Sarwo Edhie Wibowo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1925. Ia menempuh pendidikan militer di Pembela Tanah Air (PETA), cikal bakal TNI, saat Indonesia masih di bawah penjajahan Jepang. Usai proklamasi kemerdekaan, Sarwo Edhie aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan terlibat dalam berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan.
Kemampuannya memimpin pasukan dan ketegasannya dalam lapangan membuat namanya cepat naik. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, tegas, dan sangat loyal pada institusi militer.
Komandan RPKAD Saat Tragedi 1965
Puncak karier Sarwo Edhie datang saat ia menjabat sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) kini dikenal sebagai Kopassus. Di posisi inilah namanya lekat dengan peristiwa besar sejarah Indonesia: penumpasan G30S/PKI pada tahun 1965.
RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie memainkan peran kunci dalam menindak para tersangka anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di berbagai wilayah Jawa. Operasi ini membentang dari pengamanan ibu kota, pembubaran organisasi massa afiliasi PKI, hingga pembersihan di pedesaan.
Antara Kepahlawanan dan Kontroversi
Peran Sarwo Edhie dalam peristiwa pasca-G30S selalu menjadi perdebatan. Di satu sisi, ia dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan Indonesia dari ancaman ideologi komunisme. Di sisi lain, ia juga dikritik karena dianggap terlibat dalam operasi militer yang menimbulkan banyak korban sipil, terutama dalam peristiwa pembantaian massal 1965–1966.
Namun, yang tak bisa disangkal: Sarwo Edhie adalah tokoh militer yang sangat berpengaruh pada masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Ia menjadi wajah militer Indonesia yang keras, disiplin, dan loyal terhadap negara, terutama pada masa awal kekuasaan Soeharto.
Karier Politik dan Hubungan dengan Soeharto
Setelah mengakhiri tugas militernya, Sarwo Edhie dipercaya menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Korea Selatan, kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), dan juga sempat menjabat sebagai Gubernur Lemhanas.
Namun, hubungannya dengan Presiden Soeharto perlahan merenggang. Ia menjadi salah satu tokoh yang bersuara kritis terhadap korupsi dan gaya pemerintahan Orde Baru, terutama menjelang akhir masa baktinya. Hal ini membuatnya tidak lagi mendapat posisi strategis di lingkar kekuasaan, meskipun namanya tetap disegani di kalangan militer.
Keluarga Militer, Cikal Bakal Generasi Baru
Sarwo Edhie Wibowo juga dikenal sebagai ayah dari Kristiani Herawati, yang kelak menjadi Ibu Negara Indonesia (2004–2014) saat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia juga kakek dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tokoh muda politik Indonesia saat ini.
Warisan nilai militer, kedisiplinan, dan nasionalisme dari Sarwo Edhie terlihat jelas dalam keluarga besarnya menjadikannya sebagai figur patriarkal militer dan politik Indonesia modern.
Akhir Hayat dan Pengakuan Negara
Sarwo Edhie Wibowo wafat pada 9 November 1989. Bertahun-tahun kemudian, peran dan jasanya kembali dikenang secara resmi oleh negara. Pada 10 November 2023, Presiden RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie. Penghargaan tertinggi yang diberikan atas jasanya dalam mempertahankan dan membela kedaulatan Indonesia.
Gelar ini menuai tanggapan beragam, namun menegaskan posisi Sarwo Edhie sebagai figur penting yang tak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia pasca-1965.
Tentara, Sejarah, dan Dilema Bangsa
Sarwo Edhie Wibowo adalah prajurit dalam badai sejarah. Ia berdiri di tengah persimpangan antara penyelamatan negara dan tragedi kemanusiaan. Dalam segala kontroversi yang mengiringi namanya, satu hal jelas: peran dan jejaknya telah mengubah arah perjalanan republik ini.
Sebagai media, kami percaya penting untuk menempatkan tokoh seperti Sarwo Edhie dalam kerangka sejarah yang utuh bukan sekadar sebagai pahlawan, tapi sebagai refleksi dari kompleksitas sejarah bangsa.
