Dapur jadi panggung bagi salah satu tren paling kontroversial di media sosial. Video membuat roti, merawat anak, berkebun, dan menata rumah kembali ramai. Di balik estetika tersebut, muncul istilah tradwife atau traditional wife.
Tradwife menggambarkan perempuan yang memilih peran domestik tradisional dalam rumah tangga. Suami biasanya menjadi pencari nafkah utama. Istri lebih banyak mengurus rumah, anak, dan kehidupan keluarga. Tren ini terus mempertahankan relevansi pada 2026. Forbes mencatat istilah tradwife pernah mencapai sekitar 200 ribu penyebutan bulanan pada puncaknya. Pada 2025, jumlahnya masih dapat mencapai 150 ribu penyebutan bulanan.
Di media sosial, tampilannya sering sangat menarik.
Ada roti sourdough yang baru keluar dari oven. Gaun panjang bergerak pelan di kebun. Anak-anak bermain di rumah yang tampak tenang.
Semuanya terasa jauh dari tekanan dunia modern
Itulah sebagian kekuatan konten tradwife. Tren ini tidak hanya menawarkan cara membagi pekerjaan rumah. Ia juga menawarkan fantasi tentang kehidupan yang lebih lambat.
Bagi sebagian perempuan, pilihan tersebut benar-benar terasa membebaskan.
Mereka tidak ingin karier menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Mengurus keluarga dapat memberi kepuasan yang sama besarnya.
Pilihan menjadi ibu rumah tangga juga bukan sesuatu yang otomatis bermasalah.
Persoalannya muncul ketika sebuah pilihan pribadi dipresentasikan sebagai satu-satunya bentuk kehidupan perempuan yang ideal.
Penelitian University of Hawaiʻi pada Selasa (1/4/2025) mempelajari komunitas tradwife di TikTok. Para peneliti menemukan pesan yang lebih dalam daripada sekadar konten memasak atau dekorasi rumah. Sejumlah akun mempromosikan pembagian gender tradisional dan menolak sebagian gagasan feminisme modern.
Penelitian akademik lain
Studi yang diterbitkan pada Selasa (19/8/2025) menganalisis konten tradwife di TikTok. Peneliti melihat bagaimana identitas perempuan tradisional dipromosikan melalui kehidupan domestik. Mereka juga menemukan hubungan dengan narasi anti-feminis pada sebagian konten.
Studi tersebut mengumpulkan 102 unggahan dari 61 kreator.
Sebanyak 26 persen video yang dianalisis menampilkan kehidupan pertanian kecil atau homesteading. Kontennya mencakup memanen bahan makanan dan menggunakan peralatan tradisional.
Estetika masa lalu menjadi bagian penting
Penelitian lain yang diterbitkan pada Minggu (29/3/2026) menganalisis 250 video TikTok dari kreator tradwife kulit putih. Sebanyak 42,4 persen video memuat tuntunan peran gender tradisional. Hampir 89,2 persen juga menggunakan rujukan kepada masa lalu melalui gambar, musik, atau pernyataan.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa nostalgia bukan sekadar dekorasi. Masa lalu menjadi produk yang dipasarkan. Gaun bergaya vintage menciptakan suasana tertentu. Peralatan dapur analog memberikan kesan kehidupan yang lebih sederhana.
Semua itu mudah diterima algoritma karena sangat visual. Namun, kehidupan rumah tangga sebenarnya jauh lebih rumit. Membuat roti membutuhkan waktu. Merawat beberapa anak juga membutuhkan energi besar. Membersihkan rumah merupakan pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Konten berdurasi satu menit dapat menyembunyikan banyak hal. Tidak terlihat tekanan finansial dan konflik rumah tangga. Tidak terlihat pula rasa lelah setelah mengurus keluarga sepanjang hari. Di sinilah romantisasi menjadi penting untuk dibicarakan.
Tradwife sebagai pilihan individu berbeda dengan tradwife sebagai gambaran universal. Seseorang boleh memilih tidak bekerja di luar rumah. Namun, pilihan tersebut lebih aman ketika dibuat secara sadar.
Kemandirian finansial menjadi salah satu pertimbangannya
Jika seluruh pendapatan rumah tangga hanya berasal dari satu pasangan, risiko ekonomi menjadi lebih besar. Kehilangan pekerjaan, perceraian, atau kematian pasangan dapat mengubah keadaan dengan cepat.
Karena itu, percakapan tentang tradwife tidak hanya berkaitan dengan gender. Ia juga berkaitan dengan ekonomi. Menariknya, sebagian influencer tradwife sendiri menghasilkan pendapatan besar dari konten.
Inilah salah satu paradoksnya.
Mereka membuat konten tentang kehidupan domestik tradisional. Namun, konten tersebut juga menjadi pekerjaan digital.
Penghasilan bisa berasal dari sponsor. Ada pula penjualan produk dan afiliasi. Sebagian membangun bisnis melalui personal branding.
Penelitian 2026 bahkan menyoroti kontradiksi tersebut. Kreator dapat mempromosikan ketergantungan pada peran tradisional. Namun, mereka sendiri memperoleh keuntungan ekonomi melalui aktivitas media sosial.
Dengan kata lain, tradwife modern tidak selalu sama dengan ibu rumah tangga masa lalu.
Kamera menjadi bagian dari dapur. Algoritma menjadi bagian dari penghasilan. Rumah juga berubah menjadi studio produksi. Tren tersebut bahkan ikut memengaruhi industri.
Forbes melihat pengaruh tradwife pada kategori rumah dan dapur. Produk retro, peralatan memasak tradisional, dan estetika domestik kembali mendapat perhatian.
Dunia mode juga ikut merespons
Vogue Arabia mencatat pengaruh estetika tradwife terhadap busana pada Januari 2025. Gaun feminin, gaya vintage, dan romantisme domestik menjadi bagian dari percakapan mode.
Tradwife akhirnya menjadi lebih dari gaya rumah tangga. Ia berubah menjadi estetika. Ia juga menjadi ekonomi. Bahkan kini mulai menjadi bahan budaya populer.
Pada April 2026, tren tersebut masuk semakin jauh ke dunia sastra. Novel Yesteryear karya Caro Claire Burke mengangkat kehidupan influencer tradwife. Buku itu mendapat perhatian besar dan bahkan memiliki rencana adaptasi film.
Kehadirannya menunjukkan bahwa tradwife telah menjadi fenomena budaya. Namun, perdebatan mengenai tren tersebut tetap tajam. Pendukungnya melihat tradwife sebagai bentuk kebebasan memilih.
Menurut mereka, feminisme seharusnya memungkinkan perempuan menentukan hidup sendiri. Termasuk memilih berada di rumah. Argumen tersebut memiliki dasar penting.
Kebebasan memang berarti memiliki pilihan
Namun, kritiknya juga tidak bisa diabaikan. Pilihan pribadi dapat berubah menjadi tekanan ketika dikemas sebagai standar moral. Perempuan yang bekerja bisa dianggap kurang feminin. Perempuan tanpa anak dapat dianggap kurang lengkap.
Suami juga dapat dibebani anggapan bahwa mereka wajib menjadi pencari nafkah tunggal. Pembagian tersebut tidak selalu cocok bagi setiap keluarga.
Hubungan yang sehat justru biasanya membutuhkan negosiasi. Setiap pasangan memiliki situasi ekonomi berbeda. Mereka juga memiliki ambisi dan kemampuan berbeda.
Karena itu, tidak ada satu formula rumah tangga yang cocok untuk semua orang. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah algoritma. Konten memasak yang terlihat sederhana bisa menjadi pintu menuju narasi yang lebih luas.
Media Matters pernah melakukan eksperimen dengan berinteraksi terhadap sejumlah akun tradwife. Setelah itu, rekomendasi TikTok mereka mulai memunculkan lebih banyak konten teori konspirasi dan narasi ekstrem.
Dari 327 video yang muncul, 30,6 persen memuat teori konspirasi atau ketakutan apokaliptik. Temuan tersebut tidak berarti seluruh tradwife memiliki pandangan ekstrem.
Generalisasi seperti itu tidak tepat
Namun, temuan tersebut menunjukkan bagaimana algoritma dapat menghubungkan satu jenis konten dengan ekosistem ide yang lebih luas. Pada akhirnya, tradwife memang menarik karena menyentuh kegelisahan modern.
Banyak orang lelah terhadap budaya produktivitas. Pekerjaan terasa semakin cepat. Biaya hidup meningkat. Media sosial terus menuntut perhatian.
Di tengah kondisi tersebut, gambaran rumah yang tenang terasa sangat menggoda. Roti baru matang. Anak bermain di halaman. Telepon kerja tidak berbunyi. Fantasi itu mudah dipahami.
Namun, kehidupan sederhana tidak harus berarti kembali kepada aturan lama. Seseorang dapat memasak dari nol dan tetap mempunyai karier.
Perempuan dapat memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa merasa lebih baik dari perempuan bekerja.
Laki-laki juga dapat mengambil porsi besar dalam pekerjaan domestik. Keluarga dapat menentukan pembagian yang paling sesuai.
Mungkin itulah cara paling sehat melihat fenomena tradwife. Nikmati estetika jika memang menarik.
Ambil nilai yang terasa bermanfaat
Namun, jangan mengubah gaya hidup seseorang menjadi aturan bagi semua orang. Sebab, kehidupan yang terlihat indah di layar belum tentu cocok dijalani setiap orang.
Pilihan terbaik bukan yang terlihat paling tradisional atau paling modern. Pilihan terbaik adalah yang dibuat dengan sadar, aman, dan tetap memberi ruang bagi setiap orang berkembang.
