Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Otto Iskandardinata, Sang Jalak Harupat dari Tanah Sunda

Keberanian dan integritas menjadikan Otto simbol pers dan kemerdekaan Indonesia.
ErickaEricka26 Mei 2025 Tokoh
Otto Iskandardinata
Otto Iskandardinata (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Seperti burung jalak yang tak gentar menghadapi badai, Otto Iskandardinata menjelma menjadi simbol keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sosoknya dikenal luas dengan julukan “Si Jalak Harupat”, lambang kegigihan dari tanah Sunda yang mengakar kuat dalam sejarah republik ini.

Lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Otto berasal dari keluarga bangsawan Sunda. Ayahnya, Raden Haji Rachmat Adam, adalah seorang kepala desa, memberi Otto pendidikan sejak dini yang mengantarnya ke HIS Bandung dan kemudian ke sekolah guru di Purworejo. Setelah lulus, Otto mengabdi sebagai guru di Banjarnegara dan Bandung, sembari menyelami dunia pergerakan.

Nama Otto mencuat di organisasi-organisasi besar seperti Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan. Ia menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pasundan selama lebih dari satu dekade, mengarahkan fokus organisasi pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat Sunda, termasuk kaum perempuan. Keterlibatannya dalam Volksraad sejak 1930 menunjukkan kepercayaan rakyat dan tekad Otto memperjuangkan nasib bumiputra di parlemen kolonial.

Pada masa pendudukan Jepang, Otto memimpin surat kabar Tjahaja dan terlibat dalam BPUPKI serta PPKI, dua badan penting yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Ia turut menyusun dasar negara dan menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia setelah proklamasi.

Namun, dedikasi itu harus dibayar mahal. Pada 19 Desember 1945, Otto diculik oleh kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Laskar Hitam. Ia diyakini tewas di Pantai Mauk, Tangerang, dan jenazahnya tak pernah ditemukan. Meski raganya hilang, semangatnya tetap hidup dalam ingatan bangsa.

Sebagai penghormatan, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1973. Namanya kini abadi di jalan-jalan besar, stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung, dan pernah pula menghiasi uang kertas pecahan Rp 20.000, pengingat keberanian tanpa kompromi dari seorang putra Sunda.

Otto Iskandardinata bukan hanya guru atau politisi, ia adalah simbol bahwa perjuangan bisa berasal dari pena dan pidato, bukan hanya dari senjata.

Otto Iskandardinata Pahlawan Nasional Perjuangan Kemerdekaan Sejarah Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDua Koperasi Merah Putih Resmi Berdiri di Samarinda
Next Article Outfit Kantor Simpel ala Capsule Wardrobe

Informasi lainnya

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

30 Januari 2026

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

27 Januari 2026

Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit dalam Badai Sejarah

4 Januari 2026

Mochtar Kusumaatmadja, Arsitek Laut Nusantara

4 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Pepaya Callina: Manis, Padat, dan Bukan dari California

Food Assyifa

Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat

Editorial Udex Mundzir

Lumbung Korupsi dalam Demokrasi yang Terganjal

Editorial Udex Mundzir

Tukin Dosen: Antara Janji dan Realita

Editorial Udex Mundzir

Pancasila Bukan Milik Satu Nama

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.