Jakarta – Para ilmuwan mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap kondisi lautan dunia yang masih menyimpan panas dalam jumlah besar sejak rekor tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa suhu panas di dalam laut belum mengalami penurunan signifikan, meski kondisi permukaan sempat sedikit mendingin.
Berdasarkan hasil analisis gabungan dari lebih dari 50 ilmuwan internasional, lautan dunia pada 2025 menyerap sekitar 23 zettajoule energi panas. Jumlah ini setara dengan konsumsi energi global manusia selama puluhan tahun.
Temuan tersebut diperkuat oleh data dari Chinese Academy of Sciences, Copernicus Marine Service, dan NOAA/NCEI yang menunjukkan tren serupa dalam peningkatan suhu laut.
Laut diketahui menyerap lebih dari 90 persen panas akibat efek rumah kaca, sehingga menjadi indikator utama dalam mengukur pemanasan global. Tidak seperti suhu udara yang fluktuatif akibat fenomena El Niño dan La Niña, panas di dalam laut cenderung bertahan dalam jangka waktu panjang.
“Laut menjadi indikator utama perubahan iklim karena kemampuannya menyimpan panas dalam jangka panjang,” ungkap salah satu peneliti dalam laporan tersebut.
Meskipun suhu permukaan laut pada 2025 sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya akibat peralihan dari El Niño ke La Niña, jumlah panas yang tersimpan di lapisan laut dalam tetap meningkat. Panas tersebut bahkan tercatat mencapai kedalaman hingga 2.000 meter dari permukaan.
Kondisi ini menyebabkan perubahan signifikan pada pola iklim global. Sekitar 16 persen wilayah laut dunia tercatat mencapai suhu tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Wilayah yang mengalami pemanasan paling cepat meliputi Atlantik tropis dan selatan, Pasifik utara, serta Samudra Selatan.
Peningkatan suhu laut yang tidak merata ini berdampak langsung pada perubahan pola cuaca dan ekosistem laut. Laut yang lebih hangat mempercepat proses penguapan, sehingga meningkatkan kandungan uap air di atmosfer. Akibatnya, curah hujan menjadi lebih tinggi dan memicu terbentuknya badai tropis yang lebih intens.
Sepanjang 2025, kondisi ini dikaitkan dengan berbagai bencana di sejumlah wilayah dunia, termasuk banjir di Asia Tenggara, kekeringan di Timur Tengah, serta banjir di Meksiko dan kawasan Pasifik Barat Laut.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah kenaikan permukaan laut akibat ekspansi termal. Air laut yang lebih hangat akan mengembang, sehingga meningkatkan volume air laut meskipun tanpa tambahan dari pencairan es.
Selain itu, suhu laut yang tinggi juga berkontribusi terhadap meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Laut yang hangat melepaskan panas dan kelembapan ke atmosfer, yang kemudian memperkuat hujan lebat, badai, dan gelombang panas yang berkepanjangan.
Para ilmuwan menegaskan bahwa kondisi ini menjadi peringatan serius bagi dunia. Akumulasi panas di lautan menunjukkan bahwa pemanasan global masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
Jika tren ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan pada ekosistem laut, tetapi juga pada kehidupan manusia secara luas, termasuk ketahanan pangan, keselamatan wilayah pesisir, hingga stabilitas iklim global.
Dengan kondisi tersebut, upaya mitigasi perubahan iklim dinilai semakin mendesak untuk dilakukan secara global guna menekan laju pemanasan bumi yang terus meningkat.
