Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 25 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Asal-Usul Shalat Tarawih 20 Rakaat Plus Witir 3 Rakaat

Ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan membawa keberkahan yang tak terhingga.
ErickaEricka16 Maret 2025 Islami
Shalat tarawih
Ilustrasi shalat tarawih (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah yang paling dinantikan oleh umat Islam di bulan Ramadan. Ibadah ini tergolong sebagai Qiyam Ramadan, yaitu shalat malam yang dikerjakan secara khusus di bulan suci.

Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa jumlah rakaat shalat Tarawih umumnya dilakukan sebanyak 20 rakaat ditambah Witir 3 rakaat?

Pada masa Rasulullah ﷺ, shalat ini tidak memiliki jumlah rakaat yang tetap. Rasulullah ﷺ pernah melakukan shalat malam di bulan Ramadan bersama para sahabat, tetapi beliau tidak melanjutkan secara berjamaah setiap malam karena khawatir ibadah ini diwajibkan bagi umatnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Aku tahu apa yang kalian lakukan (shalat berjamaah di malam Ramadan), tetapi aku khawatir jika shalat ini diwajibkan kepada kalian sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari No. 1129, Muslim No. 761)

Karena itu, setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, para sahabat melaksanakan shalat malam Ramadan secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil.

Saat Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memimpin umat Islam, beliau melihat banyaknya umat Muslim yang melaksanakan shalat Tarawih secara terpisah.

Maka, beliau mengumpulkan mereka dalam satu jamaah dengan imam Ubay bin Ka’b. Sejak saat itu, shalat Tarawih mulai dilakukan secara berjamaah dengan jumlah rakaat yang lebih terstruktur.

Diriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Umar, shalat Tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat. Seperti yang disebutkan dalam riwayat dari Yazid bin Ruman:

كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

“Di masa Umar bin Khattab, orang-orang shalat malam di bulan Ramadan sebanyak 23 rakaat (20 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir).” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ No. 249)

Tradisi shalat Tarawih 20 rakaat ini kemudian diteruskan pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Imam Asy-Syafi’i bahkan menyebutkan bahwa penduduk Makkah dan Madinah saat itu telah melaksanakan Tarawih sebanyak 20 rakaat.

وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً

“Aku mendapati orang-orang di Makkah shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat.” (HR. At-Tirmidzi No. 806)

Hingga kini, mayoritas ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa jumlah rakaat shalat Tarawih yang umum dilakukan adalah 20 rakaat ditambah Witir 3 rakaat. Praktik ini juga tetap berlangsung hingga saat ini di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Shalat Tarawih merupakan bentuk ketaatan yang penuh dengan keberkahan. Berapapun jumlah rakaatnya, yang terpenting adalah keikhlasan dan kekhusyukan dalam beribadah.

Dengan meneladani jejak para sahabat dan generasi awal Islam, semoga kita dapat meraih pahala dan keberkahan dari setiap rakaat yang kita kerjakan.

Amalan Ramadan Ibadah Sunnah Qiyam Ramadan Sejarah Islam Shalat Tarawih
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBupati Kukar Safari Sahur dan Subuh di Musholla Al Mubarok
Next Article Asal-Usul Shalat Tarawih 8 Rakaat Plus Witir 3 Rakaat

Informasi lainnya

Sahabat Kecil Rasulullah

13 Februari 2026

Senyum di Tengah Derita

12 Februari 2026

Harta Melimpah, Hati Tetap Zuhud

11 Februari 2026

Ketika Umar Menangis di Tengah Malam

10 Februari 2026

Makna Kiai dalam Tradisi Jawa: Antara Simbol dan Ilmu

19 Januari 2026

Nusaibah binti Ka’ab, Ikon Keberanian

28 Desember 2025
Paling Sering Dibaca

Koneksi dengan Allah Harus Lebih Kuat

Islami Assyifa

Kreasi Lezat dari Tape Bandung yang Bikin Nagih

Food Ericka

Memahami Etika Tak Tertulis di Masyarakat

Daily Tips Alfi Salamah

dr. Dara Ayu: Dari Madrasah Aliyah ke Fakultas Kedokteran

Profil Ericka

Kebebasan Pers yang Dikikis Diam-Diam

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

Pelaku UMKM Kesulitan Jadi Mitra MBG, Syarat Dinilai Berat

BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor