Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

Gen Z Mulai Bosan dengan Aplikasi Kencan

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 24 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Prabowo Masih Takut Bayang-Bayang Jokowi

Stabilitas tanpa keberanian politik hanya akan memperpanjang warisan yang belum tentu sesuai dengan visi pemerintahan baru.
Udex MundzirUdex Mundzir7 Agustus 2025 Editorial
Jokowi prabowo
Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk merombak jajaran kabinet Merah Putih dalam waktu dekat. Penegasan itu disampaikan dengan lugas dalam pertemuan resmi di Istana pada 7 Agustus 2025. Ia menyebut bahwa para menterinya bekerja dengan baik, solid, dan produktif.

Pernyataan ini muncul di tengah menguatnya spekulasi publik bahwa reshuffle sudah mendekat, terutama karena tekanan dari sejumlah kelompok politik yang menilai beberapa pos kementerian masih diisi oleh figur yang tidak sejalan dengan visi kepemimpinan Prabowo.

Tetapi publik bukan hanya menilai performa teknis para menteri. Yang lebih mendalam adalah persoalan legitimasi arah pemerintahan. Apakah Presiden Prabowo benar-benar sudah mengambil kendali politik penuh, atau masih berada di bawah bayang-bayang warisan Jokowi?

Pernyataan Prabowo yang menyebut bahwa kinerja kabinet “mendekati sempurna” bukan hanya terasa berlebihan, tetapi juga menunjukkan bahwa ia masih enggan mengambil langkah korektif terhadap struktur kekuasaan yang dibentuk sebelum dirinya menjabat.

Tidak bisa dimungkiri bahwa banyak posisi strategis di kabinet saat ini masih diisi oleh orang-orang yang secara politis merupakan titipan kekuatan lama. Mereka bukan bagian dari koalisi yang memenangkan Prabowo dalam Pilpres 2024, tetapi masih memegang posisi penting seolah-olah tidak pernah terjadi pergantian kekuasaan.

Inilah titik persoalan yang sesungguhnya. Bukan soal reshuffle sebagai simbol, tapi soal keberanian mengambil keputusan strategis untuk memutus ketergantungan terhadap figur lama yang pengaruhnya masih membayangi pemerintahan.

Ketika Prabowo menyebut bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi tetapi tidak cukup alasan untuk melakukan reshuffle, itu bisa dibaca sebagai sinyal bahwa dirinya lebih mengutamakan harmoni elite dibanding kemauan rakyat.

Baca Juga:
  • Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?
  • QR Warung dan Ketakutan Amerika
  • Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat
  • Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?

Padahal, dalam konteks demokrasi, kehendak publik semestinya menjadi kompas utama. Dan kehendak itu sudah cukup jelas sejak pemilu lalu: rakyat ingin arah baru, bukan sekadar kesinambungan tanpa evaluasi.

Dengan tidak melakukan reshuffle, Prabowo memberi kesan bahwa ia memilih kenyamanan politik di atas reformasi struktural. Ia tampak belum siap mengambil risiko politik dengan menyingkirkan menteri yang tidak lagi relevan atau bahkan kontraproduktif dengan agenda pemerintahannya sendiri.

Ketegasan yang diucapkan belum tentu berarti keberanian. Dalam politik, ada kalanya ketegasan justru menjadi alat untuk menolak tanggung jawab.

Jika Presiden Prabowo benar-benar percaya bahwa kepemimpinannya harus berdiri di atas pondasi yang kokoh, maka ia tidak boleh terus bergantung pada arsitektur kekuasaan yang disusun oleh pendahulunya. Setiap pemimpin yang ingin menciptakan legacy sendiri, harus mulai dari keberanian memutus mata rantai ketergantungan itu.

Reshuffle kabinet bukan soal gonta-ganti posisi. Ini adalah soal konsolidasi arah pemerintahan. Bila menteri-menteri yang selama ini menjadi simbol kompromi politik dibiarkan tetap berada dalam kekuasaan, maka visi Prabowo—apa pun bentuknya—tidak akan pernah bisa diterjemahkan secara efektif.

Lebih dari itu, membiarkan wajah-wajah lama tetap mengisi pos kunci adalah bentuk pelemahan simbolik terhadap mandat rakyat. Rakyat tidak memilih Prabowo untuk melanjutkan kepatuhan terhadap sistem lama yang penuh kompromi, melainkan untuk melakukan koreksi dan mengambil alih kendali.

Artikel Terkait:
  • Pemblokiran Rekening Tanpa Akal
  • Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?
  • Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’

Stabilitas memang penting. Tetapi stabilitas tanpa keberanian hanya akan memperpanjang status quo. Dan status quo bukanlah hal yang diinginkan rakyat ketika mereka memilih perubahan.

Presiden Prabowo masih memiliki waktu dan kekuatan politik untuk mengoreksi arah. Tetapi waktu itu tidak selamanya tersedia. Setiap bulan tanpa perubahan, akan memperkuat kesan bahwa Prabowo hanya menjadi kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya, dengan wajah berbeda tapi isi yang sama.

Jika reshuffle ditunda terus-menerus dengan alasan kinerja yang “baik-baik saja”, maka publik akan bertanya: apakah ini benar-benar pemerintahan baru, atau hanya kelanjutan dari pemerintahan lama yang diperhalus?

Editorial ini bukan untuk mendikte langkah politik Presiden. Tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuasaan yang tidak digunakan dengan keberanian akan segera kehilangan makna.

Prabowo adalah presiden yang dipilih secara sah oleh rakyat. Maka sudah semestinya ia menjalankan mandat itu dengan kemandirian penuh, termasuk dalam menyusun tim kerja yang benar-benar mewakili visinya.

Jangan Lewatkan:
  • Refleksi Kemenangan dan Kekalahan dalam Pilkada 2024
  • Di Balik Pagar yang Menyandera Laut
  • Lumbung Korupsi dalam Demokrasi yang Terganjal
  • Jangan Lempar Beban ke Rakyat

Menunda reshuffle adalah menunda kejelasan arah. Dan bangsa ini sudah cukup lama hidup dalam ketidakjelasan.

Jokowi Prabowo Kabinet Merah Putih Politik Nasional Prabowo Subianto Reshuffle Menteri
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleTerpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan
Next Article KPK Ungkap Dugaan Keterlibatan Travel dalam Korupsi Kuota Haji

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Anak dan Sepak Bola: Jembatan Simbolik di Piala AFF 2024

Happy Assyifa

Gen Z dan Tantangan Tanpa Ponsel

Profil Alfi Salamah

Gunung Galunggung Tetap Tenang dan Menawan

Travel Alfi Salamah

Bayang Luhut di Tubuh Prabowo

Editorial Udex Mundzir

Panduan Memilih dan Merawat Ban Motor untuk Keselamatan Berkendara

Techno Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi