Jakarta – Pendiri Martha Tilaar Group tersebut mengembuskan napas terakhir pada Rabu (14/10/2026), pukul 06.22 WIB, di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Martha meninggal setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan, termasuk riwayat asma yang disampaikan keluarganya. Kabar duka diumumkan melalui akun Instagram resmi Martha Tilaar Group dan dikonfirmasi kedua putranya, Bryan David Emil Tilaar dan Kilala Tilaar.
Kepergian Martha membawa duka bagi keluarga dan kalangan industri kecantikan nasional. Selama lebih dari lima dekade, perempuan kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937, itu dikenal sebagai salah satu pelopor pengembangan kosmetik lokal yang memadukan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern.
Putra bungsunya, Kilala Tilaar, mengatakan sang ibu mengalami gangguan kesehatan sekitar sepekan sebelum meninggal. Martha berpulang saat beristirahat setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kami mohon doanya supaya Ibu juga nanti damai di sisi Tuhan,” ujar Kilala Tilaar saat memberikan keterangan kepada ANTARA di rumah duka kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan (14/10/26).
Bryan Tilaar menjelaskan ibunya sempat menjalani perawatan sekitar delapan hingga sembilan hari. Selain memiliki riwayat asma, Martha pernah mengalami masalah perdarahan yang membutuhkan transfusi darah.
Jenazah Martha disemayamkan di kediaman keluarga, Jalan Patra Kuningan Utara, Setiabudi, Jakarta Selatan. Keluarga menjadwalkan pemakaman pada Jumat (16/10/2026) di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, setelah rangkaian penghormatan dan doa.
Berawal dari Garasi Kecil di Menteng
Perjalanan bisnis Martha Tilaar bermula pada 1970. Dengan memanfaatkan garasi rumah orang tuanya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ia membuka salon kecantikan sederhana yang kemudian berkembang menjadi fondasi Martha Tilaar Group.
Berdasarkan sejarah resmi perusahaan, salon pertama itu menempati ruangan berukuran sekitar 4 x 6 meter. Pada 1972, Martha membuka salon kedua bernama Martha Griya Salon di Menteng, sekaligus mulai mengembangkan perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal.
Langkah tersebut berangkat dari perpaduan pendidikan dan pengalaman yang diperolehnya. Martha pernah menempuh pendidikan sejarah di IKIP Jakarta serta mempelajari kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.
Bekal pendidikan modern tidak membuatnya meninggalkan pengetahuan tradisional Indonesia. Ia justru melihat praktik perawatan tubuh, penggunaan tanaman obat, dan ramuan kecantikan sebagai kekayaan budaya yang dapat dikembangkan melalui penelitian.
Perkembangan usahanya memasuki tahap penting pada 1977 ketika Martha bersama mitra bisnis mendirikan PT Martina Berto dan memperkenalkan Sariayu. Merek tersebut dikembangkan sebagai produk kecantikan dan jamu modern yang mengambil inspirasi dari bahan alami serta tradisi perawatan perempuan Indonesia.
Perusahaan kemudian membangun fasilitas produksi di kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur, pada 1981. Ekspansi tersebut memperluas kegiatan usaha dari pelayanan salon menjadi produksi kosmetik dalam skala industri.
Mengangkat Pengetahuan Kecantikan Nusantara
Salah satu ciri utama perjalanan Martha adalah upayanya mengangkat pengetahuan kecantikan tradisional ke dalam produk modern. Pengembangan awal Sariayu antara lain dilakukan melalui penelitian terhadap manuskrip kuno Keraton Yogyakarta yang memuat tata cara perawatan kecantikan perempuan bangsawan Jawa.
Menurut sejarah resmi Sariayu, Martha juga melibatkan ahli antropologi untuk memahami nilai sejarah dan kebudayaan di balik berbagai praktik perawatan tradisional. Pengetahuan tersebut kemudian dipadukan dengan riset bahan, teknologi produksi, dan kebutuhan konsumen.
Pendekatan itu memberikan tempat bagi tradisi lokal dalam industri kosmetik. Jamu, tanaman herbal, serta pengetahuan perawatan tubuh yang sebelumnya banyak diwariskan melalui keluarga memperoleh ruang pengembangan sebagai produk komersial.
Pada 1987, Martha memperkenalkan koleksi tren warna Sariayu yang terinspirasi dari kekayaan budaya Indonesia. Gagasan tersebut terus berkembang melalui tema-tema yang mengangkat alam, tradisi, dan identitas berbagai daerah Nusantara.
Perancang busana Itang Yunasz mengenang keterlibatannya dalam sejumlah kegiatan kecantikan yang digagas Martha. Salah satu pengalaman yang paling diingatnya adalah kolaborasi bertema Dewi Sri, figur yang dikenal dalam tradisi agraris masyarakat Jawa.
“Kemenangan banyak diraih tapi yang sangat berkesan adalah tema ‘Dewi Sri’,” kata Itang Yunasz ketika mengenang kolaborasinya dengan Martha melalui wawancara bersama ANTARA di Jakarta (14/10/26).
Bagi Itang, Martha merupakan sosok pekerja keras yang terbuka terhadap gagasan baru. Ia juga memiliki keinginan kuat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui perpaduan tata rias, busana, dan kreativitas para pelaku industri.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa kosmetik tidak semata berkaitan dengan penampilan. Pemilihan bahan, warna, dan konsep produk dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali pengetahuan serta simbol kebudayaan kepada masyarakat.
Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan
Selain membangun perusahaan kosmetik, Martha mengembangkan pendidikan keterampilan kecantikan melalui Puspita Martha. Lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari usahanya menyiapkan tenaga terampil di bidang tata rias, perawatan tubuh, dan pelayanan kecantikan.
Kegiatan pendidikan itu membuka jalur pembelajaran keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja maupun membangun usaha mandiri. Bidang kecantikan yang semula banyak dijalankan melalui pengalaman informal semakin berkembang menjadi profesi dengan kebutuhan pengetahuan dan keterampilan khusus.
Perhatian terhadap riset juga diteruskan melalui Martha Tilaar Innovation Center. Pusat penelitian perusahaan di Pulogadung melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, termasuk farmasi, bioteknologi, dan bidang kesehatan kulit, untuk mengembangkan bahan serta formulasi kosmetik.
Pada Juni 2025, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia dan Martha Tilaar Group membahas penguatan kerja sama pendidikan serta penelitian kosmetik. Program yang direncanakan mencakup edukasi kewirausahaan bagi mahasiswa, kolaborasi riset, dan penjajakan laboratorium kosmetik sebagai sarana pembelajaran berbasis industri.
Kerja sama perguruan tinggi dan industri tersebut memperlihatkan kesinambungan gagasan yang dirintis Martha. Pengetahuan mengenai bahan alam tidak berhenti pada resep tradisional, tetapi dapat menjadi objek penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi.
Pesan mengenai manfaat sosial usaha juga disampaikan Martha kepada keluarganya. Bryan Tilaar mengungkapkan bahwa ibunya selalu menekankan pentingnya mencintai Indonesia dan menjalankan bisnis yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Bahwa kita berbisnis itu harus berdampak pada sosial bukan hanya komersialisasi semata,” ujar Bryan Tilaar saat menyampaikan pesan ibunya kepada wartawan di rumah duka, Jalan Patra Kuningan Utara, Jakarta Selatan (14/10/26).
Prinsip tersebut tercermin dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pemberdayaan yang dikembangkan kelompok usahanya. Martha juga dikenal mendorong pengembangan keterampilan perempuan sebagai bekal memperoleh penghasilan dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
Pengaruhnya Melampaui Industri Kosmetik
Kiprah Martha tidak terbatas pada produksi kosmetik. Pengembangan produk berbasis kebudayaan membawanya berinteraksi dengan perancang busana, penata rias, peneliti, tenaga pendidikan, serta pelaku industri kreatif.
Salah seorang pendiri Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Musa Widyatmodjo, mengenang Martha sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan industri mode dan produk lokal.
“Ibu orangnya sangat perhatian terhadap perkembangan dunia mode nasional,” kata Musa Widyatmodjo saat memberikan keterangan kepada ANTARA melalui wawancara di Jakarta (14/10/26).
Musa juga menilai Martha memiliki kepedulian terhadap pekerja perempuan dan perkembangan generasi muda. Menurutnya, Martha senang menerima masukan serta mendorong lahirnya gagasan baru dalam industri kreatif.
Pengabdian Martha pada pelestarian budaya memperoleh pengakuan negara. Pada 2016, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepadanya atas kontribusi dalam memodernisasi serta membangkitkan kembali budaya hidup sehat melalui jamu.
Penghargaan tersebut menempatkan pengembangan jamu dan pengetahuan kecantikan tradisional sebagai bagian dari kerja kebudayaan. Melalui penelitian dan pengembangan usaha, pengetahuan yang diwariskan masyarakat dapat terus digunakan sekaligus diperkenalkan kepada generasi baru.
Dalam perkembangannya, Martha Tilaar Group juga menghadirkan beragam merek, seperti Biokos, Belia, Professional Artist Cosmetics (PAC), dan Dewi Sri Spa. Kehadiran produk untuk berbagai kebutuhan konsumen memperluas pilihan kosmetik lokal di pasar Indonesia.
Warisan untuk Generasi Berikutnya
Martha meninggalkan empat anak, yakni Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Tilaar, dan Kilala Tilaar, serta sembilan cucu. Di luar keluarga, kepergiannya juga meninggalkan tanggung jawab bagi generasi penerus perusahaan untuk menjaga nilai yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan merek Sariayu dan jaringan usaha yang telah berkembang. Penguatan penelitian bahan lokal, pendidikan tenaga kecantikan, dan keberlanjutan pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dari warisan tersebut.
Dari sebuah garasi di Menteng, Martha Tilaar membuktikan bahwa pengetahuan tradisional dapat memperoleh tempat dalam industri modern melalui pendidikan, penelitian, dan ketekunan usaha. Ia meninggalkan perusahaan yang terus berjalan, sekaligus gagasan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki nilai untuk dikembangkan oleh generasi berikutnya.
