Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Gunung Galunggung Tetap Tenang dan Menawan

Di tengah kabar bohong yang menyebar, Galunggung tetap berdiri megah sebagai saksi alam dan tempat wisata yang belum kehilangan pesonanya.
Alfi SalamahAlfi Salamah8 Januari 2026 Travel
Gunung Galunggung
Gunung Galunggung (IST)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Gunung Galunggung, salah satu gunung berapi aktif di Jawa Barat, kembali menjadi perbincangan awal tahun ini. Bukan karena aktivitas vulkaniknya, melainkan karena munculnya video viral yang mengklaim bahwa gunung ini meletus dan melontarkan batu besar ke pemukiman warga. Informasi tersebut segera dibantah oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang menegaskan bahwa Galunggung dalam kondisi normal dan tidak sedang meletus.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa di era digital, informasi bohong bisa dengan cepat memicu kepanikan publik, apalagi jika menyangkut gunung yang memiliki sejarah letusan besar seperti Galunggung. Namun di balik kabar tersebut, Galunggung tetap menjadi destinasi yang menarik, tidak hanya dari sisi geologi, tetapi juga sebagai wisata alam dan ruang konservasi.

Gunung Galunggung, Antara Mitos dan Realitas Alam

Berada sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya, Gunung Galunggung menjulang dengan tinggi lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Gunung ini dikenal memiliki kawah yang lebar dan indah, serta kawasan mata air panas di kaki gunung yang menjadi daya tarik wisata.

Sejarah mencatat bahwa Galunggung pernah mengalami letusan dahsyat pada 1982–1984. Abu vulkanik yang disemburkan bahkan mengganggu jalur penerbangan internasional. Sejak itu, pengawasan terhadap aktivitas vulkanik Galunggung menjadi prioritas pemerintah. Namun dalam beberapa dekade terakhir, aktivitasnya relatif tenang, meskipun statusnya tetap diawasi.

Wisata Alam yang Tetap Digemari

Di tengah dinamika informasi, kawasan wisata Galunggung masih menjadi pilihan utama wisatawan lokal. Dua lokasi yang paling banyak dikunjungi adalah Kawah Galunggung dan Cipanas Galunggung. Meski jumlah kunjungan pada libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 mengalami penurunan masing-masing sebesar 18% dan 25% dibanding tahun sebelumnya antusiasme wisatawan tetap terlihat.

Pengunjung datang untuk menikmati udara sejuk, keindahan alam, serta terapi air panas alami yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan. Kawah Galunggung, yang bisa diakses melalui 620 anak tangga, juga menjadi spot favorit untuk swafoto dan menikmati panorama alam dari ketinggian.

Sayangnya, infrastruktur menuju lokasi ini masih menjadi tantangan. Beberapa jalan menuju kawah rusak dan butuh perbaikan. Pemerintah daerah telah berencana untuk mengaktifkan kembali jalur transportasi lama, termasuk wacana membuka kembali Stasiun Rajapolah sebagai bagian dari akses wisata menuju Galunggung.

Konservasi dan Ancaman Lingkungan

Seiring meningkatnya aktivitas manusia di sekitar gunung, beberapa isu konservasi mulai muncul. Penelitian terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa beberapa spesies tumbuhan endemik, seperti Syzygium ampliflorum, terancam punah karena perubahan habitat dan tekanan dari aktivitas wisata serta tambang ilegal.

Hal ini menyoroti pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam pengelolaan kawasan Galunggung. Jika tidak ada langkah nyata, kita bisa kehilangan kekayaan hayati yang menjadi bagian penting dari ekosistem gunung ini.

Antara Wisata dan Edukasi Bencana

Gunung Galunggung bukan hanya objek wisata alam biasa. Kawasan ini juga menyimpan banyak pelajaran tentang pentingnya mitigasi bencana. Pasca erupsi besar di tahun 1980-an, dibangun sistem drainase, pemantauan vulkanik, dan edukasi masyarakat tentang potensi bahaya gunung api.

Sayangnya, edukasi itu kini terancam tergerus oleh narasi media sosial yang lebih cepat menyebar namun belum tentu akurat. Kasus video bohong tentang letusan Galunggung beberapa hari lalu adalah contoh nyata bagaimana informasi bisa diputarbalikkan, dan menyebabkan keresahan yang tidak perlu.

Pemerintah dan masyarakat harus memperkuat literasi kebencanaan. Galunggung harus menjadi ruang edukasi, bukan hanya sekadar tempat selfie. Sejumlah komunitas lokal telah mulai menggagas tur edukatif dan penguatan narasi sejarah letusan sebagai bagian dari paket wisata — langkah kecil yang bisa berdampak besar jika didukung bersama.

Peran Masyarakat Lokal dan Potensi Ekonomi

Meski sempat terpukul pandemi, geliat ekonomi di sekitar Galunggung mulai bangkit. Warung-warung kecil, penyewaan motor trail, homestay, dan jasa pemandu lokal mulai kembali beroperasi. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pemandangan, tapi juga membantu menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.

Namun perlu dicatat, potensi ini juga membawa risiko jika tidak dikelola dengan bijak. Overkapasitas, sampah wisata, hingga eksploitasi sumber daya alam bisa merusak daya tarik utama Galunggung — yaitu keaslian dan keseimbangan ekosistemnya.

Galunggung dalam Bingkai Masa Depan

Gunung Galunggung adalah simbol kekuatan alam yang tidak bisa dianggap remeh. Ia bisa menjadi teman dan guru — tergantung bagaimana manusia memperlakukannya. Dalam ketenangannya saat ini, ia menyimpan energi besar yang pernah mengguncang wilayah luas.

Namun selama kita menjaga, mengawasi, dan memanfaatkannya secara bijak, Galunggung akan tetap menjadi salah satu aset alam terbesar yang dimiliki Tasikmalaya dan Indonesia.

Di tengah tantangan informasi palsu dan tekanan wisata, tugas kita adalah mengembalikan narasi Galunggung ke jalurnya: dari ketakutan menjadi kewaspadaan, dari eksploitasi menjadi konservasi, dari sekadar hiburan menjadi pembelajaran.

Gunung Galunggung Hoaks Bencana Status Gunung Api Wisata Alam Jawa Barat
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGunung Andong, Primadona Pendaki Pemula
Next Article MUI Soroti Pasal Nikah Siri dalam KUHP Baru

Informasi lainnya

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

31 Januari 2026

Cappadocia: Kota Bawah Tanah yang Membongkar Sejarah

30 Januari 2026

Ephesus: Kota Legendaris yang Tak Pernah Mati

28 Januari 2026

Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata

27 Januari 2026

Liburan Seru Cuma Rp1 Juta?

19 Januari 2026

Ledakan Wisata Labuan Bajo

17 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Khairuddin Barbarossa: Laksamana Legendaris dan Pahlawan Laut Mediterania

Biografi Alfi Salamah

Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan

Editorial Udex Mundzir

Investigasi MUI Terhadap Al Zaytun Mencapai Tahap Penting, Fatwa Menanti!

Islami Adit Musthofa

Rahasia Ayam Goreng Kalasan yang Garing dan Manisnya Pas

Food Alfi Salamah

Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.