Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

AI Menghapus Pekerjaan Manusia?

Ketika kecerdasan buatan menjanjikan efisiensi, kita perlu bertanya: efisiensi bagi siapa dan dengan konsekuensi apa?
Alfi SalamahAlfi Salamah17 Januari 2026 Argumen
Dampak AI bagi manusia
Kecerdasan Buatan (AI) bisa menggantikan peran manusia
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kecerdasan buatan kini menjadi fondasi baru dunia kerja. Sejak ChatGPT merevolusi interaksi manusia dengan mesin, berbagai sektor dari keuangan, hukum, hingga kreatif berlomba mengintegrasikan AI untuk efisiensi. Namun, di balik janji produktivitas dan otomatisasi, ada narasi lain yang jarang tersorot: hilangnya pekerjaan manusia secara masif dan cepat.

Banyak pihak menyambut AI sebagai solusi. Tetapi jika kita lihat data yang ada, muncul kekhawatiran yang tak bisa manusia abaikan. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 mencatat bahwa setidaknya 85 juta pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi hingga 2027. Angka ini tidak main-main, dan banyak di antaranya adalah pekerjaan berisiko rendah yang justru paling banyak menyerap tenaga kerja di negara berkembang seperti Indonesia.

Profesi yang Terancam

Beberapa sektor paling rentan tergantikan AI adalah:

  1. Customer service: Chatbot kini menggantikan operator manusia di banyak perusahaan besar.
  2. Penulisan konten dasar: Artikel SEO, ulasan produk, hingga deskripsi e-commerce kini dapat ditulis oleh mesin.
  3. Akuntansi dasar: Sistem AI mampu memproses transaksi dan audit sederhana lebih cepat dari manusia.
  4. Data entry dan administrasi: Otomatisasi dokumen dan pengolahan data memotong kebutuhan tenaga admin.
  5. Penerjemah bahasa standar: Tools seperti Google Translate dan DeepL semakin presisi, menggeser jasa penerjemah umum.

Ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang akan lebih dulu menghilang, tak peduli seberapa lama seseorang mengabdi dalam posisi tersebut.

Ilusi Efisiensi, Realitas Pengangguran

Argumen dominan dari pelaku industri adalah bahwa teknologi akan menciptakan “pekerjaan baru”. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Banyak pekerjaan baru yang lahir justru membutuhkan keterampilan teknis tinggi yang tidak dimiliki mayoritas pekerja saat ini.

Artinya, ada jeda keterampilan (skill gap) yang lebar, dan itu berarti banyak pekerja tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga tidak bisa mengakses peluang baru.

Bahkan di negara maju, seperti Jerman dan Jepang, lonjakan adopsi AI justru diikuti oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor-sektor tertentu. Di Amerika Serikat, industri media mengalami PHK massal sejak 2024 karena perusahaan mengganti tim editorial dengan generator konten AI.

Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Di Indonesia, potensi dampak AI jauh lebih kompleks. Dengan struktur tenaga kerja yang mayoritas berpendidikan menengah dan rendah, otomatisasi justru mengancam sumber penghidupan jutaan orang.

Laporan INDEF 2025 mencatat bahwa setidaknya 12 juta pekerjaan berisiko tergantikan AI dalam dekade ini. Sektor yang paling terancam adalah keuangan (terutama teller dan analis), perhotelan, dan administrasi pemerintahan.

Ironisnya, di saat pemerintah gencar mendorong digitalisasi, minim pelatihan keterampilan digital yang inklusif dan merata. Program pelatihan berbasis AI sebagian besar masih berpusat di kota besar, meninggalkan desa dan wilayah pinggiran.

Siapa yang Diuntungkan?

Kita juga harus bertanya: siapa yang sebenarnya paling diuntungkan oleh AI? Tentu bukan pekerja harian, bukan UMKM, dan bukan masyarakat kelas bawah. Yang paling diuntungkan adalah perusahaan besar, pemilik modal, dan platform global yang kini bisa memangkas biaya tenaga kerja sambil meningkatkan margin keuntungan.

Inilah bentuk baru ketimpangan digital: saat sebagian besar masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi, sebagian kecil elite digital justru menikmati era “pasca-manusia” dengan keuntungan besar dari otomatisasi.

Menuju Solusi yang Adil

Menghentikan perkembangan AI jelas bukan pilihan. Namun, membiarkan transisi ini tanpa kontrol dan regulasi berarti membiarkan jutaan orang kehilangan hak hidup layak. Maka, kita perlu:

  • Kebijakan proteksi kerja berbasis AI: pemerintah harus membuat aturan agar adopsi AI tetap menjamin hak pekerja.
  • Program pelatihan inklusif dan gratis: terutama bagi pekerja di sektor rawan tergantikan.
  • Insentif pajak untuk perusahaan yang mempertahankan tenaga manusia.
  • Regulasi atas penggunaan AI generatif di industri media dan kreatif.
  • Transparansi algoritma: masyarakat berhak tahu jika pekerjaan mereka tergantikan sistem otomatis.

AI adalah Solusi Universal

Narasi bahwa AI adalah solusi universal perlu dilawan dengan realitas lapangan. Di banyak kasus, AI memang meningkatkan efisiensi, tetapi itu datang dengan harga sosial yang sangat mahal.

Jika negara tidak hadir dengan kebijakan transisi yang adil dan berpihak pada rakyat, maka masa depan dunia kerja akan mesin kuasai, sementara manusia tertinggal begitu saja.

AIvs Manusia Kecerdasan Buatan Masa Depan Pekerjaan Otomatisasi Digital PHK Masal
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous Article62 Peserta Ikuti KPDK DKC Bone Perkuat Tata Kelola
Next Article Ledakan Wisata Labuan Bajo

Informasi lainnya

Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

18 Januari 2026

Chatbot Religius Merebak, Akankah Tuhan Hadir Lewat Kode?

23 November 2025

Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma

24 April 2025

Survei KIC: 83,6% Masyarakat Indonesia Familiar dengan AI

9 Februari 2025

DeepSeek vs ChatGPT, Mana yang Lebih Unggul?

30 Januari 2025

Strategi Pemanfaatan AI Nasional: Pemerintah Tetapkan Lima Prioritas

22 Desember 2024
Paling Sering Dibaca

Mengenal Bukit Kelam, Batu Tertinggi di Dunia dari Indonesia

Travel Ericka

Komdigi: Permohonan Merger XL-Smartfren Belum Diterima

Techno Assyifa

Asal-Usul Shalat Tarawih 8 Rakaat Plus Witir 3 Rakaat

Islami Ericka

Paspor Abadi Sang Firaun: Pelajaran Kepemimpinan yang Tak Pernah Mati

Happy Alfi Salamah

Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.