Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Digital Nomad, Hidup atau Ilusi?

Bekerja dari mana saja tampak menyenangkan di Instagram, tapi tidak semua orang siap dengan realitas keras di balik laptop dan kopi.
Alfi SalamahAlfi Salamah20 Januari 2026 Daily Tips
Digital Nomad
Ilustrasi Digital Nomad (IST)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Istilah digital nomad kini akrab di telinga anak muda. Gaya hidup yang memungkinkan seseorang bekerja secara remote dari tempat-tempat eksotis mulai dari Bali, Chiang Mai, hingga Lisbon dianggap sebagai bentuk kebebasan modern.

Banyak yang membayangkan bekerja dari pantai sambil minum kelapa, selesai rapat lalu langsung menyelam, atau duduk di coworking space dengan pemandangan laut. Namun kenyataannya, hidup sebagai digital nomad tidak seindah yang ditampilkan di media sosial. Di balik foto-foto estetik dan laptop yang terbuka di taman tropis, ada tekanan kerja, ketidakpastian, dan kesepian yang tidak banyak dibicarakan.

Bebas, Kaya Waktu, dan Inspiratif

Di Instagram atau TikTok, digital nomad digambarkan sebagai sosok bebas yang bisa bangun kapan saja, kerja dari mana saja, dan hidup tanpa tekanan jam kantor. Mereka terlihat bahagia, produktif, dan terus berpetualang.

Gambaran ini berhasil menciptakan imajinasi bahwa remote working bisa menjadi pelarian dari rutinitas kantor yang membosankan. Banyak anak muda akhirnya meninggalkan pekerjaan tetap dan mencoba menjadi freelancer atau pekerja remote demi mengejar mimpi menjadi nomad digital.

Ketidakpastian, Koneksi Buruk, dan Deadline

Namun, kenyataan lapangan tidak selalu ramah. Beberapa fakta di balik kehidupan digital nomad:

  • Koneksi internet yang tidak stabil di lokasi tropis sering mengganggu pekerjaan.
  • Zona waktu yang berbeda menyulitkan komunikasi dengan klien luar negeri.
  • Bekerja sendirian terus-menerus membuat banyak nomad merasa kesepian.
  • Tidak ada batas kerja-jam pribadi, sehingga burnout justru lebih cepat terjadi.

Dara (28), seorang freelance designer yang telah dua tahun menjadi digital nomad di Indonesia Timur, mengaku bahwa ketidakpastian penghasilan dan kesulitan logistik sering membuatnya tertekan.

“Gak ada jaminan uang masuk tiap bulan. Kadang ditolak klien, kadang telat dibayar. Dan pas sinyal hilang waktu ada deadline, itu chaos banget,” ujarnya.

Tantangan Visa dan Legalitas

Isu lain yang sering terabaikan adalah soal visa dan izin tinggal. Tidak semua negara memberikan kemudahan bagi pekerja jarak jauh. Banyak digital nomad tinggal menggunakan visa turis, yang secara hukum tidak mengizinkan mereka bekerja meskipun secara teknis klien mereka berada di luar negeri.

Beberapa negara seperti Estonia, Portugal, dan Thailand kini menawarkan digital nomad visa, tetapi Indonesia misalnya, belum memiliki sistem yang jelas untuk kategori ini. Ini menyebabkan banyak nomad hidup dalam “zona abu-abu hukum” yang bisa berisiko sewaktu-waktu.

Masalah Identitas dan Keseimbangan Hidup

Banyak pekerja remote yang awalnya merasa bebas, tapi lama-lama merasakan krisis identitas. Tanpa kantor, tanpa tim tetap, tanpa komunitas yang stabil, seseorang bisa kehilangan arah.

Gaya hidup berpindah terus-menerus juga menyulitkan membangun hubungan personal jangka panjang. Beberapa merasa “selalu jadi orang luar”, tidak punya ikatan kuat dengan tempat mana pun.

Jadi, Siapa yang Cocok Jadi Digital Nomad?

Gaya hidup ini tidak cocok untuk semua orang. Ia hanya cocok untuk mereka yang:

  • Mandiri secara finansial dan emosional.
  • Punya keterampilan yang benar-benar dibutuhkan secara remote.
  • Siap hidup tanpa stabilitas dan kenyamanan.
  • Disiplin tinggi meski tanpa pengawasan.

Sebaliknya, mereka yang membutuhkan struktur, komunitas tetap, dan keamanan kerja cenderung akan cepat merasa stres dalam pola hidup digital nomad.

Bukan Pelarian Dunia Kerja

Digital nomad bukan pelarian dari dunia kerja, tapi bentuk kerja yang menuntut level kemandirian lebih tinggi. Di balik gaya hidup fleksibel, ada tantangan psikologis, hukum, dan finansial yang nyata.

Karena ternyata, kerja dari mana saja bukan berarti bebas dari segalanya justru menuntut tanggung jawab lebih besar atas hidup sendiri.

Digital Nomad Freelancer Indonesia Gaya Hidup Modern Kerja Remote Realita Nomad
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGen Z dan Tantangan Tanpa Ponsel
Next Article Kuliner Viral 2026, Sekadar Gaya?

Informasi lainnya

Film Korea Komedi Pilihan untuk Malam Tahun Baru 2026

31 Desember 2025

Etika Toilet Umum, Cermin Kesadaran Sosial Sehari-hari

30 Desember 2025

Mau Upgrade Diri? Inilah 5 Buku yang Wajib Kamu Baca di Awal Tahun

24 Desember 2025

Saat Bahasa Membentuk Hirarki: Ucapan ‘Mohon Izin’ dan ‘Siap’

24 Desember 2025

Tips Mengatur Waktu agar Gak Overwhelmed Tiap Hari

12 November 2025

Berhenti Pakai Satu Handuk untuk Badan dan Wajah

31 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana

Opini Udex Mundzir

Yang Mau Lanjutkan Bangun IKN, Silakan Patungan

Editorial Udex Mundzir

Kenali Kapal Kayu Nelayan dan Kualitas Jual Tinggi

Kroscek Dexpert Corp

5 Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan, Cek Sebelum Berobat

Daily Tips Assyifa

Salat Taubat dan Hajat: Apa Bedanya?

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.