Banyak milenial tumbuh dengan prinsip: “hemat pangkal kaya.” Sejak kecil, kita diajarkan untuk menabung di celengan, buku tabungan, atau rekening bank. Prinsip ini dianggap kunci sukses finansial. Tapi kenyataan hari ini sangat berbeda: menabung saja tidak cukup.
Di tengah inflasi, krisis ekonomi, dan naiknya biaya hidup, menaruh uang di tabungan tanpa strategi jelas hanya membuat nilainya menyusut. Investasi kini bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Namun sayangnya, kesadaran ini belum menyeluruh terutama di kalangan pekerja muda urban yang merasa gajinya “pas-pasan.”
Realita Keuangan Milenial Hari Ini
Menurut data OJK (2025), sebanyak 68% milenial Indonesia belum memiliki produk investasi formal. Mayoritas hanya menyimpan uang di rekening biasa atau tabungan darurat, yang suku bunganya bahkan kalah dari laju inflasi tahunan (rata-rata 3,5%-4%).
Akibatnya?
- Nilai uang terus menurun seiring waktu.
- Tidak ada pertumbuhan kekayaan jangka panjang.
- Milenial makin sulit mengejar mimpi finansial seperti punya rumah, dana pensiun, atau pendidikan anak.
Menabung Itu Aman, Tapi Stagnan
Menabung memang aman tidak berisiko kehilangan pokok dana. Tapi itu juga yang membuatnya tidak berkembang. Dalam 5 tahun, uang Rp10 juta di rekening bisa tetap Rp10 juta (atau naik sedikit karena bunga), tapi daya belinya menurun.
Bandingkan dengan investasi yang terkelola baik: reksa dana pasar uang, saham bluechip, emas digital, atau bahkan obligasi negara. Semua punya risiko, ya tapi juga punya potensi hasil yang jauh melampaui sekadar menabung.
Milenial Butuh Mindset Baru
Satu alasan kuat mengapa banyak milenial enggan berinvestasi adalah takut rugi dan kurang informasi. Ditambah lagi, sistem pendidikan formal jarang membekali generasi muda dengan pemahaman finansial praktis.
Padahal, kini sudah banyak aplikasi investasi yang user-friendly, mulai dari Rp10.000, dengan fitur edukatif. Bahkan beberapa platform mengintegrasikan konten edukasi + simulasi risiko, agar pengguna belajar sambil praktik.
Solusi bukan menghapus menabung, tapi menjadikan menabung sebagai langkah awal menuju investasi. Menabung untuk dana darurat, lalu mengalokasikan sisanya untuk instrumen yang memberi hasil jangka panjang.
Perlu Regulasi dan Edukasi yang Seimbang
Pemerintah dan sektor swasta harus lebih aktif dalam mengedukasi masyarakat muda tentang literasi finansial. Bukan hanya seminar sekali waktu, tapi integrasi kurikulum keuangan dalam pendidikan tinggi dan program kerja.
Selain itu, perlu pengawasan ketat terhadap platform investasi bodong yang justru merusak kepercayaan masyarakat. Kita butuh ekosistem investasi yang aman, transparan, dan inklusif.
Sebagai Pondasi Awal
Menabung tetap penting, tapi hanya sebagai pondasi awal. Di era ketidakpastian seperti sekarang, milenial harus lebih cerdas mengelola uang dengan memadukan tabungan dan investasi. Karena jika tidak, impian finansial hanya akan jadi wacana, sementara waktu dan nilai uang terus berkurang.
