Kencan lebih jernih mulai menjadi pilihan menarik bagi generasi muda. Pertemuan pertama tak harus berlangsung dengan koktail di tangan. Kopi, museum, jalan sore, hingga kelas olahraga mulai menawarkan pengalaman berbeda. Tren ini dikenal sebagai sober dating atau kencan tanpa alkohol.
Fenomena tersebut tumbuh bersama gerakan sober curious. Circana menemukan 65 persen Gen Z Amerika berencana mengurangi alkohol pada 2025. Sebanyak 39 persen bahkan berencana menjalani gaya hidup tanpa alkohol sepanjang tahun. Angkanya memperlihatkan perubahan besar pada cara anak muda memandang minuman beralkohol.
Perubahan tersebut kemudian masuk ke kehidupan romantis.
Bumble pernah menemukan 34 persen responden global semakin mempertimbangkan dry date. Kecenderungannya lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Pertemuan sambil minum tidak lagi menjadi satu-satunya formula kencan pertama.
Pilihan ini sebenarnya mempunyai alasan sederhana.
Kencan pertama sudah membawa cukup banyak ketegangan. Dua orang mencoba membaca karakter masing-masing. Mereka mencari kesamaan sambil menjaga percakapan tetap mengalir.
Alkohol selama ini dianggap membantu mencairkan suasana.
Namun, generasi muda mulai mempertanyakan kebutuhan tersebut. Sebagian ingin mengetahui apakah ketertarikan tetap muncul dalam kondisi sepenuhnya sadar.
Tidak ada keberanian yang dipinjam dari alkohol
Tidak ada percakapan yang terlupakan keesokan harinya. Ekspresi, humor, dan kecocokan dapat dinilai dengan lebih jernih.
Sober dating juga mengikuti perubahan gaya hidup Gen Z.
Riset Mintel yang diperbarui pada 23 Februari 2026 menunjukkan pergeseran menarik di Inggris. Aktivitas sosial anak muda semakin beragam. Restoran, kafe, bioskop, dan permainan daring menjadi alternatif untuk bersosialisasi.
Gen Z juga cenderung lebih rendah dalam memprioritaskan belanja alkohol untuk rumah. Mintel melihatnya sebagai bagian dari pergeseran menuju sosialisasi tanpa alkohol.
Namun, tren ini tidak berarti seluruh Gen Z berhenti minum.
Data terbaru justru menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Sebagian Gen Z kembali meningkatkan konsumsi alkohol ketika kehidupan sosial mereka berkembang. Morning Consult mencatat konsumsi mereka meningkat pada sejumlah kategori dalam dua tahun terakhir.
Artinya, perubahan sebenarnya terletak pada pilihan.
Anak muda tidak selalu ingin menghapus alkohol dari kehidupan. Mereka semakin mempertimbangkan kapan, mengapa, dan seberapa banyak mereka ingin minum.
Konsep tersebut sering disebut sober curious.
Seseorang tidak harus mengidentifikasi dirinya sebagai orang yang sepenuhnya berhenti minum. Ia bisa memilih mengurangi konsumsi karena kesehatan, biaya, atau kenyamanan pribadi.
Ada pula konsep damp drinking
Pendekatan ini menekankan moderasi dibandingkan pantangan total. Alkohol mungkin tetap dikonsumsi pada kesempatan tertentu. Namun, minuman tersebut tidak lagi menjadi pusat aktivitas sosial.
Dalam dunia kencan, perubahan ini membuka banyak kemungkinan baru.
Pertemuan pertama bisa dilakukan sambil berjalan di taman. Pasangan dapat mengunjungi galeri seni atau toko buku. Kelas membuat keramik juga memberi ruang percakapan yang lebih alami.
Kencan pada pagi hari bahkan mulai terasa masuk akal.
Dua orang dapat bertemu untuk sarapan atau minum kopi. Pertemuan tidak harus menunggu lampu bar menyala pada malam hari.
Aktivitas semacam itu memiliki keuntungan lain.
Percakapan tidak menjadi satu-satunya pusat perhatian. Ketika suasana sedikit canggung, kegiatan bersama dapat membantu menghidupkan interaksi.
Kencan juga dapat terasa lebih personal
Seseorang yang menyukai buku bisa mengajak pasangannya menjelajahi toko buku. Pecinta alam dapat memilih jalur berjalan kaki. Penggemar makanan bisa mencoba pasar kuliner.
Pilihan aktivitas akhirnya menjadi bagian dari kepribadian.
Tren tanpa alkohol juga didukung semakin banyaknya pilihan minuman alternatif. Circana mencatat 37 persen orang Amerika melihat lebih banyak opsi nonalkohol. Pilihan tersebut muncul di restoran, bar, dan toko.
Gen Z bahkan menjadi kelompok yang sangat menyadari perubahan tersebut.
Sebanyak 53 persen Gen Z melihat semakin banyak pilihan minuman nonalkohol. Media sosial juga membantu memperkenalkan berbagai produk baru kepada konsumen muda.
Jadi, seseorang tetap bisa memesan minuman menarik tanpa alkohol.
Mocktail tidak lagi sekadar jus dengan dekorasi sederhana. Banyak tempat mulai memperlakukan minuman nonalkohol sebagai pengalaman kuliner tersendiri.
Perubahan itu membantu mengurangi stigma.
Dulu, menolak alkohol dalam sebuah pertemuan bisa memunculkan pertanyaan. Kini, keputusan tersebut semakin mudah diterima sebagai preferensi pribadi.
Aplikasi kencan bahkan mulai mengakomodasinya
Bumble menyediakan Sober Badge untuk profil penggunanya. Fitur tersebut memungkinkan seseorang menunjukkan pilihan gaya hidup sejak awal. Platform itu menyebut 39 persen peminum dalam surveinya mengidentifikasi diri sebagai sober curious.
Keterbukaan tersebut dapat membantu mencari pasangan yang lebih kompatibel.
Seseorang tidak perlu memberikan penjelasan panjang ketika bertemu. Pilihan gaya hidup sudah dapat diketahui sejak proses perkenalan.
Namun, sober dating bukan jaminan kencan akan berhasil.
Percakapan masih bisa canggung. Ketertarikan mungkin tidak muncul. Dua orang tetap dapat mengetahui bahwa mereka tidak cocok.
Justru di situlah nilai menariknya.
Kencan tanpa alkohol tidak berusaha menghilangkan ketidaknyamanan sepenuhnya. Ia memberi kesempatan kepada dua orang untuk menghadapi momen tersebut secara autentik.
Ada senyum yang benar-benar muncul karena percakapan.
Ada keberanian yang datang dari diri sendiri. Ada pula keputusan pulang yang dibuat dengan pikiran lebih jernih.
Tren ini juga cocok dengan perubahan definisi romantis generasi muda.
Survei global Bumble terhadap 41.294 anggota berusia 18 hingga 35 tahun menemukan pergeseran tersebut. Sebanyak 86 persen responden menilai kasih sayang juga hadir melalui tindakan kecil. Mengirim meme atau playlist bisa menjadi bentuk perhatian.
Hampir separuh Gen Z juga melihat minat bersama sebagai bentuk kedekatan. Buku, musik, olahraga, dan komunitas dapat menjadi pintu menuju hubungan romantis.
Romantisme akhirnya tidak harus selalu tampil megah
Pertemuan sederhana bisa terasa lebih berarti ketika dua orang benar-benar terhubung.
Sober dating kemungkinan bukan akhir dari budaya minum dalam dunia kencan. Data terbaru menunjukkan hubungan Gen Z dengan alkohol tetap dinamis. Sebagian mengurangi, sementara sebagian lainnya kembali minum secara sosial.
Namun, satu perubahan tampaknya semakin jelas.
Alkohol tidak lagi harus menjadi tiket masuk menuju kedekatan. Generasi muda mempunyai lebih banyak pilihan untuk bertemu, berbicara, dan membangun hubungan.
Kencan terbaik mungkin bukan yang memiliki minuman paling menarik.
Ia bisa berupa dua cangkir kopi, perjalanan singkat, dan percakapan yang lupa melihat waktu. Sebab, ketika koneksi benar-benar muncul, suasana tidak selalu membutuhkan bantuan dari segelas alkohol.
