Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Aura Farming Viral, Mengapa Semua Ingin Terlihat Keren?

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Aura Farming Viral, Mengapa Semua Ingin Terlihat Keren?

Daya tarik paling kuat sering muncul ketika seseorang berhenti terlalu keras berusaha terlihat menarik.
Alfi SalamahAlfi Salamah26 Agustus 2026 Insight
Aura Pacu Jalur Mendunia Viral
Aura Farming Mendunia Viral
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Keren tanpa usaha menjadi salah satu bahasa baru budaya internet. Istilah aura farming semakin sering muncul di media sosial. Ungkapan ini menggambarkan tindakan yang sengaja dilakukan untuk meningkatkan kesan keren, berwibawa, atau penuh karisma.

Fenomena tersebut meledak setelah video seorang bocah Indonesia viral secara global. Rayyan Arkan Dikha mencuri perhatian ketika menari di atas perahu Pacu Jalur. Dengan pakaian tradisional dan kacamata hitam, gerakannya terlihat tenang sekaligus percaya diri. Video tersebut kemudian melahirkan tren global yang ditiru figur olahraga dan kreator dunia.

Momen itu berasal dari tradisi Pacu Jalur di Riau

Pacu Jalur sendiri merupakan perlombaan perahu tradisional yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Sosok yang menari di bagian depan perahu dikenal sebagai Togak Luan. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam identitas perlombaan tersebut.

Namun, internet memberikan makna baru.

Gerakan Dikha dipotong menjadi video pendek. Musik kemudian ditambahkan. Algoritma membawa rekaman tersebut melintasi negara dan budaya.

Lalu, sebuah istilah ikut menempel: aura farming.

Secara sederhana, istilah tersebut bisa dipahami sebagai “mengumpulkan poin keren”. Seseorang melakukan sesuatu yang meningkatkan aura atau karismanya di mata orang lain.

Istilah ini biasanya digunakan dengan nada bercanda.

Seseorang berjalan menjauh setelah melakukan sesuatu yang mengesankan. Komentar bisa menyebutnya sedang melakukan aura farming. Atlet yang melakukan selebrasi tenang juga dapat mendapat julukan serupa.

Bahkan tindakan sederhana bisa menjadi “aura”

Kuncinya bukan hanya apa yang dilakukan. Cara seseorang melakukannya justru menjadi bagian terpenting.

Gerakan harus terlihat alami.

Ekspresi tidak boleh terlalu berlebihan. Sikap tubuh perlu menunjukkan kepercayaan diri. Semakin terlihat tidak peduli terhadap perhatian, semakin besar kesan yang muncul.

Di sinilah paradoksnya.

Untuk terlihat seperti tidak berusaha, seseorang terkadang justru berusaha keras.

Budaya tersebut berkembang dalam lingkungan media sosial yang sangat visual. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membuat beberapa detik pertama sangat menentukan.

Pengguna harus menarik perhatian dengan cepat.

Seseorang mungkin hanya memiliki beberapa detik untuk membuat penonton berhenti menggulir layar. Ekspresi, pakaian, gerakan, dan latar akhirnya menjadi bagian dari komunikasi.

Aura menjadi semacam bahasa tanpa kata

Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan definisi popularitas.

Baca Juga:
  • Gen Z Mulai Bosan dengan Aplikasi Kencan

Dulu, seseorang sering dianggap keren karena memiliki barang tertentu. Mobil mahal, pakaian mewah, atau tempat liburan eksklusif menjadi simbol status.

Kini, generasi internet mempunyai mata uang berbeda.

Sikap tenang bisa dianggap lebih menarik daripada kemewahan. Keaslian dapat mengalahkan kesempurnaan. Bahkan seseorang tanpa latar selebritas dapat menjadi ikon global dalam hitungan hari.

Rayyan menjadi contoh menarik.

Ia tidak muncul dari kampanye pemasaran besar. Tidak ada produksi studio yang rumit. Sebuah momen budaya lokal justru menjadi bahasa internet internasional.

Popularitasnya kemudian menjangkau dunia olahraga.

Pembalap MotoGP Marc Márquez ikut menirukan gerakan tersebut. Paris Saint-Germain juga mengunggah konten yang terinspirasi dari tren itu. Travis Kelce dan berbagai figur olahraga lainnya turut dikaitkan dengan fenomena tersebut.

Indonesia mendadak berada di tengah percakapan budaya pop global

Hal tersebut menunjukkan kemampuan internet mengubah sesuatu yang sangat lokal menjadi universal.

Namun, viralitas juga membawa tanggung jawab.

Ketika sebuah tradisi berubah menjadi meme, konteks aslinya mudah hilang. Orang dapat mengenal tariannya tanpa mengetahui Pacu Jalur.

Padahal, budaya di balik video jauh lebih besar daripada tren.

Pemerintah Indonesia bahkan melihat momentum tersebut sebagai kesempatan memperkenalkan pariwisata dan budaya Riau. Festival Pacu Jalur 2025 kemudian mendapat sorotan internasional lebih besar.

Fenomena aura farming akhirnya memiliki dua wajah.

Di satu sisi, ia merupakan humor khas internet. Istilah tersebut membantu generasi muda menggambarkan karisma dengan cara sederhana.

Di sisi lain, tren ini berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam.

Media sosial membuat manusia semakin sadar terhadap bagaimana dirinya terlihat. Foto tidak hanya diambil untuk menyimpan kenangan. Video juga dibuat dengan mempertimbangkan bagaimana orang lain akan bereaksi.

Penampilan diri berubah menjadi sebuah proyek

Kita memilih sudut kamera. Kita memikirkan pakaian. Kita menentukan musik. Bahkan ekspresi spontan bisa direncanakan sebelum tombol rekam ditekan.

Artikel Terkait:

    Dalam kondisi tersebut, “aura” menjadi aset sosial.

    Semakin kuat persona seseorang, semakin mudah ia mendapat perhatian. Perhatian kemudian dapat berubah menjadi pengikut, peluang, bahkan penghasilan.

    Namun, terlalu mengejar aura juga memiliki risiko.

    Seseorang dapat mulai menjalani kehidupan berdasarkan bagaimana momen terlihat di layar. Pengalaman nyata kemudian menjadi nomor dua.

    Pertanyaannya berubah.

    Bukan lagi, “Apakah saya menikmati ini?”

    Melainkan, “Apakah ini terlihat keren?”

    Ironisnya, aura yang paling disukai internet sering muncul dari orang yang terlihat tidak memikirkannya.

    Rayyan tidak menjadi viral karena mencoba mengikuti tren aura farming. Internetlah yang melihat gerakannya dan memberikan istilah tersebut.

    Keaslian itulah yang sulit direplikasi

    Seseorang dapat membeli pakaian serupa. Gerakan juga bisa dipelajari. Kamera dengan kualitas tinggi mudah ditemukan.

    Namun, karisma tidak selalu mengikuti rumus.

    Fenomena ini memberikan pelajaran menarik tentang budaya digital. Internet memang menyukai sesuatu yang cepat, lucu, dan mudah ditiru.

    Tetapi, internet juga masih tertarik kepada keunikan.

    Tradisi lokal dapat mengalahkan produksi mahal. Gerakan sederhana dapat mengalahkan strategi pemasaran panjang. Seorang anak dari Indonesia dapat menjadi referensi budaya pop dunia.

    Jangan Lewatkan:

      Aura farming mungkin akan digantikan istilah viral berikutnya.

      Begitulah siklus internet bekerja.

      Namun, cerita di balik fenomena tersebut memiliki umur lebih panjang. Ia menunjukkan bagaimana identitas, budaya, humor, dan algoritma dapat bertemu dalam satu momen.

      Pada akhirnya, semua orang mungkin bisa mencoba terlihat keren.

      Tetapi, daya tarik yang benar-benar bertahan biasanya datang dari sesuatu yang lebih sederhana. Ada rasa percaya diri, identitas, dan keberanian menjadi diri sendiri.

      Sebab, aura terbaik mungkin tidak perlu “ditanam”.

      Ia muncul ketika seseorang melakukan sesuatu dengan tulus, lalu dunia kebetulan memperhatikannya.

      Aura Farming Budaya Internet Pacu Jalur Rayyan Arkan Dikha Tren Media Sosial
      Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
      Previous ArticleBank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

      Informasi lainnya

      Gen Z Mulai Bosan dengan Aplikasi Kencan

      24 Agustus 2026
      Paling Sering Dibaca

      Empat Kunci Hidup Tenang dalam Islam

      Islami Alfi Salamah

      Surah Al-Ma’un, Intisari dan Penjelasan Mendalam

      Islami Udex Mundzir

      7 Rekomendasi Masakan Sehat untuk Bekal Anak Sekolah

      Daily Tips Alfi Salamah

      Bendera Fiksi, Ketakutan Nyata

      Editorial Udex Mundzir

      Bekerja Berat saat Ramadan: Bolehkah Tidak Puasa dan Bayar Fidyah?

      Islami Assyifa
      Berita Lainnya
      Lingkungan
      Alfi Salamah21 Agustus 2026

      Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

      Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

      Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

      Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

      Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

      • Facebook 920K
      • Twitter
      • Instagram
      • YouTube
      Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
      “Landing
      © 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
      PT Opsi Nota Ideal
      • Redaksi
      • Pedoman Media Siber
      • Kode Etik Jurnalistik
      • Privacy Policy
      • Disclaimer
      • Kontak

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

      boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi