Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

AI Bantu Guru, Tapi Hambat Murid?

Ketika teknologi mempermudah segalanya, muncul pertanyaan mendalam: apakah belajar masih berarti memahami, atau sekadar menyelesaikan tugas?
Alfi SalamahAlfi Salamah23 Januari 2026 Pendidikan
AI dan Pendidikan
Ilustrasi AI dalam dunia pendidikan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

AI kini merambah ruang kelas. Dari fitur koreksi otomatis hingga chatbot pengajar, sekolah dan kampus mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan sebagai alat bantu belajar. Di sisi lain, murid pun menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, meringkas teks, bahkan menulis esai.

Semua ini tampak progresif. Tapi, apakah benar AI selalu membantu? Atau justru mempercepat hilangnya makna belajar yang sejati?

AI Sebagai Alat Bantu Belajar

Tidak bisa disangkal, AI menghadirkan efisiensi luar biasa. Beberapa manfaat nyata di dunia pendidikan:

  • Koreksi otomatis dan personalisasi materi yang menghemat waktu guru.
  • Akses informasi instan bagi murid yang ingin memahami pelajaran secara mandiri.
  • Penerjemahan, text-to-speech, hingga deteksi kesalahan tata bahasa, mempermudah siswa lintas latar belakang.

Semua ini memperkecil kesenjangan akses pendidikan dan mempercepat proses pembelajaran terutama di wilayah 3T dan bagi penyandang disabilitas.

Ketergantungan yang Terlalu Dini

Namun, manfaat itu datang dengan risiko. Banyak guru dan dosen mengeluhkan menurunnya kualitas nalar kritis murid.

Dengan sekali klik, siswa bisa:

  • Meringkas bacaan tanpa membacanya.
  • Menjawab soal esai tanpa memahami konteks.
  • Menghasilkan tugas hanya dari prompt, tanpa berpikir sendiri.

Hasilnya? Proses belajar menjadi pasif, kehilangan tantangan. Bukan lagi soal berpikir, melainkan soal mencari solusi tercepat.

Pendidikan vs Produksi Konten

Ketika AI digunakan hanya untuk menyelesaikan tugas, pendidikan berubah menjadi industri hasil akhir. Murid mengejar nilai, guru mengejar penyelesaian kurikulum, dan AI menjadi jembatan tercepat namun bukan yang mendalam.

Ini menciptakan budaya “asal jadi”, yang dalam jangka panjang bisa merusak kualitas berpikir generasi muda. Bukankah tujuan pendidikan adalah proses, bukan produk?

Tantangan Etika dan Integritas

Penggunaan AI di dunia pendidikan juga menimbulkan persoalan etis:

  • Apakah tugas yang dibuat AI tetap milik murid?
  • Bagaimana menilai keaslian pemikiran siswa?
  • Apakah pendidikan berubah jadi kompetisi antara “prompt siapa yang paling bagus”?

Beberapa institusi mulai menggunakan AI pendeteksi plagiarism AI, tapi ini seperti lingkaran tak berujung, AI untuk melawan AI. Di tengah semua ini, makna orisinalitas dan usaha belajar mulai kabur.

Bukan Larangan, Tapi Adaptasi Bijak

Melarang penggunaan AI di dunia pendidikan adalah langkah mundur. Sebaliknya, pendidikan harus menyesuaikan diri bukan dengan menolak, tapi dengan mengarahkan.

Beberapa langkah strategis:

  • Mengintegrasikan AI sebagai bagian dari proses belajar, bukan alat mencontek.
  • Mengubah model penilaian dari sekadar hasil menjadi proses dan refleksi.
  • Mendorong diskusi kelas yang tidak bisa dijawab oleh AI.
  • Melatih guru untuk memahami AI, agar bisa mendampingi siswa dengan tepat.

Pendidikan harus mengajarkan bukan hanya “apa yang bisa dilakukan AI”, tapi “apa yang hanya bisa dilakukan manusia”: berpikir kritis, empati, dan kreativitas sejati.

AI dalam pendidikan bukan musuh, tapi bukan juga penyelamat mutlak. Ia alat dan seperti semua alat, harus digunakan dengan bijak. Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berpikir bukan hanya menyelesaikan soal.

AI Pendidikan Belajar dengan AI Etika teknologi Masa Depan Edukasi Pendidikan Digital
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSelf Healing, Tren atau Pelarian?
Next Article Al-Azhar Siap Kirim 1.000 Pakar Bahasa Arab ke Indonesia

Informasi lainnya

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

30 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

28 Januari 2026

Diky Candra Siap Kawal Aspirasi Guru Honorer Madrasah

26 Januari 2026

Guru Madrasah Tasikmalaya Tuntut Keadilan dalam Pengangkatan PPPK

26 Januari 2026

Kwaran Lamuru Gelar KMD Penggalang Cetak Pembina Andal

26 Januari 2026

Maraknya Child Grooming, Kurikulum Pendidikan Disorot

20 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Hindari Jebakan Kehidupan

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Halal Kulture District Ajak Muslim Muda Sambut Ramadan Lebih Mindful

Happy Assyifa

Gunung Galunggung Tetap Tenang dan Menawan

Travel Alfi Salamah

Golkar di Persimpangan Jalan

Editorial Udex Mundzir

Perisai Kehidupan

Islami Syamril Al-Bugisyi
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.