Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pajak Dibayar, Kuliah Tetap Mahal

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 6 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Tradisi tetap hidup ketika manusia menjaga ingatan dan menghormati warisan para leluhur.
Alfi SalamahAlfi Salamah6 September 2026 Travel
Tradisi Wulla Poddu Sumba Barat
Ilustrasi tradisi Wulla Poddu Sumba Barat
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Bulan penuh makna hadir setiap tahun dalam kehidupan masyarakat adat di Sumba Barat. Namanya Wulla Poddu, sebuah periode sakral dalam tradisi masyarakat Marapu. Ritual ini bukan sekadar pesta budaya untuk menarik wisatawan. Wulla Poddu menjadi waktu menjaga hubungan dengan leluhur, keluarga, alam, dan Sang Pencipta.

Wulla Poddu dikenal sebagai bulan suci dalam kehidupan masyarakat Marapu di Sumba Barat. Pelaksanaannya umumnya berlangsung sekitar Oktober hingga November. Waktunya mengikuti perhitungan adat dan posisi bulan. Penelitian mengenai Kampung Adat Tarung juga mencatat tradisi ini berlangsung setiap tahun.

Kampung Tarung menjadi salah satu tempat penting dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Kampung ini berada di Kecamatan Loli, Sumba Barat. Lokasinya bahkan berada cukup dekat dengan kawasan perkotaan Waikabubak.

Namun, kehidupan adat masih terasa kuat di kampung tersebut. Rumah tradisional, pelataran adat, dan berbagai ritual tetap menjadi bagian kehidupan masyarakat.

Bulan Suci dengan Beragam Pantangan

Wulla Poddu memiliki suasana berbeda dibandingkan perayaan adat biasa. Masyarakat memasuki periode yang dipandang suci dan penuh penghormatan.

Selama periode tersebut, berbagai aturan adat harus dijalankan. Pesta tertentu tidak diperkenankan berlangsung sembarangan. Gong juga tidak dimainkan untuk kebutuhan hiburan biasa.

Gong hanya dapat digunakan ketika berkaitan dengan rangkaian ritual keagamaan. Ketentuan tersebut memperlihatkan kesakralan Wulla Poddu bagi masyarakat Marapu.

Bahkan tata cara menghadapi kematian mempunyai ketentuan khusus selama bulan suci. Upacara kematian besar dapat ditunda sampai masa Wulla Poddu selesai.

Setelah periode sakral berakhir, keluarga dapat mengadakan rangkaian adat sesuai kebiasaan setempat. Tradisi tersebut menunjukkan betapa kuatnya aturan waktu dalam kehidupan masyarakat Marapu.

Wulla Poddu juga menjadi masa berkumpulnya berbagai kelompok keluarga. Setiap kabisu atau kelompok kekerabatan berkumpul di rumah induk masing-masing.

Pertemuan itu bukan hanya untuk melaksanakan ritual. Wulla Poddu sekaligus memperkuat hubungan keluarga yang mungkin jarang bertemu.

Di tengah kehidupan modern, fungsi tersebut terasa semakin penting. Tradisi memberi alasan bagi keluarga untuk kembali berkumpul.

Baca Juga:
  • Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama
  • Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata
  • Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi
  • Nikmati Liburan Tanpa Sakit dengan Gaya CERIA

Tarian, Syair, dan Ritual di Kampung Adat

Suasana Wulla Poddu tidak seluruhnya sunyi. Sejumlah rangkaian justru menghadirkan musik, tarian, dan kegiatan adat.

Pelataran Kampung Tarung menjadi salah satu pusat kegiatan tersebut. Pada malam tertentu, masyarakat dapat mengadakan musik dan tarian tradisional.

Rangkaian adat juga dapat mencakup kegiatan berburu secara tradisional. Semua aktivitas mengikuti aturan yang ditentukan para pemimpin adat.

Pada puncak Wulla Poddu, berbagai tarian adat dapat ditampilkan. Beberapa tarian tersebut hanya dapat disaksikan pada periode khusus ini.

Penari pria dan perempuan menggunakan perlengkapan adat. Gong mengiringi gerakan mereka sepanjang rangkaian acara.

Para rato atau tetua adat juga mempunyai peran sangat penting. Mereka melantunkan syair adat dalam bagian tertentu ritual.

Syair tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan. Ucapannya berkaitan dengan kepercayaan, leluhur, dan hubungan manusia dengan pencipta.

Kehadiran syair lisan juga menunjukkan cara masyarakat menjaga ingatan. Cerita tidak selalu diwariskan melalui buku.

Sebagian pengetahuan diteruskan melalui suara, ritual, dan pengalaman. Generasi muda mengenalnya dengan melihat langsung pelaksanaan tradisi.

Hal tersebut membuat Wulla Poddu menarik dari sisi kebudayaan. Sebuah ritual sekaligus berfungsi sebagai ruang belajar antargenerasi.

Warisan Sumba yang Tidak Sekadar Atraksi

Bagi wisatawan, Wulla Poddu tentu menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda. Namun, tradisi ini tidak tepat dipandang sebagai pertunjukan semata.

Artikel Terkait:
  • Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo
  • Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya
  • Rencanakan Liburan: Jadwal Cuti Bersama Desember 2023
  • Traveling Sendiri, Kenapa Tidak?

Bagi masyarakat setempat, Wulla Poddu mempunyai kedudukan spiritual dan sosial. Karena itu, pengunjung perlu menghormati aturan adat yang berlaku.

Wisata budaya idealnya tidak mengubah ritual menjadi sekadar objek kamera. Pengunjung dapat belajar tanpa mengganggu proses yang sedang berlangsung.

Sikap tersebut penting ketika memasuki kawasan adat. Tidak semua momen dalam sebuah tradisi harus didokumentasikan.

Wulla Poddu juga memperkenalkan sisi Sumba yang berbeda dari citra wisata biasanya. Sumba kerap dikenal melalui pantai, savana, dan Pasola.

Padahal, kehidupan budaya di pulau tersebut jauh lebih luas. Kepercayaan Marapu menjadi sumber berbagai nilai dan pandangan hidup masyarakat Sumba.

Nilai tersebut mencakup hubungan manusia dengan leluhur dan alam. Kehidupan tidak dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

Manusia menjadi bagian dari hubungan yang lebih besar. Tradisi kemudian berfungsi menjaga keseimbangan tersebut.

Wulla Poddu menunjukkan bahwa masyarakat dapat mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman. Kampung Tarung menjadi contoh menarik karena lokasinya dekat kawasan kota.

Modernisasi hadir di sekelilingnya. Namun, aturan dan ritus adat tetap mempunyai ruang dalam kehidupan masyarakat.

Inilah yang membuat Wulla Poddu menarik untuk dikenalkan lebih luas. Tradisi tersebut menghadirkan cerita tentang keteguhan menjaga identitas.

Jangan Lewatkan:
  • Asal Usul Istilah “Pedagang Kaki Lima”
  • Groundsel Raksasa: Harta Prasejarah di Atap Afrika
  • Liburan Seru Cuma Rp1 Juta?
  • Pengalaman Naik Bus Umum Samarinda-Balikpapan: Tiket Murah, Musik Dangdut, dan Jalanan Bergelombang

Sumba ternyata tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah. Pulau ini juga menyimpan warisan budaya dengan filosofi mendalam.

Wulla Poddu mengajarkan bahwa waktu tertentu dapat digunakan untuk kembali kepada akar kehidupan. Ada saatnya manusia berhenti dari keramaian dan mengingat asal-usulnya.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, pesan tersebut terasa relevan. Kemajuan tidak harus menghapus penghormatan terhadap tradisi.

Dari Kampung Tarung, Wulla Poddu terus menjaga cerita para leluhur. Ritual itu menjadi penghubung antara masa lalu dan kehidupan hari ini.

Budaya Sumba Kampung Tarung Marapu Sumba Barat Wulla Poddu
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba
Next Article Pajak Dibayar, Kuliah Tetap Mahal

Informasi lainnya

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

5 September 2026

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

13 April 2026

Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama

12 April 2026

Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji

12 April 2026

Menikmati Senja dari Shibuya Sky Tokyo

11 April 2026
Paling Sering Dibaca

Harga BBM Turun, Asal Bukan Oplosan

Editorial Udex Mundzir

Film Korea Komedi Pilihan untuk Malam Tahun Baru 2026

Daily Tips Lisda Lisdiawati

1 Agustus, Hari Scarf Pramuka Se-Dunia: Ayo Tunjukkan Scarf-mu

Daily Tips Lina Marlina

Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri

Editorial Udex Mundzir

Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penyebaran Penyakit

Daily Tips Assyifa
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi