Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 7 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat

Ketika pohon hilang dari permukaan bumi, kita bukan hanya kehilangan pepohonan kita kehilangan kehidupan itu sendiri dalam berbagai bentuknya.
Alfi SalamahAlfi Salamah28 Desember 2025 Opini
Pelestaria alam
Pepohonan adalah penyeimbang alam (IST)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email


Bayangkan sejenak sebuah bumi tanpa pohon. Gambarannya mungkin terlihat sunyi: langit terlihat lebih cerah tanpa kanopi hijau, tanah terlihat lebih tandus tanpa akar yang menahan, dan udara terasa berbeda tanpa hembusan dari hutan yang luas. Namun, imajinasi ini bukan sekadar visual kosong. Ini adalah bayangan nyata tentang apa yang akan terjadi jika kita terus merusak hutan, membabat pepohonan tanpa menggantinya, dan tidak memberikan ruang bagi alam untuk pulih.

Pohon bukan sekadar elemen estetika di taman atau latar belakang foto. Mereka adalah bagian fundamental dari sistem kehidupan yang saling bergantung. Peran mereka begitu besar dan luas sehingga, ketika hilang, seluruh proses alami yang terlihat stabil selama ribuan tahun bisa runtuh.

Paru-Paru Dunia yang Menyempit

Walaupun sering dianggap biasa saja, fungsi utama pepohonan seperti produksi oksigen, pengaturan iklim, hingga perannya dalam siklus air ternyata amat penting. Tanpa proses fotosintesis pohon, karbon dioksida akan terus menumpuk di atmosfer dan mempercepat efek rumah kaca.

Akibatnya, suhu bumi meningkat, musim menjadi tak menentu, dan bencana iklim seperti banjir, gelombang panas, serta kekeringan akan terjadi lebih sering dan lebih ekstrem. Pepohonan bukan hanya menyerap karbon, tetapi juga meredam panas melalui bayangan dan penguapan.

Habitat Musnah, Ekosistem Runtuh

Hilangnya pepohonan berarti hancurnya rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna. Hutan tropis Indonesia, misalnya, merupakan rumah bagi lebih dari 10% spesies yang ada di dunia. Tanpa pohon, ekosistem ini kehilangan keseimbangan.

Kerusakan ini membuat rantai makanan terputus, dan spesies-spesies punah dalam skala yang mengkhawatirkan. Di sisi lain, hilangnya biodiversitas memperbesar risiko zoonosis atau penyakit yang melompat dari hewan ke manusia.

Banjir dan Longsor Tak Terhindarkan

Tanpa akar pohon, tanah kehilangan daya cengkeram. Air hujan tidak lagi diserap, tetapi mengalir deras membawa tanah bersamanya. Akibatnya, erosi, longsor, dan banjir jadi lebih sering dan sulit dikendalikan.

Contoh konkritnya terlihat di daerah pegunungan yang gundul di Jawa Barat dan Kalimantan. Setiap musim hujan, desa-desa di kaki bukit terendam atau tersapu longsor karena minimnya vegetasi penyangga.

Krisis Air Bersih dan Kekeringan

Pohon menjaga cadangan air tanah dengan menyerap air ke dalam akar dan melepaskannya perlahan melalui proses transpirasi. Ketika pohon ditebang, kemampuan tanah menyimpan air berkurang drastis.

Di banyak daerah yang dulunya berhutan, kini warga menghadapi krisis air bersih. Sumur mengering lebih cepat, mata air hilang, dan konflik antarwarga terkait akses air semakin meningkat.

Kualitas Udara Memburuk

Pohon berfungsi sebagai penyaring alami udara. Mereka menyerap gas berbahaya seperti sulfur dioksida dan karbon monoksida. Jika pepohonan hilang, tidak ada lagi sistem alami yang membersihkan udara dari racun-racun ini.

Dampaknya, penyakit pernapasan akan meningkat pesat. Kota besar seperti Jakarta, dengan sedikit ruang hijau, menjadi contoh nyata bagaimana minimnya pohon memperburuk polusi udara dan kualitas hidup warganya.

Kehidupan Sosial Ekonomi Terancam

Di luar fungsi ekologis, pepohonan menopang kehidupan ekonomi jutaan orang. Hutan menjadi sumber kayu, makanan, obat, dan penghidupan bagi masyarakat adat serta petani hutan.

Jika pepohonan hilang, sumber pendapatan ini lenyap. Ketimpangan meningkat, kemiskinan bertambah, dan urbanisasi tak terkendali karena masyarakat desa kehilangan sumber daya untuk bertahan hidup.

Ekonomi Nasional Ikut Runtuh

Sektor pertanian, kehutanan, pariwisata, dan energi terbarukan bergantung pada keberadaan hutan. Jika pepohonan habis, kerugian ekonomi akan sangat besar tidak hanya secara lokal tapi juga nasional.

Menurut data Bappenas, kerusakan hutan Indonesia berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari Rp500 triliun dalam dua dekade mendatang, jika tidak ada upaya pemulihan ekosistem secara serius.

Warisan Budaya Menghilang

Bagi masyarakat adat, hutan bukan hanya ruang hidup tetapi juga identitas dan spiritualitas. Hilangnya pepohonan berarti hilangnya tempat keramat, sistem pengetahuan tradisional, dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.

Tanpa hutan, hubungan manusia dengan alam menjadi semakin dangkal. Budaya lokal yang berakar pada alam pun terancam punah seiring hilangnya pepohonan.

Kegagalan Hukum dan Kebijakan

Banyak undang-undang tentang perlindungan hutan belum berjalan efektif. Penegakan hukum lemah, dan kepentingan industri kerap mendominasi kebijakan lingkungan. Tanpa regulasi yang berpihak pada kelestarian, pepohonan terus ditebang tanpa kontrol.

Pemerintah harus segera menguatkan instrumen hukum, memperluas kawasan konservasi, serta memberi insentif bagi masyarakat dan korporasi yang melakukan restorasi hutan.

Saatnya Bertindak: Tanam dan Jaga Pohon

Solusi bukan hanya menanam pohon, tetapi memastikan pohon-pohon itu tumbuh sehat dan dilindungi. Reboisasi harus berbasis komunitas, berkelanjutan, dan sesuai konteks lokal.

Edukasi, teknologi pemantauan satelit, serta kolaborasi lintas sektor harus digencarkan. Dunia tak lagi bisa menunda menjaga pohon adalah menjaga masa depan.

Hilangnya pohon bukan hanya soal lingkungan. Ini adalah persoalan hidup dan mati bagi peradaban. Ketika kita menebang pohon tanpa batas, kita sebenarnya sedang menebang fondasi kehidupan kita sendiri.

Keanekaragaman Hayati Krisis Ekologis Pelestarian Lingkungan Perubahan Iklim
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePukat UGM Kritik KPK Hentikan Kasus Tambang Rp2,7 T
Next Article Nusaibah binti Ka’ab, Ikon Keberanian

Informasi lainnya

Urban Farming: Mandiri di Kota

18 Januari 2026

Tren Fashion Terbaru 2026

16 Januari 2026

TikTok & Konten Viral

16 Januari 2026

Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

28 Desember 2025

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

26 Oktober 2025

Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah

21 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Harun Ar Rasyid: Al Qur’an dan Kuam Muslimin Ibarat Ikan dengan Air

Profil Dexpert Corp

Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas

Editorial Udex Mundzir

Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?

Opini Udex Mundzir

Orde Baru Jauh Lebih Baik

Editorial Udex Mundzir

Rekomendasi 10 Restaurant Terbaik di Jepang yang Harus Kamu Kunjungi!

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Hukum
Ericka6 Agustus 2025

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.