Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?

Tradwife Kembali Ramai, Pilihan atau Romantisasi?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 3 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mendirikan Yayasan, Cara Orang Kaya Menata Warisan Sosial

Antara kepedulian publik, strategi filantropi, dan keabadian nama di ruang sosial.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati20 Januari 2026 Ekonomi
Mendirikan Yayasan, Cara Orang Kaya Menata Warisan Sosial
Ilustrasi Bill Gates, pemilik Gates Foundation, yayasan terbesar di dunia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di tengah jurang ketimpangan ekonomi yang kian terasa, para miliarder dunia justru ramai mendirikan yayasan. Seperti menanam jejak di tanah yang lebih luas dari rekening pribadi, yayasan menjadi cara baru orang kaya menata warisan sosial mereka, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan yang ingin mereka bentuk.

Fenomena ini terlihat dari berbagai yayasan besar yang didirikan tokoh-tokoh super kaya dunia. Salah satu yang paling sering disorot adalah Bill & Melinda Gates Foundation milik Bill Gates, yang dikenal aktif di bidang kesehatan global, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.

Yayasan ini tercatat memiliki aset puluhan miliar dolar AS dan menjadi rujukan utama filantropi modern. Praktik serupa juga dilakukan oleh Elon Musk melalui Elon Musk Foundation yang berfokus pada riset ilmiah, energi bersih, hingga kecerdasan buatan, serta Jeff Bezos lewat Bezos Earth Fund yang mengalokasikan komitmen miliaran dolar untuk memerangi krisis iklim.

Di Indonesia, pola tersebut tercermin melalui Tanoto Foundation milik Sukanto Tanoto yang menitikberatkan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta Djarum Foundation yang aktif dalam pengembangan sosial, olahraga, dan pelestarian lingkungan. Deretan contoh ini memperlihatkan bahwa yayasan bukan sekadar simbol kedermawanan, melainkan instrumen strategis dalam pengelolaan kekayaan.

Bagi kalangan super kaya, mendirikan yayasan merupakan cara terstruktur untuk menyalurkan dana agar berdampak jangka panjang. Filantropi tidak lagi dimaknai sebagai donasi sesaat, melainkan sebagai intervensi sosial yang dirancang dengan perencanaan, indikator keberhasilan, dan visi berkelanjutan.

Baca Juga:
  • Coretax Gangguan, Wamenkeu Akui Tak Tahu Kapan Selesai Diperbaiki
  • Diskon Listrik 50 Persen Kembali Diberlakukan Mulai 1 Juni 2025
  • Prabowo: Investasi Besar Siap Masuk Indonesia Tahun Ini
  • Friderica Widyasari Pimpin OJK, Pasar Dinilai Stabil

Riset Bank of America menunjukkan bahwa banyak donatur besar menilai keberhasilan filantropi dari perubahan yang bertahan lama, bukan dari besarnya dana yang dikeluarkan dalam waktu singkat.

“Beramal menuntut orang kaya untuk memikirkan kebutuhan dan posisi mereka yang tidak memiliki apa yang mereka miliki,” ujar Melanie Musson, pakar keuangan dari InsuranceProviders.com.

Pernyataan tersebut menggambarkan kesadaran akan jarak sosial yang kerap muncul ketika seseorang berada di puncak piramida ekonomi. Melalui yayasan, para miliarder berupaya menjembatani jarak tersebut dengan menyediakan akses pendidikan, layanan kesehatan, peluang kerja, hingga program pemberdayaan komunitas.

Dalam banyak kasus, yayasan juga menjadi ruang pertemuan lintas kelas yang memungkinkan transfer pengetahuan, jejaring, dan pengalaman.

Namun, di balik dampak positifnya, keberadaan yayasan orang kaya juga memunculkan kritik. Dari sisi fiskal, sumbangan ke yayasan kerap memberikan keuntungan pajak, baik dalam bentuk pengurangan pajak penghasilan maupun pajak warisan. Selain itu, praktik hak penamaan gedung, fasilitas publik, atau institusi pendidikan sering dipandang sebagai upaya penciptaan status sosial dan keabadian simbolik.

Artikel Terkait:
  • Daya Saing Indonesia Merosot 13 Peringkat, Efisiensi Pemerintah Jadi Sorotan
  • BEI Bahas Tiga Opsi Perpanjangan Jam Perdagangan Saham
  • Presiden Prabowo Pastikan BHR Ojol 2025, Besaran Ditentukan Aplikator
  • Zulhas: Pembangunan Pangan Indonesia Tertinggal 27 Tahun

Sejumlah akademisi menilai filantropi sebagai bentuk kekuasaan lunak. Melalui yayasan, pemilik modal dapat memengaruhi arah riset, kebijakan sosial, bahkan wacana publik, tanpa mekanisme akuntabilitas yang seketat lembaga negara. Minimnya transparansi dan dominasi kepentingan donor menjadi tantangan tersendiri yang perlu diawasi.

Meski demikian, banyak institusi dan komunitas tetap memandang yayasan sebagai mitra penting dalam menjawab persoalan sosial yang belum tertangani secara optimal. Di tengah keterbatasan anggaran publik, kehadiran yayasan kerap menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, mendirikan yayasan bagi orang kaya adalah cara menata warisan sosial. Ia berdiri di antara idealisme kepedulian dan realitas kepentingan, menghadirkan manfaat sekaligus pertanyaan kritis. Di sanalah filantropi menemukan wajah aslinya: bukan hitam atau putih, melainkan ruang abu-abu tempat kekayaan, niat baik, dan kekuasaan saling berkelindan.

Jangan Lewatkan:
  • THR dan Gaji ke-13 ASN 2025, Kapan Cair?
  • Airlangga dan Luhut Berbeda Sikap Soal Kenaikan PPN 12%
  • Setop Impor Garam, Produksi Domestik Baru 63% dari Kebutuhan
  • Dato Sri Tahir: Purbaya Sosok Tepat Atasi Tantangan Ekonomi Nasional

Ekonomi Sosial Orang Kaya Strategi Kekayaan Warisan Sosial Yayasan Filantropi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKuliner Viral 2026, Sekadar Gaya?
Next Article Maraknya Child Grooming, Kurikulum Pendidikan Disorot

Informasi lainnya

Dapur Warga Bakal Berubah? Pemerintah Siapkan Gas Pengganti LPG

7 Mei 2026

Ekonomi RI Tembus 5,61 Persen pada Awal 2026

6 Mei 2026

Tagihan Listrik April Melonjak, PLN Tegaskan Tarif Tetap

5 Mei 2026

Sertifikasi Halal 2026 Kian Ketat, UMKM Harus Siap Total

26 April 2026

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

25 April 2026

Tarif Listrik April 2026 Tetap, Daya Beli Dijaga

22 April 2026
Paling Sering Dibaca

Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata

Travel Alfi Salamah

Jamaah Laksanakan Safari Wukuf, Puskes Haji akan Skrining

Islami Alfi Salamah

Mengenal IHSG: Indeks Utama Pasar Saham Indonesia

Bisnis Ericka

Relawan Muda di Arus Mudik

Editorial Lisda Lisdiawati

Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Indonesia
Udex Mundzir19 April 2025

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Kebun Mini Super Kilat di Rumah

Gempa M7,7 Flores Tewaskan 38 Orang, Tsunami 94 Cm

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi