Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Imam Dunia 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 29 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Perjalanan Pulang ke Samarinda: Di Bawah Langit Bontang yang Segar

SitiaisyahSitiaisyah26 September 2024 Travel
Perjalanan Bontang ke Samarinda
Siti Aisyah di Titik Nol Katulistiwa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Langit Bontang menyuguhkan udara segar yang lembut membelai wajah kami. Saya (Aisyah), bersama Udex dan Sukri, bersiap memulai perjalanan panjang kembali ke Samarinda, meninggalkan kota industri yang kini penuh kesibukan.

Mobil Brio kami melaju tepat pukul 08.30 WITA, dengan hati yang sedikit berat, mengingat Alfi tidak ikut serta kali ini. Alfi, bersama Aminah, Ericka, dan Ira Nurajijah, dijadwalkan bertugas di Bontang selama tiga bulan, meninggalkan kami untuk merampungkan tugas liputan lainnya di Samarinda.

Perjalanan kali ini, Kamis (26/9/2024) berbeda. Suasana pagi yang segar, ditemani iringan lagu-lagu pop dangdut dari radio mobil, mengiringi langkah kami keluar dari Bontang.

Jalanan lengang, hanya dipadati oleh antrean panjang mobil, truk, dan tronton di pom bensin yang kami lewati. Pemandangan ini tampak ironis di tanah Kalimantan Timur, penghasil minyak negeri, di mana warganya masih harus berjuang dalam antrean panjang untuk membeli bensin. Pak Sukri, yang tengah memegang kemudi, hanya tersenyum kecil, menganggukkan kepala mengikuti alunan musik.

“Antrean selalu begini ya, Pak?” tanya Udex memecah kesunyian di mobil.

“Iya, sudah biasa. Tapi tetap saja, bikin miris kalau lihatnya,” jawab Sukri sambil menghela napas.

Setiap kali kami melewati proyek perbaikan jalan, laju mobil sedikit melambat. Tanda-tanda perjalanan panjang ini semakin nyata ketika kami melewati Koramil Teluk Pandan, sebuah titik penting yang menandakan bahwa kami telah memasuki wilayah Kabupaten Kutai Timur.

Lalu lintas yang relatif sepi membuat kami nyaman, dengan laju konstan 60-80 km/jam. Hanya satu truk besar yang bergerak pelan di depan kami, seolah menjadi satu-satunya teman dalam perjalanan.

Di tengah perjalanan, suara Thomas Arya mendayu dalam lagu “Satu Hati Sampai Mati” di radio. Lagu ini seperti meresonansi rasa tenang yang kami rasakan saat menyusuri jalanan panjang dan berliku. Pengendara motor tanpa helm yang kami lewati menambah suasana sepi yang perlahan menyelimuti kami.

“Ah, lagu ini cocok banget buat suasana jalanan sepi kayak gini,” gumam Udex, menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menikmati suasana.

Baca Juga:
  • WNI Bisa Kunjungi 42 Negara Ini Tanpa Visa
  • Liburan Hemat ke Jepang untuk Pemula
  • Wae Rebo, Desa di Atas Awan yang Menyimpan Pesona Budaya dan Alam
  • Menyesap Filosofi di Balik Secangkir Teh Jepang

Tak lama kemudian, kami berhenti sebentar di Tugu Equator. Saya dan Udex turun untuk menikmati pemandangan Titik Nol Katulistiwa, sementara Pak Sukri memilih tetap di mobil, menikmati istirahat singkatnya.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan, melewati Masjid Abah Nanang, tempat kami sempat singgah saat perjalanan pergi beberapa hari lalu.

Namun, perjalanan tidak selamanya mulus. Matahari mulai terik, meski saya membuka sedikit kaca jendela untuk membiarkan udara segar masuk.

Jalanan yang mulai bergelombang dan penuh tikungan tajam membuat kami harus lebih waspada. Pak Sukri mengemudi dengan hati-hati, menghindari beberapa lubang yang tersebar di sepanjang jalan.

“Jalanan semakin rusak ya, padahal baru beberapa bulan lalu kayaknya belum separah ini,” kata Sukri sambil menghindari sebuah lubang besar di depan kami.

Di sisi lain jalan, kami melihat bus penumpang Gambut Barakat yang tampak kesulitan melewati antrean panjang truk di SPBU Desa Makarti. Pemandangan tersebut cukup sering terlihat di sepanjang jalanan Kalimantan Timur, terutama saat kendaraan-kendaraan besar mendominasi jalanan.

Di kiri dan kanan jalan, baliho kampanye mulai terlihat, menandakan tahun politik sudah dekat. Baliho Rudy Mas’ud dan Seno Aji dengan slogan “Gratispoll!” bersaing dengan baliho Isran Noor dan Hadi Mulyadi yang membawa jargon “Pahamlah Ikam?”

Selepas satu jam perjalanan, kami tiba di Desa Prangat, desa wisata yang terkenal dengan keindahannya. Kami berhenti sebentar di ATM BRI, namun sayangnya mesin ATM kosong.

“Mau ambil uang kok ya mesinnya habis,” keluh Sukri.

Artikel Terkait:
  • Keindahan Alam Jepang yang Mempesona di Setiap Musim
  • Cappadocia: Kota Bawah Tanah yang Membongkar Sejarah
  • Rekomendasi 10 Restaurant Terbaik di Jepang yang Harus Kamu Kunjungi!
  • Traveling Sendiri, Kenapa Tidak?

Kami pun melanjutkan perjalanan dan mampir di Warung #Eling untuk menyesap secangkir kopi hitam, favorit Sukri. Sementara itu, saya mengecek Google Maps, dan Samarinda masih berjarak sekitar 68 km lagi.

Pukul 10.40 WITA, gerbang kawasan Muara Badak terlihat. Ornamen Dayak yang menghiasi gerbang menambah keunikan perjalanan kami. Namun, cuaca mulai berubah. Langit yang semula cerah perlahan tertutup awan, dan tak lama kemudian hujan rintik mulai turun.

Jalanan yang basah membuat Pak Sukri semakin waspada. Udex, yang duduk di sampingnya, meminta untuk berhenti sejenak agar Sukri bisa beristirahat, menghindari bahaya microsleep yang mengintai.

“Jangan terlalu dipaksa, Pak. Sebentar lagi sampai, tapi lebih baik kita istirahat dulu,” ujar Udex dengan nada khawatir.

Sukri mengangguk setuju. Setelah beristirahat singkat di pinggir jalan, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan semangat yang lebih segar.

Samarinda semakin dekat. Perasaan lega mulai muncul saat kami melewati Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Airport, tanda bahwa kami sudah memasuki batas kota Samarinda.

Tepat pukul 11.30 WITA, kami akhirnya tiba di Samarinda. Jalanan yang lebih ramai dan deretan bangunan tinggi menyambut kedatangan kami. Perjalanan yang panjang ini berakhir dengan selamat, memberikan kami banyak pengalaman berharga sepanjang perjalanan.

Di kota ini, tugas baru sudah menanti saya bersama tim liputan lainnya—Intan, Adi, dan Adit.

Jangan Lewatkan:
  • Menembus Gelap
  • 5 Kota Dingin di Jawa Timur yang Cocok untuk Liburan
  • Samarinda ke Bontang: Di Atas Aspal Berliku, Menuju Kota di Ujung Timur
  • Eksotisme Gunung Papandayan, Surga Alam di Garut

Samarinda mungkin bukan akhir dari perjalanan ini, tetapi ini adalah persinggahan penting bagi kami.

Seiring langkah kami yang terus berlanjut, satu hal yang pasti: perjalanan panjang di Kalimantan Timur ini meninggalkan kesan mendalam, mengingatkan kami akan indahnya alam dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di sepanjang jalanan yang kami tempuh.

“Alhamdulillah, sampai juga,” ujar Pak Sukri sambil tersenyum puas, menutup perjalanannya dengan rasa syukur.

Bontang-Samarinda Kabupaten Kutai Kartanegara Mohammad Sukri Titik Nol Katulistiwa Wisata Bontang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTren Makanan Sehat di 2024
Next Article Gen Z Perlu Hati yang Bersih untuk Hadapi Tantangan Zaman

Informasi lainnya

Sosok Pembina Jurnalis Kaltim Sukri Tutup Usia

16 April 2026

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

13 April 2026

Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama

12 April 2026

Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji

12 April 2026

Menikmati Senja dari Shibuya Sky Tokyo

11 April 2026
Paling Sering Dibaca

XL dan Smartfren Merger, Bagaimana ‘Nasib’ Pelanggan?

Techno Silva

Memilih Menteri

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Federal Oil Gelar Acara Pasca Peluncuran Gresini Racing MotoGP

Bisnis Alfi Salamah

Rahasia Packing Cerdas untuk Liburan 1 Minggu

Travel Alfi Salamah

Bingung Mau Liburan Kemana? Yuk Nikmati Keindahan Wisata Alam Musim Panas di Nikko Jepang

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi