Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sudah Kerja Keras, Mengapa Sukses Belum Juga Datang?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 16 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengakhiri Bayang Jokowi

Pemerintahan baru tidak akan tegak bila terus dibebani titipan lama.
Udex MundzirUdex Mundzir4 September 2025 Editorial
Mengakhiri Bayang Jokowi di Era Prabowo.
Joko Widodo (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

September 2025 menjadi titik ujian serius. Gelombang protes yang melanda Jakarta dan berbagai daerah memperlihatkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan dan wajah politik nasional. Di tengah kericuhan itu, muncul wacana tentang “upaya adu domba” antara Presiden Prabowo dan mantan Presiden Joko Widodo. Narasi ini datang dari Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI sekaligus putra bungsu Jokowi.

Namun, publik punya tafsir berbeda. Bagi rakyat, masalah bukanlah soal siapa mengadu domba siapa. Persoalannya jauh lebih sederhana: rakyat tidak ingin mantan presiden terlalu jauh ikut campur urusan pemerintahan yang kini sah dipimpin Prabowo Subianto. Campur tangan itu, baik berupa menitipkan orang dekat di kabinet maupun menjaga pengaruh politik melalui jaringan relawan, hanya akan mengganggu kemandirian pemerintahan baru.

Sejak awal, transisi kekuasaan dari Jokowi ke Prabowo bukan transisi yang mulus. Prabowo menang dalam Pilpres, tetapi bayang Jokowi masih terasa. Beberapa menteri warisan Jokowi dipertahankan, sebagian pejabat strategis tetap bercokol, dan sejumlah program lama diteruskan. Awalnya dianggap wajar, demi kontinuitas. Namun, belakangan terlihat jelas keberadaan “orang titipan” justru menimbulkan polemik dan memperlebar jurang ketidakpercayaan rakyat.

Masyarakat menyaksikan sendiri, beberapa menteri sibuk mengamankan citra lama ketimbang bekerja untuk visi presiden baru. Program ekonomi yang menyusahkan rakyat dibiarkan berjalan, padahal Presiden Prabowo sudah berulang kali menekankan perlunya kebijakan pro-rakyat. Rakyat menilai, ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan tanda bahwa bayang Jokowi masih mengikat.

Dalam logika politik, setiap presiden berhak menentukan siapa yang membantunya. Tidak ada larangan menaruh orang lama, asalkan kompeten dan loyal pada visi baru. Masalah muncul ketika orang lama itu justru membawa agenda sendiri, lebih tunduk pada patron lama ketimbang presiden yang sedang menjabat. Inilah yang menimbulkan keresahan rakyat, pemerintah seakan tidak sepenuhnya mandiri.

Tudingan “adu domba” hanyalah cara mengalihkan isu. Faktanya, rakyat tidak sedang membenturkan Jokowi dan Prabowo. Rakyat hanya menolak dominasi berlebihan mantan presiden yang sudah seharusnya pensiun dari panggung eksekutif. Setelah dua periode memimpin, Jokowi mestinya menjadi negarawan dengan menjaga jarak, memberi ruang bagi penerus, dan mendukung dari belakang layar tanpa intervensi.

Baca Juga:
  • Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu
  • Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata
  • Politik Warisan yang Membelit
  • Sekolah Jam 6, Jam Malam Jam 9

Sayangnya, tanda-tanda itu tidak terlihat. Relawan Jokowi masih aktif membuat pernyataan politik. Beberapa mantan menteri Jokowi masih terlihat lebih sibuk melayani kepentingan lama ketimbang mendukung presiden baru. Bahkan, Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang kini menjabat wakil presiden, seringkali diposisikan sebagai simbol dinasti yang menekan manuver Prabowo. Wajar bila publik semakin gerah.

Secara politik, Prabowo perlu membaca tanda zaman ini dengan cermat. Legitimasi rakyat bukan hanya ditentukan oleh hasil pemilu, tetapi juga oleh kemampuan menjauhkan diri dari bayangan masa lalu. Jika Prabowo terlalu lama menoleransi dominasi orang Jokowi, ia akan terlihat lemah. Padahal, rakyat menaruh harapan besar agar ia memimpin dengan gaya sendiri yang tegas, berdaulat, dan berpihak.

Secara hukum, tidak ada aturan yang melarang mantan presiden berkomentar atau menitipkan orangnya. Namun, secara etika politik, campur tangan berlebihan adalah bentuk pelecehan terhadap demokrasi. Pemilu adalah mekanisme suksesi yang harusnya memutus mata rantai kekuasaan personal. Jika setelah pemilu, mantan presiden tetap mengatur, maka demokrasi berubah menjadi panggung dinasti.

Secara sosial, keberlanjutan bayangan Jokowi hanya memperburuk polarisasi. Rakyat yang lelah dengan gaya kepemimpinan lama merasa tidak mendapatkan perubahan. Mereka justru menghadapi kebijakan lama yang dibungkus wajah baru. Demo yang meluas akhir Agustus adalah bukti nyata: rakyat tidak lagi sabar menunggu, mereka ingin perubahan nyata.

Rakyat bukan pion yang bisa diatur dengan narasi adu domba. Mereka punya kesadaran sendiri. Mereka tahu membedakan antara kritik tulus terhadap campur tangan Jokowi dengan upaya menghasut Prabowo. Yang mereka inginkan jelas: presiden baru harus bebas dari bayang lama, dan berani membersihkan lingkaran kekuasaan dari orang-orang yang menghambat.

Artikel Terkait:
  • Mindset Penghambat Investasi
  • Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas
  • Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas
  • UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang

Karena itu, Prabowo harus segera mengambil langkah konkret. Pertama, lakukan perombakan kabinet. Menteri atau pejabat warisan Jokowi yang gagal menunjukkan keberpihakan kepada rakyat harus dicopot. Jangan menunggu sampai mereka menimbulkan krisis lebih besar. Kedua, Prabowo harus menegaskan garis komando: semua pejabat hanya tunduk pada presiden yang sah, bukan pada patron lama.

Ketiga, hentikan pola komunikasi politik yang membuat publik bingung. Prabowo perlu menyampaikan langsung kepada rakyat bahwa ia memimpin secara independen. Bahwa tidak ada figur lain yang mengendalikan pemerintahan. Dengan begitu, isu campur tangan bisa diredam, dan legitimasi politiknya semakin kuat.

Keempat, dorong mantan presiden untuk menempuh jalur kenegarawanan sejati. Jokowi punya ruang luas untuk berkontribusi di bidang sosial, lingkungan, atau diplomasi internasional. Tetapi dalam politik praktis, sebaiknya ia menahan diri. Rakyat akan lebih menghargainya bila ia menjaga jarak, bukan malah mencampuri.

Sejarah membuktikan, banyak negara gagal karena mantan pemimpin tidak rela melepas bayangannya. Suksesi yang seharusnya jadi momentum pembaruan justru berubah jadi krisis. Indonesia tidak boleh mengulang kesalahan itu. Kita butuh stabilitas, dan stabilitas hanya mungkin jika presiden baru diberi ruang penuh untuk memimpin.

Prabowo punya pilihan jelas: tetap bertahan di bawah bayang Jokowi, atau keluar dan berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat jelas menghendaki opsi kedua. Sebab, hanya dengan mandiri, pemerintahan ini bisa benar-benar menjawab kebutuhan rakyat, bukan melanjutkan kepentingan masa lalu.

Jangan Lewatkan:
  • Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat
  • Taman di Jakarta akan Dibuka 24 Jam, Siapa yang Jaga?
  • Relawan Muda di Arus Mudik
  • Ladang Ganja di Bromo: Polisi Tidak Tahu atau Tutup Mata?

Mengakhiri bayang Jokowi bukan soal konflik pribadi. Ini soal etika, soal demokrasi, soal hak rakyat untuk mendapatkan kepemimpinan yang utuh. Dan itu hanya mungkin jika Prabowo berani mengambil langkah tegas sekarang.

Bayang Kekuasaan Demokrasi Indonesia Jokowi Prabowo Reformasi Politik
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleWagub Kaltim Larang Pejabat Pamer Kemewahan di Medsos
Next Article Jokowi, Mengapa Masih Ikut Campur?

Informasi lainnya

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

10 Oktober 2026

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Intip 5 Universitas Paling Bergengsi di Korea Selatan

Daily Tips Ericka

Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi

Editorial Udex Mundzir

Peraturan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Indonesia

Techno Ericka

Bingung Mau Liburan Kemana? Yuk Nikmati Keindahan Wisata Alam Musim Panas di Nikko Jepang

Travel Alfi Salamah

Lepaskan Ketegangan, Raih Kedamaian

Daily Tips Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi