Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

Di atas gelombang samudra dan politik lelaki, ia berdiri tegak membawa panji perlawanan yang tak lekang oleh zaman.
Alfi SalamahAlfi Salamah30 Januari 2026 Profil
Malahayati
Pahlawan Indonesia yang jarang diketahui, Malahayati (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Namanya mulai dikenal kembali ketika Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 2017. Namun sejatinya, Malahayati telah menulis sejarah jauh sebelum itu, dengan keberanian dan strategi yang bahkan sulit disaingi oleh panglima lelaki sezamannya.

Ia bukan sekadar simbol perempuan tangguh. Ia adalah laksamana perempuan pertama di dunia modern seorang pemimpin angkatan laut yang memimpin pasukan perang, menantang penjajah asing, dan menorehkan keberanian dalam lembar sejarah Kesultanan Aceh abad ke‑16.

Dari Daratan Aceh ke Lautan Perlawanan

Keumalahayati lahir dari keluarga bangsawan Aceh yang dekat dengan lingkungan istana dan militer. Sejak kecil, ia terpapar pada budaya maritim dan sistem pertahanan kerajaan. Ia tumbuh sebagai perempuan yang tidak hanya terpelajar, tapi juga terlatih secara militer.

Pendidikan militernya tak sekadar formalitas. Ia mempelajari strategi perang laut dan menjadi ahli dalam pergerakan pasukan, termasuk penguasaan taktik melawan armada asing. Di bawah pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil, ia diangkat sebagai Laksamana bukan karena garis keturunan, tapi karena kapabilitas dan pengabdiannya.

Inong Balee: Pasukan Perempuan Pembalas

Kepemimpinan Malahayati menjadi nyata saat ia membentuk dan memimpin pasukan Inong Balee, yang berarti “janda-janda pejuang.” Pasukan ini berisi perempuan-perempuan yang ditinggal mati oleh suami mereka di medan perang, dan memilih melanjutkan perjuangan dengan senjata.

Jumlah pasukan ini mencapai ribuan, dan mereka bukan hanya simbol ketangguhan moral, tetapi kekuatan tempur sejati. Dipimpin langsung oleh Malahayati, mereka menjaga perairan Aceh dari gangguan Portugis dan Belanda dua kekuatan kolonial utama pada masa itu.

Duel di Laut: Kematian Cornelis de Houtman

Salah satu peristiwa paling legendaris dalam sejarah Malahayati adalah keterlibatannya dalam konflik dengan armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman. Dalam sebuah pertempuran laut tahun 1599, Malahayati berhasil mengalahkan dan dikabarkan membunuh langsung Houtman tokoh penting dalam sejarah pelayaran kolonial Belanda.

Peristiwa ini membuat Belanda menyadari kekuatan dan kecerdikan strategi militer Aceh, khususnya di bawah komando seorang perempuan. Ini juga menjadi momen simbolik bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, tapi bisa menjadi penentu jalannya peradaban.

Diplomasi dan Ketegasan

Malahayati tidak hanya ahli perang, tapi juga cakap dalam diplomasi. Ketika Belanda kembali mengirim utusan, ia menerima negosiasi secara resmi tetapi tetap menunjukkan posisi tegas bahwa kedaulatan Aceh bukan untuk ditawar.

Kemampuan berpolitik ini menjadikan dirinya bukan hanya jenderal tempur, tetapi negarawan. Ia mampu membaca situasi geopolitik dan melindungi martabat bangsanya melalui jalur perang maupun diplomasi.

Jejak yang Terhapus, Tapi Tak Pernah Hilang

Meski sosoknya sangat penting, catatan sejarah tentang Malahayati sempat tenggelam. Narasi besar sejarah Indonesia, terutama pada masa kolonial dan pasca-kemerdekaan, jarang menyebut peran perempuan dalam medan perang.

Namun sejarawan lokal dan nasional akhirnya mulai mengangkat kembali namanya, terutama melalui studi tentang Kesultanan Aceh dan peran militer perempuan. Dengan data dan bukti sejarah yang cukup, pemerintah Indonesia pada 9 November 2017 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Malahayati.

Warisan di Atas Samudra

Warisan Malahayati hidup hingga kini. Namanya diabadikan sebagai KRI Malahayati (362), kapal perang milik TNI Angkatan Laut yang aktif menjaga wilayah kedaulatan laut Indonesia.

Namanya juga dijadikan nama universitas, jalan raya, pelabuhan, dan pusat riset perempuan di Aceh dan berbagai wilayah lainnya. Di tingkat internasional, kisahnya mulai dikenal sebagai pelopor militer perempuan dunia bahkan disebut dalam forum UNESCO.

Namun warisan terbesarnya adalah semangat. Semangat bahwa perempuan punya tempat dalam sejarah bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai pemimpin, pengambil keputusan, dan pembela tanah air.

Inspirasi Perempuan Masa Kini

Di tengah masyarakat yang masih menyisakan bias gender dalam kepemimpinan, kisah Malahayati menjadi sangat relevan. Ia bukan hanya melawan penjajah asing, tapi juga melawan stereotip yang membatasi perempuan dalam ruang domestik.

Ia menunjukkan bahwa keberanian dan kecerdasan tidak mengenal jenis kelamin. Kepemimpinan tidak ditentukan oleh suara berat atau seragam tebal, tapi oleh keberpihakan pada rakyat dan kesetiaan pada prinsip.

Malahayati telah membuktikan bahwa medan laut, seperti medan sejarah, bisa diarungi oleh siapa pun yang berani.

Malahayati Pahlawan Nasional Perempuan Pejuang Profil Tokoh Sejarah Aceh
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleUsai Dituduh Pakai Spons, Pedagang Es Gabus Dapat Kulkas dari TNI
Next Article Cappadocia: Kota Bawah Tanah yang Membongkar Sejarah

Informasi lainnya

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

29 Januari 2026

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

27 Januari 2026

Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang

24 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Mengakhiri Bayang Jokowi

Editorial Udex Mundzir

Hukum Membaca Surah Pendek dalam Shalat Khafifatain

Islami Ericka

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

Editorial Udex Mundzir

Menjadi Lebih Baik

Islami Syamril Al-Bugisyi

Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?

Opini Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.