Jakarta – Menjelang musim haji, menjaga kesehatan ibarat “bekal utama” yang tak terlihat namun menentukan kelancaran ibadah, terutama bagi jamaah dengan penyakit penyerta atau komorbiditas. Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI) pun mengingatkan pentingnya kesiapan fisik agar ibadah tidak terganggu kondisi kesehatan.
Ketua Umum PERDOKHI, Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie, SpKFR, MARS, AIFO-K, menegaskan bahwa jamaah dengan komorbid perlu menjaga status istitha’ah melalui pola hidup sehat. Hal ini mencakup konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menghindari makanan yang dapat memicu peningkatan kolesterol. Ia menyarankan agar jamaah mengonsumsi makanan seimbang seperti nasi, ikan, daging, telur, serta sayur dan buah yang kaya serat.
“Pertama memelihara status istitha’ah-nya dengan melakukan olahraga teratur, asupan makanan bergizi, dan menghindari makanan pemicu hiperkolesterolemia,” kata Syarief, pada Jumat (10/4/2026).
Ia juga menekankan pentingnya menghindari makanan tinggi garam, gula, dan santan yang berisiko memperburuk kondisi kesehatan. Selain itu, kebutuhan cairan harus tercukupi dengan minum air putih secara rutin untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi selama menjalani rangkaian ibadah.
“Jangan lupa untuk meminum vitamin atau suplemen setiap hari,” ujarnya.
Dalam persiapan fisik, jamaah dianjurkan melakukan aktivitas olahraga ringan hingga sedang selama 40–60 menit, minimal tiga kali dalam sepekan. Aktivitas seperti jalan kaki, berenang, bersepeda, atau jogging dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh sebelum keberangkatan.
Selain menjaga kebugaran, jamaah dengan komorbid juga diingatkan untuk disiplin dalam konsumsi obat. Mereka diminta membawa persediaan obat yang cukup selama berada di Arab Saudi dan menyimpannya di tempat yang mudah dijangkau agar tidak terlewat.
PERDOKHI juga menyoroti pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat, istirahat yang cukup, serta menjaga kondisi mental tetap positif. Hal ini dinilai berpengaruh besar terhadap ketahanan fisik selama menjalankan ibadah haji yang padat dan melelahkan.
Setibanya di Tanah Suci, jamaah disarankan mengatur aktivitas ibadah sesuai kemampuan fisik masing-masing. Prioritas ibadah perlu disesuaikan agar tidak memaksakan diri yang berujung pada kelelahan atau gangguan kesehatan.
Sebagai informasi, pemerintah Indonesia pada tahun ini memperoleh kuota sebanyak 221.000 jamaah haji. Proses pemberangkatan dijadwalkan dimulai pada [22 April 2026], sehingga persiapan kesehatan menjadi hal krusial yang tidak boleh diabaikan.
Dengan berbagai langkah preventif tersebut, diharapkan jamaah haji, khususnya yang memiliki penyakit penyerta, dapat menjalankan ibadah dengan lancar, aman, dan dalam kondisi prima hingga kembali ke Tanah Air.
