Keren tanpa usaha menjadi salah satu bahasa baru budaya internet. Istilah aura farming semakin sering muncul di media sosial. Ungkapan ini menggambarkan tindakan yang sengaja dilakukan untuk meningkatkan kesan keren, berwibawa, atau penuh karisma.
Fenomena tersebut meledak setelah video seorang bocah Indonesia viral secara global. Rayyan Arkan Dikha mencuri perhatian ketika menari di atas perahu Pacu Jalur. Dengan pakaian tradisional dan kacamata hitam, gerakannya terlihat tenang sekaligus percaya diri. Video tersebut kemudian melahirkan tren global yang ditiru figur olahraga dan kreator dunia.
Momen itu berasal dari tradisi Pacu Jalur di Riau
Pacu Jalur sendiri merupakan perlombaan perahu tradisional yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Sosok yang menari di bagian depan perahu dikenal sebagai Togak Luan. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam identitas perlombaan tersebut.
Namun, internet memberikan makna baru.
Gerakan Dikha dipotong menjadi video pendek. Musik kemudian ditambahkan. Algoritma membawa rekaman tersebut melintasi negara dan budaya.
Lalu, sebuah istilah ikut menempel: aura farming.
Secara sederhana, istilah tersebut bisa dipahami sebagai “mengumpulkan poin keren”. Seseorang melakukan sesuatu yang meningkatkan aura atau karismanya di mata orang lain.
Istilah ini biasanya digunakan dengan nada bercanda.
Seseorang berjalan menjauh setelah melakukan sesuatu yang mengesankan. Komentar bisa menyebutnya sedang melakukan aura farming. Atlet yang melakukan selebrasi tenang juga dapat mendapat julukan serupa.
Bahkan tindakan sederhana bisa menjadi “aura”
Kuncinya bukan hanya apa yang dilakukan. Cara seseorang melakukannya justru menjadi bagian terpenting.
Gerakan harus terlihat alami.
Ekspresi tidak boleh terlalu berlebihan. Sikap tubuh perlu menunjukkan kepercayaan diri. Semakin terlihat tidak peduli terhadap perhatian, semakin besar kesan yang muncul.
Di sinilah paradoksnya.
Untuk terlihat seperti tidak berusaha, seseorang terkadang justru berusaha keras.
Budaya tersebut berkembang dalam lingkungan media sosial yang sangat visual. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membuat beberapa detik pertama sangat menentukan.
Pengguna harus menarik perhatian dengan cepat.
Seseorang mungkin hanya memiliki beberapa detik untuk membuat penonton berhenti menggulir layar. Ekspresi, pakaian, gerakan, dan latar akhirnya menjadi bagian dari komunikasi.
Aura menjadi semacam bahasa tanpa kata
Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan definisi popularitas.
Dulu, seseorang sering dianggap keren karena memiliki barang tertentu. Mobil mahal, pakaian mewah, atau tempat liburan eksklusif menjadi simbol status.
Kini, generasi internet mempunyai mata uang berbeda.
Sikap tenang bisa dianggap lebih menarik daripada kemewahan. Keaslian dapat mengalahkan kesempurnaan. Bahkan seseorang tanpa latar selebritas dapat menjadi ikon global dalam hitungan hari.
Rayyan menjadi contoh menarik.
Ia tidak muncul dari kampanye pemasaran besar. Tidak ada produksi studio yang rumit. Sebuah momen budaya lokal justru menjadi bahasa internet internasional.
Popularitasnya kemudian menjangkau dunia olahraga.
Pembalap MotoGP Marc Márquez ikut menirukan gerakan tersebut. Paris Saint-Germain juga mengunggah konten yang terinspirasi dari tren itu. Travis Kelce dan berbagai figur olahraga lainnya turut dikaitkan dengan fenomena tersebut.
Indonesia mendadak berada di tengah percakapan budaya pop global
Hal tersebut menunjukkan kemampuan internet mengubah sesuatu yang sangat lokal menjadi universal.
Namun, viralitas juga membawa tanggung jawab.
Ketika sebuah tradisi berubah menjadi meme, konteks aslinya mudah hilang. Orang dapat mengenal tariannya tanpa mengetahui Pacu Jalur.
Padahal, budaya di balik video jauh lebih besar daripada tren.
Pemerintah Indonesia bahkan melihat momentum tersebut sebagai kesempatan memperkenalkan pariwisata dan budaya Riau. Festival Pacu Jalur 2025 kemudian mendapat sorotan internasional lebih besar.
Fenomena aura farming akhirnya memiliki dua wajah.
Di satu sisi, ia merupakan humor khas internet. Istilah tersebut membantu generasi muda menggambarkan karisma dengan cara sederhana.
Di sisi lain, tren ini berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam.
Media sosial membuat manusia semakin sadar terhadap bagaimana dirinya terlihat. Foto tidak hanya diambil untuk menyimpan kenangan. Video juga dibuat dengan mempertimbangkan bagaimana orang lain akan bereaksi.
Penampilan diri berubah menjadi sebuah proyek
Kita memilih sudut kamera. Kita memikirkan pakaian. Kita menentukan musik. Bahkan ekspresi spontan bisa direncanakan sebelum tombol rekam ditekan.
Dalam kondisi tersebut, “aura” menjadi aset sosial.
Semakin kuat persona seseorang, semakin mudah ia mendapat perhatian. Perhatian kemudian dapat berubah menjadi pengikut, peluang, bahkan penghasilan.
Namun, terlalu mengejar aura juga memiliki risiko.
Seseorang dapat mulai menjalani kehidupan berdasarkan bagaimana momen terlihat di layar. Pengalaman nyata kemudian menjadi nomor dua.
Pertanyaannya berubah.
Bukan lagi, “Apakah saya menikmati ini?”
Melainkan, “Apakah ini terlihat keren?”
Ironisnya, aura yang paling disukai internet sering muncul dari orang yang terlihat tidak memikirkannya.
Rayyan tidak menjadi viral karena mencoba mengikuti tren aura farming. Internetlah yang melihat gerakannya dan memberikan istilah tersebut.
Keaslian itulah yang sulit direplikasi
Seseorang dapat membeli pakaian serupa. Gerakan juga bisa dipelajari. Kamera dengan kualitas tinggi mudah ditemukan.
Namun, karisma tidak selalu mengikuti rumus.
Fenomena ini memberikan pelajaran menarik tentang budaya digital. Internet memang menyukai sesuatu yang cepat, lucu, dan mudah ditiru.
Tetapi, internet juga masih tertarik kepada keunikan.
Tradisi lokal dapat mengalahkan produksi mahal. Gerakan sederhana dapat mengalahkan strategi pemasaran panjang. Seorang anak dari Indonesia dapat menjadi referensi budaya pop dunia.
Aura farming mungkin akan digantikan istilah viral berikutnya.
Begitulah siklus internet bekerja.
Namun, cerita di balik fenomena tersebut memiliki umur lebih panjang. Ia menunjukkan bagaimana identitas, budaya, humor, dan algoritma dapat bertemu dalam satu momen.
Pada akhirnya, semua orang mungkin bisa mencoba terlihat keren.
Tetapi, daya tarik yang benar-benar bertahan biasanya datang dari sesuatu yang lebih sederhana. Ada rasa percaya diri, identitas, dan keberanian menjadi diri sendiri.
Sebab, aura terbaik mungkin tidak perlu “ditanam”.
Ia muncul ketika seseorang melakukan sesuatu dengan tulus, lalu dunia kebetulan memperhatikannya.
