Tasikmalaya – Pukul empat pagi di Panyileukan. Udara Kota Bandung masih pekat dan dingin, tapi mesin bus sudah memanas. Di titik itulah dua kekuatan menyatu.
Rombongan 12 santri Pesantren Pramuka Khalifa yang lelah setelah menempuh estafet perjalanan darat dari Tasikmalaya, merapat bersama kawan-kawan seperjuangan dari UT Bandung.
Mereka sama-sama mahasiswa Universitas Terbuka. Sama-sama berdebar menghadapi The 5th International Conference ICOMUS 2026.
Di dalam bus yang membelah subuh menuju Tangerang Selatan itu, sekat antara daerah dan kota luntur oleh lembaran naskah presentasi berbahasa Inggris.
Perjalanan menuju panggung bergengsi ini sejatinya sudah dimulai sehari sebelumnya, Rabu (21/10/2026). Dari puri pesantren di Citepus, Desa Santanamekar, Cisayong, 12 santri ini berangkat merayap ke jalan raya. Modalnya angkot seharga Rp5.000 menuju Pagendingan. Di sana, mereka mencegat bus Primajasa. Tujuannya bukan langsung ke Jakarta, melainkan Cicalengka.
Drama lapangan pun terjadi. Turun di perempatan Paramon, Cicalengka, mereka kembali naik angkot Rp5.000 menuju stasiun. Niat mengejar kereta lokal Commuter Line Bandung Raya nyaris kandas. Penjualan tiket daring ditutup hanya beberapa menit sebelum keberangkatan.
Keputusan taktis harus diambil dalam hitungan detik. Kelompok terpaksa dipecah. Empat orang yang berhasil mengamankan tiket melesat di kloter pertama. Delapan sisanya bertahan di stasiun, menunggu kereta jadwal berikutnya 30 menit kemudian. Harga tiketnya pun sama merakyatnya: Rp5.000.
Rombongan akhirnya kembali utuh saat turun di Stasiun Cimekar, tak jauh dari kemegahan Masjid Raya Al-Jabbar, Gedebage. Dari sana mereka merapat ke kampus UT Bandung di Panyileukan untuk menginap semalam, sebelum akhirnya bertolak bersama kontingen Bandung menuju Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) di Pondok Cabe.
Hari ini, Kamis, 22 Oktober 2026. Lelah dari perjalanan berjam-jam itu terbayar lunas.
Pada pagi hari, mereka menyerap ilmu di sesi pleno dari para pembicara kunci seperti Dirjen Kemendiktisaintek Dr. Fauzan Adzima, Prof. Tamas Kiss (Malaysia), Dr. Jane Thomason (Inggris), dan Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring. Namun, ujian kemandirian yang sesungguhnya tiba saat konferensi memasuki sesi paralel.
Ratusan peserta dipecah ke dalam enam ruangan berbeda. Di ruang-ruang paralel inilah, meski para pembicara asing dan tokoh utama sudah tidak lagi berada di ruangan, ketegangan akademik justru memuncak. Berdiri di depan akademisi dan peserta dari berbagai daerah, empat srikandi Pesantren Pramuka Khalifa maju sebagai penulis pertama sekaligus presenter.
Berbekal bahasa Inggris yang fasih, mereka membedah isu-isu sosial dan ekonomi mutakhir secara bergantian di ruangan masing-masing:
Alfi Salamah memaparkan: “The Role of Digital Education in Shaping University Students’ Entrepreneurial Intention in Culinary Businesses in Priangan Timur.”
Sriyanti Nurfadillah membentangkan riset: “The Influence of Halal Lifestyle Awareness on the Culinary Preferences of Generation Z College Students in the Era of Culinary Globalization.”
Astri Nurfianti Suherman mengupas tuntas: “The Dynamics of Live Shopping and Digital Payment on Impulse Buying among Generation Z Consumers.”
Lisda Lisdiawati mengevaluasi kebijakan nasional lewat: “The Effect of Free Nutritious Meals Program Implementation on Changes in Students’ Consumption Behavior.”
“Lelah estafet angkot dan panik tertinggal kereta di Cicalengka seketika menguap begitu kami berdiri di ruang paralel UTCC. Walaupun para pakar luar negeri sudah tidak ada di ruangan saat giliran kami tiba, atmosfer dan standar forum internasionalnya tetap sangat menantang,” ungkap Lisda seusai merampungkan sesinya, Kamis (22/10/2026).
Lisda melanjutkan “Bisa mempresentasikan evaluasi kebijakan makan bergizi gratis di ajang bergengsi ini adalah sebuah pembuktian bahwa gagasan santri dari pelosok desa juga berani diuji secara akademik.”
Gagasan tajam di balik empat riset yang sejalan dengan tema “Smart Innovations for Sustainable Development” ini tak lepas dari kerja kolektif. Di belakang empat presenter tangguh itu, ada delapan anggota tim peneliti yang bekerja keras meracik data: Siti Aisyah, Mulki Sulaimaniyah, Intan Tarbiatul Wardah, Ericka Dania, Yuliyani Handraeni Utami, Richard Abdulloh Mundzir, Aditya Musthofa, dan Adi Dzhusni Fauzi.
Peristiwa hari ini di UTCC mengirimkan satu pesan kuat. Ketangguhan mental ala Pramuka, kedisiplinan hidup pesantren, dan jejaring pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka adalah kombinasi mematikan. Jarak yang jauh dan ongkos lima ribuan bukanlah halangan bagi anak-anak muda daerah untuk berdiri setara di panggung dunia.
