Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

Pajak Dibayar, Kuliah Tetap Mahal

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 10 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Waspada Belanja Online Bodong

Di era serba cepat, keinginan instan sering menjerumuskan konsumen ke jebakan digital yang merugikan.
Alfi SalamahAlfi Salamah19 Januari 2026 Bisnis
Online Shopping Scams
Ilustrasi Online Shopping Scams
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Belanja online kini menjadi bagian dari rutinitas. Mulai dari kebutuhan pokok, pakaian, hingga gadget, semua bisa dibeli hanya dengan satu klik. Marketplace besar menjanjikan keamanan, kemudahan, dan kecepatan. Tapi, di balik kemudahan itu, penipuan digital justru meningkat secara masif, menyasar konsumen awam yang belum paham betul cara mengenali risiko.

Kita cenderung percaya bahwa belanja online melalui platform besar seperti Tokopedia, Shopee, atau TikTok Shop selalu aman. Faktanya, laporan dari Kominfo tahun 2025 mencatat lebih dari 12.000 kasus penipuan belanja online dilaporkan, dan tidak semuanya terjadi di platform kecil.

Modus Baru, Korban Lama

Modus penipuan belanja online terus berkembang:

  • Toko palsu dengan rating tinggi hasil manipulasi.
  • Barang KW atau bekas dijual sebagai barang baru.
  • Tautan phishing di luar platform yang mengarahkan ke “tokoh-tokoh palsu”.
  • Pembayaran di luar sistem resmi marketplace dengan alasan “diskon tambahan”.

Semua trik ini mengeksploitasi kelemahan psikologis konsumen: tergoda harga murah, terburu-buru checkout saat flash sale, atau terlalu percaya testimoni yang sudah direkayasa.

Ironisnya, semakin maraknya diskon dan promo justru membuka celah lebih besar untuk kejahatan siber. Di balik euforia diskon 12.12 atau Harbolnas, banyak akun palsu memanfaatkan hype untuk menyebarkan tautan palsu dan menjebak pengguna yang tidak hati-hati.

Baca Juga:
  • Membedah Tren Pembelian Barang Palsu di Dunia Fashion
  • Mengapa Orang Kaya Rajin Berdonasi?
  • Dampak Anjloknya IHSG terhadap Ekonomi Indonesia
  • ASN BKN Boleh WFA 2 Hari Seminggu, Efisiensi Anggaran dan Uji Kinerja Digital

Edukasi Konsumen Masih Lemah

Salah satu akar masalah adalah rendahnya literasi digital konsumen. Banyak pengguna masih belum memahami bagaimana sistem escrow marketplace bekerja, bagaimana membaca kredibilitas toko, atau cara mengenali URL palsu.

Sayangnya, edukasi yang diberikan oleh platform sering hanya berupa pop-up atau pesan umum yang mudah diabaikan. Tidak ada intervensi sistemik yang mendalam padahal, kerugian akibat penipuan online bukan hanya materi, tapi juga trauma dan hilangnya kepercayaan pada sistem digital.

Tanggung Jawab Siapa?

Kita juga harus bertanya: sejauh mana tanggung jawab marketplace dalam kasus penipuan?

Sering kali, platform berdalih bahwa jika transaksi terjadi di luar sistem resmi (misal: transfer langsung ke penjual), maka kerugian adalah tanggung jawab konsumen. Tapi kenyataannya, banyak toko palsu dibiarkan eksis terlalu lama di dalam sistem karena kurangnya verifikasi ketat.

Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pengguna. Marketplace harus aktif menjadi pengawas, bukan sekadar perantara.

Artikel Terkait:
  • Kenapa Skill Jualan Jadi Kunci Hidup Mandiri
  • Isuzu Optimis Pangsa Pasarnya akan Naik 1,3 Persen
  • Ibu Rumah Tangga di Musi Banyuasin Raup Penghasilan dari Ternak Jangkrik
  • Hidup dari Dividen Saham? Ini Modal yang Kamu Butuhkan!

Belanja Online Harusnya Cerdas, Bukan Spekulatif

Konsumen juga perlu mengubah pola pikir. Belanja online bukan lagi sekadar soal “murah dan cepat”, tetapi harus dilihat sebagai interaksi digital yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Beberapa tips belanja online cerdas:

  • Selalu cek reputasi penjual dan ulasan produk.
  • Jangan tergoda harga yang terlalu murah.
  • Gunakan sistem pembayaran resmi (jangan transfer langsung).
  • Cek deskripsi dan foto produk secara detail.
  • Laporkan toko yang mencurigakan atau menipu.

Lebih dari itu, kita juga harus mulai menilai marketplace bukan hanya dari jumlah promo, tapi juga dari komitmen mereka terhadap keamanan dan perlindungan konsumen.

Praktis bukan Tanpa Risiko

Belanja online memang praktis, tapi bukan tanpa risiko. Penipuan yang semakin canggih menunjukkan bahwa keamanan digital harus berjalan seiring dengan kemudahan. Konsumen perlu diedukasi, dan platform perlu bertanggung jawab lebih besar.

Jangan Lewatkan:
  • Pabrik Semen Gresik Menjadi Objek Vital Nasional
  • Bank Mandiri Berkolaborasi Ciptakan Smart Financing untuk UKM
  • Gratis Ongkir Dibatasi, Saatnya Bisnis Logistik Lebih Sehat
  • Hindari 5 Jenis Orang Ini Jika Ingin Sukses dalam Bisnis

Karena pada akhirnya, kemajuan teknologi e-commerce harus tetap berpihak pada perlindungan pengguna, bukan hanya keuntungan penyedia.

Aman Belanja Belanja Online Literasi Digital Penipuan Marketplace Tips Ecommerce
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePramuka SMAN 23 Bone Gelar Musyawarah Ambalan 2026
Next Article Makna Kiai dalam Tradisi Jawa: Antara Simbol dan Ilmu

Informasi lainnya

Internet Penuh AI, Keaslian Jadi Barang Mahal

22 Agustus 2026

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

24 Juni 2026

Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber

9 Juni 2026

Membatasi Medsos, Mendidik Generasi

16 Maret 2026

Resonansi Orbit dan Gerhana Total

3 Maret 2026

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

26 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Menebus Dosa Ghibah Menurut Islam

Islami Ericka

Antara Harapan dan Kekecewaan

Editorial Udex Mundzir

Mindset Penghambat Investasi

Editorial Udex Mundzir

Asal Usul Istilah “Pedagang Kaki Lima”

Travel Assyifa

Mantan Presiden Bikin Gaduh

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Temaram di Khalifa

PB XIII Hangabehi Wafat, Takhta Keraton Surakarta Tunggu Pewaris Resmi

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi