Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu

Ketika gelar akademik menjadi alat gengsi, bukan cerminan intelektualitas, dunia pendidikan kehilangan marwahnya.
Udex MundzirUdex Mundzir8 Maret 2025 Editorial
Integritas akademik pejabat publik
Disertasi Bahlil: Ketika Gelar Akademik Dipertaruhkan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Publik kembali disuguhi drama akademik yang melibatkan pejabat tinggi. Kali ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia harus menerima kenyataan bahwa disertasinya di Universitas Indonesia (UI) dinyatakan perlu diperbaiki.

Namun, alih-alih merasa malu, ia justru dengan santai menyatakan bahwa dirinya akan “melihat dulu” keputusan UI sebelum mengambil langkah berikutnya. Pernyataan ini seolah menunjukkan bahwa bagi Bahlil, gelar akademik bukanlah soal keilmuan, melainkan hanya simbol status yang bisa dinegosiasikan.

Fenomena ini bukan pertama kali terjadi. Di Indonesia, tak sedikit pejabat yang berlomba-lomba meraih gelar akademik, tetapi minim kontribusi intelektual.

Gelar doktor bukan lagi buah dari penelitian mendalam, melainkan sekadar formalitas yang bisa dikejar sambil tetap sibuk berpolitik. Ketika seorang menteri menjalani program doktoral di tengah kesibukannya mengurus negara, wajar jika publik bertanya: kapan ia benar-benar meneliti dan menulis?

Kasus Bahlil mengingatkan kita pada problem kronis di dunia akademik Indonesia: bagaimana kampus sering kali tunduk pada figur berkuasa. UI, sebagai salah satu kampus terbaik di negeri ini, kini diuji kredibilitasnya.

Jika keputusan memperbaiki disertasi Bahlil benar-benar didasarkan pada standar akademik, maka itu patut diapresiasi. Namun, jika ada kompromi demi menjaga hubungan baik dengan penguasa, maka itu adalah cerminan bahwa kampus tak lebih dari sekadar pelayan bagi elite politik.

Yang lebih menyedihkan, kasus ini semakin mempertegas bahwa UI mengalami down grade serius. Kampus yang selama ini disebut sebagai “kampus nomor satu anak bangsa” kini dipertanyakan integritasnya.

UI tak lagi berfungsi sebagai benteng akademik yang menjaga keilmuan, tetapi justru memberi ruang bagi kepentingan politik. Bahlil adalah setitik noda yang merusak kredibilitas UI secara keseluruhan. Jika standar akademik bisa dinegosiasikan, bagaimana UI bisa tetap menyandang predikat kampus terbaik?

Banyak akademisi UI yang selama ini berjuang mempertahankan kualitas riset dan pendidikan kini terpaksa menanggung dampak dari kasus ini. Mereka yang bekerja keras untuk menjaga standar keilmuan harus melihat kampusnya terseret dalam polemik murahan.

Jika UI benar-benar serius menjaga marwah akademiknya, maka tidak cukup hanya meminta perbaikan disertasi. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap bagaimana kampus memperlakukan pejabat yang ingin meraih gelar akademik.

Kritik terhadap Bahlil bukanlah semata soal disertasinya, melainkan soal etika akademik dan kepantasan moral seorang pejabat publik. Seorang akademisi sejati akan merasa terpukul jika karyanya dianggap belum layak.

Mereka akan berusaha keras untuk memperbaiki, bukan dengan dalih “melihat dulu keputusan UI.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa gelar akademik bagi Bahlil hanyalah aksesori, bukan hasil perjuangan intelektual.

Dunia akademik harus kembali menegaskan marwahnya. Gelar doktor bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dengan mudah hanya karena seseorang memiliki jabatan tinggi.

UI dan kampus-kampus lain harus berani menjaga independensi dan menolak intervensi politik. Jika pejabat ingin berkuliah, mereka harus tunduk pada standar akademik yang sama dengan mahasiswa lainnya.

Bahlil mungkin tidak merasa malu, tetapi publik yang peduli pada integritas akademik seharusnya marah.

Jika dunia pendidikan terus menerus dikotori oleh mentalitas instan dan kepentingan politik, maka kita sedang menuju kehancuran intelektual. Inilah saatnya kampus bersikap tegas: ilmu pengetahuan tidak boleh tunduk pada kekuasaan.

Bahlil Lahadalia Disertai UI integritas akademik Pejabat dan Gelar Politik dan Pendidikan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleFIFA Perkenalkan TiKay, Maskot Piala Dunia Sepak Bola Pantai
Next Article UI Mesin Gelar Doktor Pejabat

Informasi lainnya

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026

Menguji Gelar Pahlawan Soeharto

13 November 2025

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

2 November 2025
Paling Sering Dibaca

Menjaga Amanah

Islami Syamril Al-Bugisyi

Nafkah dalam Islam: Penjelasan, Pelanggaran, dan Kewajiban terhadap Anak Yatim

Islami Udex Mundzir

BRImo: Solusi Keuangan untuk Kuliah di Luar Negeri

Bisnis Ericka

Mengenal Bukit Kelam, Batu Tertinggi di Dunia dari Indonesia

Travel Ericka

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.