Istilah digital nomad kini akrab di telinga anak muda. Gaya hidup yang memungkinkan seseorang bekerja secara remote dari tempat-tempat eksotis mulai dari Bali, Chiang Mai, hingga Lisbon dianggap sebagai bentuk kebebasan modern.
Banyak yang membayangkan bekerja dari pantai sambil minum kelapa, selesai rapat lalu langsung menyelam, atau duduk di coworking space dengan pemandangan laut. Namun kenyataannya, hidup sebagai digital nomad tidak seindah yang ditampilkan di media sosial. Di balik foto-foto estetik dan laptop yang terbuka di taman tropis, ada tekanan kerja, ketidakpastian, dan kesepian yang tidak banyak dibicarakan.
Bebas, Kaya Waktu, dan Inspiratif
Di Instagram atau TikTok, digital nomad digambarkan sebagai sosok bebas yang bisa bangun kapan saja, kerja dari mana saja, dan hidup tanpa tekanan jam kantor. Mereka terlihat bahagia, produktif, dan terus berpetualang.
Gambaran ini berhasil menciptakan imajinasi bahwa remote working bisa menjadi pelarian dari rutinitas kantor yang membosankan. Banyak anak muda akhirnya meninggalkan pekerjaan tetap dan mencoba menjadi freelancer atau pekerja remote demi mengejar mimpi menjadi nomad digital.
Ketidakpastian, Koneksi Buruk, dan Deadline
Namun, kenyataan lapangan tidak selalu ramah. Beberapa fakta di balik kehidupan digital nomad:
- Koneksi internet yang tidak stabil di lokasi tropis sering mengganggu pekerjaan.
- Zona waktu yang berbeda menyulitkan komunikasi dengan klien luar negeri.
- Bekerja sendirian terus-menerus membuat banyak nomad merasa kesepian.
- Tidak ada batas kerja-jam pribadi, sehingga burnout justru lebih cepat terjadi.
Dara (28), seorang freelance designer yang telah dua tahun menjadi digital nomad di Indonesia Timur, mengaku bahwa ketidakpastian penghasilan dan kesulitan logistik sering membuatnya tertekan.
“Gak ada jaminan uang masuk tiap bulan. Kadang ditolak klien, kadang telat dibayar. Dan pas sinyal hilang waktu ada deadline, itu chaos banget,” ujarnya.
Tantangan Visa dan Legalitas
Isu lain yang sering terabaikan adalah soal visa dan izin tinggal. Tidak semua negara memberikan kemudahan bagi pekerja jarak jauh. Banyak digital nomad tinggal menggunakan visa turis, yang secara hukum tidak mengizinkan mereka bekerja meskipun secara teknis klien mereka berada di luar negeri.
Beberapa negara seperti Estonia, Portugal, dan Thailand kini menawarkan digital nomad visa, tetapi Indonesia misalnya, belum memiliki sistem yang jelas untuk kategori ini. Ini menyebabkan banyak nomad hidup dalam “zona abu-abu hukum” yang bisa berisiko sewaktu-waktu.
Masalah Identitas dan Keseimbangan Hidup
Banyak pekerja remote yang awalnya merasa bebas, tapi lama-lama merasakan krisis identitas. Tanpa kantor, tanpa tim tetap, tanpa komunitas yang stabil, seseorang bisa kehilangan arah.
Gaya hidup berpindah terus-menerus juga menyulitkan membangun hubungan personal jangka panjang. Beberapa merasa “selalu jadi orang luar”, tidak punya ikatan kuat dengan tempat mana pun.
Jadi, Siapa yang Cocok Jadi Digital Nomad?
Gaya hidup ini tidak cocok untuk semua orang. Ia hanya cocok untuk mereka yang:
- Mandiri secara finansial dan emosional.
- Punya keterampilan yang benar-benar dibutuhkan secara remote.
- Siap hidup tanpa stabilitas dan kenyamanan.
- Disiplin tinggi meski tanpa pengawasan.
Sebaliknya, mereka yang membutuhkan struktur, komunitas tetap, dan keamanan kerja cenderung akan cepat merasa stres dalam pola hidup digital nomad.
Bukan Pelarian Dunia Kerja
Digital nomad bukan pelarian dari dunia kerja, tapi bentuk kerja yang menuntut level kemandirian lebih tinggi. Di balik gaya hidup fleksibel, ada tantangan psikologis, hukum, dan finansial yang nyata.
Karena ternyata, kerja dari mana saja bukan berarti bebas dari segalanya justru menuntut tanggung jawab lebih besar atas hidup sendiri.
