Jakarta – Seperti menyalakan lilin di tengah ruang digital yang luas, Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui platform MOOC Pintar. Program ini menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai cinta sebagai fondasi dalam pendidikan dan pelayanan keagamaan di era modern.
Pelatihan ini dibuka untuk aparatur sipil negara (ASN) serta masyarakat umum dengan masa pendaftaran berlangsung sejak Kamis (17/4/2026) hingga Selasa (21/4/2026). Adapun pelaksanaan program dijadwalkan mulai 22 April 2026 sampai 28 April 2026. Peserta dapat mendaftar secara daring melalui platform resmi pintar.kemenag.go.id, yang dirancang untuk memberikan akses luas tanpa batasan geografis.
Kepala Pusbangkom SDM Pendidikan Keagamaan Kemenag, Mastuki, menjelaskan bahwa meskipun dilaksanakan secara daring, kualitas pelatihan tetap dijaga setara dengan pembelajaran tatap muka. Ia menekankan bahwa materi yang disusun telah melalui perencanaan matang agar tetap relevan dan berdampak bagi peserta.
“Meskipun pelatihan dilakukan secara online, kami menjamin kualitas kontennya sangat bermutu,” ujar Mastuki dalam keterangan resminya pada Ahad (19/4/2026).
Program pelatihan ini mengusung dua pilar utama. Pertama, peserta akan mempelajari filosofi Kurikulum Berbasis Cinta dalam perspektif Islam. Kedua, peserta akan mendalami konsep Panca Cinta melalui metode ARKA yang mencakup Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi. Metode ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Program ini disusun secara sistematis untuk mentransformasi pola pikir ASN melalui dua pilar utama: materi dasar yang membahas filosofi cinta dalam Islam serta materi inti di mana peserta akan mendalami Panca Cinta melalui metode ARKA atau Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi,” kata Mastuki.
Lebih dari sekadar pelatihan, program ini menjadi bagian dari upaya Kemenag dalam mendorong transformasi budaya kerja yang lebih humanis dan berorientasi pada nilai-nilai keagamaan yang inklusif. Dengan pendekatan berbasis cinta, diharapkan para ASN dapat memberikan pelayanan publik yang lebih empatik, sementara masyarakat umum memperoleh pemahaman keagamaan yang lebih mendalam dan aplikatif.
Pelatihan ini juga akan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, sebagai bentuk dukungan penuh terhadap penguatan pendidikan karakter di lingkungan Kemenag.
Kehadiran menteri dalam pembukaan tersebut menandakan bahwa program ini menjadi salah satu prioritas strategis dalam pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai.
Selain itu, Kemenag menargetkan program ini mampu mencatatkan rekor MURI sebagai kegiatan belajar mandiri berbasis daring dengan jumlah peserta terbanyak dalam waktu bersamaan. Target tersebut mencerminkan ambisi pemerintah untuk memperluas jangkauan pendidikan berbasis nilai melalui teknologi digital.
Dengan memanfaatkan platform MOOC Pintar, Kemenag tidak hanya menghadirkan inovasi dalam metode pembelajaran, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih adaptif. Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju transformasi pendidikan keagamaan yang lebih relevan dengan tantangan zaman.
Pada akhirnya, pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta ini menjadi simbol bahwa pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu, tetapi juga tentang menumbuhkan nilai kemanusiaan yang menjadi inti dari kehidupan beragama.
