Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 7 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Wisata Instagramable Jadi Pangsa Pasar Baru

Destinasi kekinian tak sekadar pemandangan. Namun, refleksi cara kita berburu eksistensi digital.
Alfi SalamahAlfi Salamah18 Juli 2025 Travel
Rekomendasi Wisata Instagramable
Wisata Instagramable
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Fenomena viral wisata foto estetik di Jawa seperti Jembatan Gantung Rengganis Bandung, “Nepal van Java” Dusun Butuh Magelang, dan Ranu Manduro Mojokerto telah mengubah konsep liburan.

Awalnya sekadar tempat transit, kini menjadi magnet utama bagi content creator, komunitas traveler, bahkan wisatawan biasa yang mendorong tren ini jadi trending topics sepanjang 2025.

Dari Konten Estetik Menuju Destinasi Utama

Jembatan Gantung Rengganis di Bandung menjadi sorotan utama. Dengan latar pegunungan dan lembah hijau, tempat ini mudah dipoles menjadi feed Instagram layaknya lanskap luar negeri.

Data dari media sosial menunjukkan tagar #RengganisBridge mencapai jutaan penayangan sepanjang Juni–Juli. Sejumlah kreator konten mengatakan bahwa engagement foto mereka bisa naik hingga 30% hanya dengan mengambil gambar di kap-lokasi tersebut.

Fenomena serupa terjadi di Dusun Butuh, Magelang. Dijuluki “Nepal van Java”, pemandangan perbukitan berpagar kabut dan kontur undulating mirip wilayah Himalaya menyajikan nuansa eksotis. Liburan ke sini bahkan dianggap “rasa backpacker tapi tetap estetik”. Penginapan glamping bermodel tenda ala pegunungan, serta trail yang dipoles dengan drone-view, membuat lokasi ini jadi favorit komunitas pencinta fotografi alam dan retret spiritual.

Sementara itu, Ranu Manduro di Mojokerto juga dilirik karena kombinasi antara danau tenang, jembatan kayu mengapung, dan latar Gunung Penanggungan. Meski belum sepopuler dua sebelumnya, tagar #RanuManduro tumbuh pesat. Pebisnis lokal pun mulai memaketkan wisata sepeda keliling dan camping semi-premium.

Baca Juga:
  • Asal Usul Istilah “Pedagang Kaki Lima”
  • Liburan Seru Cuma Rp1 Juta?
  • Samarinda ke Bontang: Di Atas Aspal Berliku, Menuju Kota di Ujung Timur
  • WNI Bisa Kunjungi 42 Negara Ini Tanpa Visa

Keindahan Visual, Risiko Sosial-Ekologis

Tren ini bukan tanpa kritik. Pertama, isu overtourism mulai muncul. Jalan menuju lokasi jembatan di Bandung macet saat akhir pekan. Sampah plastik berserakan di pinggir lokasi glamping di Magelang, dan fasilitas sanitasi di tiga titik ini kadang tak mampu menampung lonjakan pengunjung.

Kedua, ada kekhawatiran soal keberlanjutan. Spot foto yang didesain sedari awal graphically appealing cenderung mengesampingkan ekologi lokal. Misalnya, gubuk bambu dibangun di sepanjang tepian danau tanpa analisis dampak ekologis. Banyak pohon dipangkas demi menciptakan “view foto sempurna”.

Dari perspektif ekonomi lokal, tren ini mendatangkan cuan. Kafe pop-up dan warung lokal tumbuh di sekitarnya. Di Magelang, UKM tenun lokal memamerkan batik motif khas daerah sekitar untuk dijual ke pengunjung, memperluas jangkauan pasar mereka. Hal positif ini layak diapresiasi.

Namun, aspek sosial perlu diperhatikan. Masyarakat setempat mendadak menjadi “pelayan wisatawan”. Ada kesenjangan budaya dan sosio-ekonomi antara penduduk asli dan pengunjung dari luar. Harga warung melejit hingga 2–3 kali lipat saat weekend, yang memicu pertanyaan tentang aksesibilitas bagi warga lokal.

Menyelaraskan Estetika dan Keberlanjutan

Maka, apa solusinya? Pertama, pemerintah daerah harus menerapkan kuota harian pengunjung berbayar dengan sistem digital. Ini tak hanya mengendalikan jumlah orang, tapi juga mendatangkan PAD yang dapat digunakan untuk pengembangan infrastruktur dan pelatihan pemandu wisata lokal.

Artikel Terkait:
  • Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi
  • Keindahan Ranu Kumbolo, Surga Tersembunyi di Punggung Semeru
  • Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama
  • Kyoto Kerek Tarif Wisata Demi Selamatkan Warisan Budaya

Kedua, perlu ada zonasi ekologis. Area konservasi pohon maupun danau harus dijaga. Pembangunan spot foto dicadangkan hanya pada lahan yang sudah rusak untuk mencegah erosi. Tanpa pengawasan, estetika akan mengalahkan keberlanjutan lingkungan.

Ketiga, wajibkan edukasi pentingnya sikap wisata berkelanjutan. Pengelola—baik swasta maupun pemerintah—harus menyediakan signage, menjalankan kampanye #LeaveNoTrace, dan melibatkan relawan lokal untuk menjaga kebersihan.

Keempat, dorong pemberdayaan ekonomi lokal dengan pengembangan paket wisata inklusif berbasis komunitas. Misalnya, pengunjung dapat membeli oleh-oleh hasil karangan tangan anak-anak sekolah setempat, belajar anyaman bambu, atau mengikuti wisata religi lokal.

Tren “wisata instagramable” tak bisa dihentikan, karena ia sarat dengan peluang. Namun tanpa strategi pengelolaan yang matang, keindahan akan lenyap, berganti kerusakan ekologi dan konflik sosial. Keseimbangan antara estetika, ekonomi lokal, dan ekologi adalah kunci.

Jangan Lewatkan:
  • Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan
  • Liburan Hemat ke Jepang untuk Pemula
  • Kehidupan di Jepang, Perpaduan Tradisi dan Modernitas
  • Menembus Gelap

Saat estetika dan kelestarian berjalan beriringan, destinasi seperti Rengganis, Butuh, dan Ranu Manduro bisa jadi contoh sukses. Jika tidak, maka warnanya hanya akan tinggal di feed, sedangkan realitasnya penuh sampah dan kemacetan.

Rekomendasi Tempat Wisata Wisata Alam 2025 Wisata Instagramable
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDriver Ojol Desak Prabowo Terbitkan Perppu Perlindungan Mitra
Next Article Pulau Sumba, Surga Eksotis Baru

Informasi lainnya

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

13 April 2026

Menyusuri Heningnya Hutan Bambu Arashiyama

12 April 2026

Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji

12 April 2026

Menikmati Senja dari Shibuya Sky Tokyo

11 April 2026

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

31 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Pergi Haji atau Umroh Dulu? Ini Jawaban Ustadz Abdul Somad

Islami Alfi Salamah

Bulu Kucing Rontok, Najis atau Tidak?

Islami Udex Mundzir

Mochtar Kusumaatmadja, Arsitek Laut Nusantara

Profil Alfi Salamah

Syarat dan Cara Membuat SKCK Menurut Polri untuk WNA dan WNI

Happy Alfi Salamah

Mengakhiri Bayang Jokowi

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Adit Musthofa6 Agustus 2026

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Gus Iqdam Mengaku Dipersekusi Petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi