Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 20 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Antrean Haji Panjang Disorot, Sistem Dinilai Tak Adil Lagi

Polemik antrean haji puluhan tahun memicu evaluasi serius pemerintah demi menghadirkan kepastian ibadah yang lebih realistis.
Alfi SalamahAlfi Salamah11 April 2026 Nasional
Masjidil Haram di Mekkah
Masjidil Haram di Mekkah (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Antrean haji yang mengular hingga puluhan tahun kini diibaratkan seperti “waktu yang membeku”, sesuatu yang selama ini dianggap wajar namun sesungguhnya menyimpan persoalan mendasar dalam penyelenggaraan ibadah di Indonesia. Dengan lebih dari 5,7 juta calon jemaah dalam daftar tunggu, realitas ini memantik pertanyaan besar tentang keadilan dan relevansi sistem yang berlaku saat ini.

Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah mulai mendorong perubahan signifikan. Dalam taklimat yang disampaikan Presiden ditegaskan bahwa upaya memperpendek masa tunggu menjadi prioritas, termasuk memperbaiki tata kelola dan memastikan distribusi keberangkatan yang lebih merata.

Saat ini, masa tunggu rata-rata telah ditekan menjadi sekitar 26 tahun, turun dari sebelumnya yang mencapai hingga 49 tahun. Namun, angka tersebut dinilai masih terlalu panjang untuk ukuran ibadah yang mensyaratkan kesiapan fisik dan mental aktual.

“Apakah perlu antrean selama itu? Kita harus berani mengevaluasi sistem yang ada, karena ibadah haji bukan sekadar layanan administratif biasa,” ujar Menteri Haji dan Umrah dalam sebuah forum nasional, Rabu (8/4/2026),

Baca Juga:
  • Usai Dituduh Pakai Spons, Pedagang Es Gabus Dapat Kulkas dari TNI
  • Mensos Pastikan Efisiensi Anggaran Tak Pengaruhi Dana Bansos
  • Dolar AS Sentuh Rp17.700, Rupiah Makin Tertekan
  • Transformasi Digital di Pelabuhan, Upaya Kemenhub Lawan Pungutan Liar

Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan yang berkembang di tengah masyarakat. Selama ini, prinsip “siapa cepat dia dapat” menjadi dasar antrean, namun dinilai mengabaikan konsep istitha’ah atau kemampuan yang seharusnya bersifat aktual. Banyak jemaah yang akhirnya berangkat dalam kondisi kesehatan yang menurun karena harus menunggu terlalu lama, bahkan puluhan tahun sejak mendaftar.

Dalam konteks ini, muncul wacana baru yang populer disebut sebagai “war ticket”. Meski istilah tersebut hanyalah metafora komunikasi, substansi yang diusung adalah bagaimana memastikan kuota haji diisi oleh mereka yang benar-benar siap berangkat pada tahun berjalan. Pendekatan ini diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan kuota tanpa mengganggu sistem reguler yang sudah ada.

Selain persoalan antrean, isu lain yang tak kalah penting adalah pengelolaan dana haji. Dengan total dana yang mencapai lebih dari Rp152 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat hingga Rp180 triliun pada 2025, sistem keuangan haji juga menjadi sorotan. Sebagian besar dana ditempatkan pada instrumen konservatif dengan imbal hasil sekitar 6–7 persen per tahun.

“Jika tidak dikelola dengan hati-hati, sistem ini bisa terlihat seperti skema yang bergantung pada aliran dana baru,” ungkap salah satu anggota pengelola dana haji dalam rapat bersama DPR beberapa waktu lalu.

Artikel Terkait:
  • Kemnaker Buka Batch 3 Magang Nasional 2025, Sisa Kuota Segera Diisi
  • BNPB Sebut 303 Korban Jiwa dalam Banjir dan Longsor Sumatra
  • Andi Harun Wali Kota Samarinda Dukung Olahraga Wanita
  • Aceh Kerahkan 3.000 ASN Bantu Warga Terdampak Bencana

Pernyataan tersebut menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat transparansi dan produktivitas pengelolaan dana. Sebab, dengan antrean yang panjang, dana terus mengendap dan berpotensi menciptakan risiko struktural jika tidak dikelola secara optimal.

Di sisi lain, peluang peningkatan kuota haji global melalui proyeksi Saudi Vision 2030 membuka harapan baru. Indonesia berpotensi mendapatkan tambahan kuota hingga mendekati 500 ribu jemaah per tahun. Jika hal ini terealisasi, maka diperlukan sistem adaptif yang mampu menyalurkan kuota tambahan secara adil dan tepat sasaran.

Momentum ini pun dipandang sebagai titik balik untuk melakukan transformasi menyeluruh dalam penyelenggaraan haji. Pemerintah didorong untuk tidak hanya memperbaiki aspek teknis, tetapi juga mengembalikan esensi ibadah haji sebagai kewajiban yang dilaksanakan dalam kondisi terbaik.

Pada akhirnya, polemik antrean panjang bukan sekadar persoalan waktu tunggu, melainkan tentang keadilan, kesiapan, dan kepercayaan publik. Reformasi sistem menjadi kebutuhan mendesak agar ibadah haji tidak lagi menjadi penantian seumur hidup, melainkan kepastian yang nyata bagi setiap calon jemaah.

Jangan Lewatkan:
  • Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali
  • BMKG Hentikan Peringatan Tsunami Usai Gempa Bitung
  • Bisa Online, Arab Saudi Permudah Perpanjangan Visa Kunjungan
  • Kementan Tegaskan Sapi Aman dari PMK Jelang Idul Adha
Antrean Haji Haji Indonesia Kebijakan Haji Keuangan Haji Reformasi Sistem
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKTP dan Pajak yang Tak Sederhana
Next Article Harga Plastik Naik Tajam, Pedagang Kopi Tertekan

Informasi lainnya

Gempa M 6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tak Picu Tsunami

16 Juni 2026

BEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN

12 Juni 2026

4.151 Personel Gabungan Kawal Aksi Mahasiswa di Jakarta

12 Juni 2026

BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami Pascagempa Besar Sangihe

8 Juni 2026

Dolar AS Sentuh Rp17.700, Rupiah Makin Tertekan

19 Mei 2026

Musim Nobar Pesta Babi Diatur Lewat Pendaftaran

18 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

10 Tips Penting Dalam Memilih Calon Presiden

Daily Tips Alfi Salamah

Ibu Rumah Tangga di Musi Banyuasin Raup Penghasilan dari Ternak Jangkrik

Bisnis Silva

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Perspektif Udex Mundzir

Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Perspektif Lina Marlina

Poligami dalam Islam: Syarat, Larangan, dan Langkah Persiapan

Islami Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Wawan Raih Penghargaan atas Lagu Arjaun di Cisayong

Nama Jokowi Masih Tersemat di Situs OCCRP Meski Sempat Hilang

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi