinginan,
  • Menyusun rencana keuangan bulanan,

harus masuk dalam kurikulum atau pelatihan kewirausahaan yang menyasar usia produktif.

Jalan Tengah: Inovasi Finansial dan Proteksi Konsumen

Kemajuan layanan keuangan digital tidak bisa dihentikan. Tapi, seperti pisau bermata dua, ia harus digunakan dengan kesadaran.

Pemerintah dan pelaku industri harus terus menghadirkan inovasi yang transparan dan edukatif, seperti dashboard utang yang mudah dipahami, sistem peringatan dini, hingga penilaian risiko yang terintegrasi.

Sementara itu, konsumen harus didorong menjadi pengguna yang aktif dan cerdas, bukan hanya sebagai target promosi.

Jangan Lewatkan:
  • Dropbox PHK 528 Karyawan, Alihkan Fokus pada Investasi AI
  • Dampak Anjloknya IHSG terhadap Ekonomi Indonesia
  • Federal Oil Gelar Acara Pasca Peluncuran Gresini Racing MotoGP
  • BRImo: Solusi Keuangan untuk Kuliah di Luar Negeri

Bijak Pakai, Bijak Bayar

Fenomena utang Paylater ini menjadi momentum untuk merevolusi cara masyarakat memandang konsumsi dan keuangan. Regulasi saja tidak cukup. Dibutuhkan gerakan bersama untuk membentuk generasi yang melek utang dan cakap mengatur keuangan.

Karena pada akhirnya, Paylater bukan musuh. Tapi jika disalahgunakan, bisa menjadi pintu masuk ke masalah keuangan yang panjang. Bijak pakai, bijak bayar, demi masa depan finansial yang lebih stabil.

BNPL Indonesia Keuangan Digital Literasi Keuangan OJK 2025 Risiko Konsumtif Utang Paylater
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGratis Ongkir Dibatasi, Saatnya Bisnis Logistik Lebih Sehat
Next Article Investasi Peternakan Sapi di NTT Libatkan Investor Brasil

Informasi lainnya

Menabung Tak Cukup di Era Sekarang

21 Januari 2026

Waspada Belanja Online Bodong

19 Januari 2026

Kenapa Skill Jualan Jadi Kunci Hidup Mandiri

29 Agustus 2025

Mengapa Orang Kaya Rajin Berdonasi?

25 Juni 2025

Premi Asuransi Syariah Tembus Rp9,84 Triliun per April 2025

16 Juni 2025

OJK Tegaskan Tak Campur Tangan Distribusi Dividen BUMN ke Danantara

3 Juni 2025
Paling Sering Dibaca

Narasi Dizalimi, Strategi Politik

Editorial Udex Mundzir

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Editorial Udex Mundzir

QR Warung dan Ketakutan Amerika

Editorial Udex Mundzir

Soft Living: Hidup lebih pelan, bahagia lebih lama

Happy Alfi Salamah

Pedagang Kelontong Dukung Stiker Larangan Jual Rokok ke Anak

Bisnis Silva
Berita Lainnya
Nasional
Ericka3 Mei 2025

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Generasi Muda dan Pertaruhan Masa Depan Cianjur

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Aturan Baru SD: Tak Wajib Usia 7 Tahun

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi