Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 28 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Indonesia Dinilai Kurang Serius Atasi Polusi Plastik

Alfi SalamahAlfi Salamah29 November 2024 Lingkungan 673 Views
Polusi plastik Indonesia
Ilustrasi - Tumpukan sampah plastik (.azwi)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Busan – Pemerintah Indonesia mendapat sorotan tajam dalam perundingan global tentang polusi plastik di Busan, Korea Selatan, Kamis (28/11/2023). Dalam dokumen yang diajukan, posisi Indonesia dinilai tidak mendukung upaya pengurangan produksi plastik secara signifikan, sehingga mengecewakan banyak pihak.

“Posisi pemerintah sangat mengecewakan, terutama dalam pembahasan pasal enam perjanjian. Pemerintah tidak setuju dengan pengurangan produksi plastik demi kepentingan ekonomi industri plastik,” ujar Abdul Ghofar, Juru Kampanye Polusi dan Perkotaan Walhi, dalam keterangan tertulis.

Ghofar menekankan bahwa tanpa langkah tegas mengurangi produksi plastik, polusi plastik dan krisis iklim tidak akan bisa diatasi. Industri plastik hulu, terutama berbasis minyak bumi dan petrokimia, menjadi salah satu penyebab utama emisi gas rumah kaca.

Sikap pemerintah dalam dokumen tersebut juga dinilai tidak cukup tegas. Ruang lingkup perjanjian yang diajukan lebih banyak berisi prinsip-prinsip luas tanpa komitmen mengikat yang spesifik. Upaya pembatasan bahan kimia berbahaya atau target pengurangan produksi plastik tidak ditekankan.

Baca Juga:
  • BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari
  • Greenpeace: Tambang Nikel Gag Ancam Keanekaragaman Hayati
  • Ribuan Warga Riau Ikuti Karhutla Fun Run 2025
  • SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Senior Advisor Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, menyebut sikap ini membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

“Intervensi pemerintah tidak memprioritaskan kesehatan sebagai fokus utama. Produksi plastik justru terus didorong,” katanya.

Yuyun juga menyoroti pentingnya transparansi terhadap dampak bahan kimia plastik.

Artikel Terkait:
  • Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno
  • Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak
  • Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci
  • Inovasi Panel Surya Ramah Lingkungan Putra Bojonegoro

“Masyarakat berhak tahu bahan kimia berbahaya dari produksi dan emisi industri plastik. Mereka berhak hidup di lingkungan yang aman dan sehat,” tegasnya.

Saat ini, pemerintah Indonesia masih berfokus pada solusi ekonomi sirkular dan Extended Producer Responsibility (EPR). Namun, langkah tersebut dinilai terlalu bergantung pada kesiapan nasional dan dukungan internasional. Alternatif yang lebih ramah lingkungan juga belum menjadi prioritas utama.

Kritik terhadap sikap Indonesia di perundingan ini menjadi pengingat bahwa langkah sistematis dan konkret sangat dibutuhkan. Dunia mengharapkan komitmen tegas dari pemerintah untuk mengatasi polusi plastik yang semakin mengancam lingkungan dan kesehatan.

Jangan Lewatkan:
  • BMKG Prediksi Musim Kemarau 2025 Lebih Kering, Sektor Pertanian Diminta Siaga
  • Indonesia Miliki Potensi 59 GW PLTS dari Lahan Bekas Tambang
  • Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?
  • Sikat Gigi: Kontributor Tersembunyi Krisis Iklim
Abdul Ghofar Polusi plastik Walhi Yuyun Ismawati
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAS dan Inggris Restui Indonesia Masuk OECD
Next Article Airlangga dan Luhut Berbeda Sikap Soal Kenaikan PPN 12%

Informasi lainnya

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

25 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

30 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Penyebab dan Dampak Kesombongan dalam Kehidupan Sehari-Hari

Perspektif Udex Mundzir

Meal Prep, Solusi Orang Sibuk

Daily Tips Alfi Salamah

Growth Mindset

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Bekerja Berat saat Ramadan: Bolehkah Tidak Puasa dan Bayar Fidyah?

Islami Assyifa

Revisi Dam: Ibadah atau Administrasi?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi