Di tengah semarak Ramadan, SMPN 1 Cisayong menghadirkan kegiatan bertema “Ekspedisi Jejak Hewan dalam Al-Qur’an” sebagai ruang belajar yang tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai keimanan, kolaborasi, dan kepemimpinan sejak dini.
Salah satu kelompok yang mencuri perhatian adalah Kelompok Bambu. Nama yang sederhana, tetapi sarat makna dan filosofi. Di baliknya, tersimpan semangat kebersamaan dan ketangguhan yang menjadi identitas tim.
Pemilihan nama Bambu bukan tanpa alasan. Bambu dikenal sebagai tanaman yang kuat dan tahan banting saat diterpa angin kencang. Filosofi ini menggambarkan harapan agar anggota tim tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Bambu tidak kaku. Ketika angin bertiup kencang, ia melengkung mengikuti arah, tetapi tetap berdiri tegak setelah badai berlalu. Nilai ini mengajarkan fleksibilitas dalam berpikir dan bertindak tanpa kehilangan tujuan utama.
Dalam dinamika kegiatan Ramadan yang padat, sikap lentur menjadi kunci. Diskusi, presentasi, hingga eksplorasi kisah-kisah hewan dalam Al-Qur’an menuntut kemampuan beradaptasi. Kelompok Bambu menunjukkan bahwa keteguhan tidak selalu berarti keras, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.
Bambu juga jarang tumbuh sendirian. Ia tumbuh dalam rumpun, dengan akar-akar yang saling mengikat di bawah tanah. Ikatan inilah yang melambangkan kekuatan solidaritas dalam kelompok.

Kebersamaan menjadi fondasi utama Kelompok Bambu. Mereka saling mendukung, berbagi peran, dan menguatkan satu sama lain selama kegiatan berlangsung. Nilai persatuan itu terasa nyata dalam setiap proses yang mereka jalani.
Bambu tumbuh beruas-ruas, menandakan perkembangan yang bertahap dan terstruktur. Filosofi ini selaras dengan proses belajar yang tidak instan. Setiap tahap dilalui dengan disiplin dan kesabaran.
Dalam ekspedisi ini, para peserta diajak menelusuri kisah hewan-hewan dalam Al-Qur’an. Kisah tentang semut yang disiplin, lebah yang produktif, hingga burung Ababil yang menjadi simbol pertolongan Allah, menjadi bahan refleksi mendalam.
Melalui pendekatan tematik, kegiatan ini menggabungkan unsur spiritual, sosial, dan edukatif. Peserta tidak hanya menghafal kisah, tetapi memahami pesan moral di baliknya. Inilah yang membuat kegiatan Ramadan di SMPN 1 Cisayong terasa lebih bermakna.
Ketua Kelompok Bambu adalah Keisya Zahara Putri Irawan. Lahir di Tasikmalaya pada 14 Juni 2011, Keisya dikenal sebagai pribadi yang aktif dan berprestasi. Ia merupakan siswi SD N 3 Gunung Sari yang memiliki cita-cita menjadi dokter spesialis anak.
Sebagai pemimpin tim, Keisya menunjukkan karakter tangguh sekaligus empatik. Ia mampu mengarahkan anggota kelompok dengan pendekatan persuasif dan penuh semangat. Kepemimpinan yang ia tunjukkan mencerminkan filosofi bambu itu sendiri.
Keisya aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari Sakseni atau Seni Musik, Basket, Tahfidz, PIK-R, hingga PD Sunda atau Aksara Sunda. Aktivitas yang beragam ini membentuknya menjadi pribadi yang disiplin dan terbuka terhadap pengalaman baru.
Dalam kesan dan pesannya, Keisya mengungkapkan kebahagiaannya mengikuti kegiatan ini. Ia merasa belajar banyak tentang kisah-kisah hewan dalam Al-Qur’an yang mengajarkan keimanan dan kekuasaan Allah.
Menurutnya, kehadiran kakak-kakak dari Pesantren Pramuka Khalifa memberikan pengalaman berbeda. Ilmu yang dibagikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Keisya berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut. Ia ingin agar tahun depan Pesantren Pramuka Khalifa kembali hadir untuk berbagi ilmu dan pengalaman luar biasa kepada siswa-siswi SMPN 1 Cisayong.
Harapan itu bukan sekadar formalitas. Ia melihat kegiatan ini sebagai ruang pembentukan karakter yang efektif. Di tengah tantangan era digital, pembinaan nilai spiritual menjadi kebutuhan mendesak.
Anggota Kelompok Bambu terdiri dari Raysa, Desi, Ulfi, Nazma, Amanda, Nisa, Intan, Jahira, Atiyah, Nayshila, Felycia, Diva, Adelia, Nuril, Ineu, Tahira, Mesya, Indira, dan Syahla. Keberagaman karakter mereka menjadi kekuatan tersendiri.

Masing-masing anggota membawa potensi unik. Ada yang unggul dalam presentasi, ada yang teliti dalam merangkum materi, dan ada pula yang piawai membangun suasana tim tetap kompak. Sinergi inilah yang membuat kelompok berjalan solid.
Dalam konteks sosial, kegiatan ini memperkuat hubungan antara sekolah dan lembaga pesantren. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan sinergi berbagai pihak.
Secara budaya, pengenalan kisah hewan dalam Al-Qur’an juga memperkaya wawasan literasi religius siswa. Mereka belajar bahwa ajaran Islam sarat dengan simbol dan hikmah yang relevan sepanjang zaman.
Dari sisi psikologis, kegiatan berbasis kelompok melatih kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi. Setiap anggota diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan belajar menghargai pandangan orang lain.
Ekspedisi ini juga menumbuhkan kesadaran ekologis. Kisah lebah dan semut, misalnya, mengajarkan pentingnya kerja sama dan keseimbangan alam. Nilai ini relevan dengan isu lingkungan yang semakin mendesak.
Bagi SMPN 1 Cisayong, kegiatan Ramadan ini menjadi investasi jangka panjang. Sekolah tidak hanya mencetak siswa cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak dan berjiwa pemimpin.
Sementara bagi Pesantren Pramuka Khalifa, kegiatan ini menjadi bagian dari dakwah edukatif. Dakwah yang disampaikan melalui pendekatan kreatif dan membumi, sehingga mudah diterima generasi muda.
Keisya dan timnya berharap kedua lembaga ini semakin maju. Mereka ingin melihat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian sosial tinggi.
Kelompok Bambu membuktikan bahwa filosofi sederhana dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun tim. Ketangguhan, fleksibilitas, solidaritas, dan pertumbuhan bertahap menjadi nilai yang mereka praktikkan secara nyata.
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual. Ia menjadi ruang pembelajaran karakter yang konkret. Melalui ekspedisi ini, siswa diajak membaca tanda-tanda kebesaran Allah dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
Kelompok Bambu telah menunjukkan bahwa belajar bisa menyenangkan sekaligus bermakna. Mereka tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi menghidupi nilai yang dipelajari.
Pada akhirnya, profil Kelompok Bambu adalah potret generasi muda yang bertumbuh dalam kebersamaan. Lentur namun kokoh, sederhana namun kuat.
Mereka adalah rumpun yang saling mengikat, siap menghadapi angin perubahan zaman. Dan seperti bambu, mereka akan terus tumbuh, tahap demi tahap, menuju cita-cita yang tinggi dengan akar iman yang kuat.
