Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 7 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Urban Farming: Mandiri di Kota

Di balik tren kebun kota yang estetik, ada kebutuhan mendesak akan kemandirian pangan dan tekanan hidup urban.
Alfi SalamahAlfi Salamah18 Januari 2026 Opini
Budaya urban farming
Ilustrasi Urban Farming (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Urban farming kini bukan sekadar tren hobi akhir pekan. Sejak pandemi COVID-19 dan lonjakan harga bahan pokok global, semakin banyak warga kota mulai menanam sayur sendiri, memelihara ikan lele di balkon, hingga membuat hidroponik vertikal di dapur. Media sosial dipenuhi konten soal panen cabai di pot, aquaponik di apartemen, dan hasil kebun mini di rooftop perkantoran.

Namun, di balik citra Instagramable dan gaya hidup hijau itu, urban farming menyimpan cerita yang lebih kompleks dan serius mulai dari upaya bertahan hidup di tengah harga pangan yang melonjak, hingga gerakan politik kedaulatan pangan di kota besar.

Dari Hobi ke Kebutuhan Mendesak

Awalnya, urban farming populer di kalangan penghobi dan komunitas pecinta tanaman. Namun dalam tiga tahun terakhir, terutama sejak krisis iklim mempengaruhi rantai pasok dan inflasi bahan pokok meroket, banyak keluarga kota beralih ke pertanian mandiri sebagai cara bertahan hidup.

Data BPS 2025 mencatat, lebih dari 18% rumah tangga di wilayah urban Indonesia kini memiliki kegiatan pertanian rumah tangga, naik signifikan dari hanya 6% pada 2020. Di Jakarta, program “Pekarangan Pangan Lestari” berhasil mendorong ribuan keluarga menanam sayur di halaman, dinding, hingga balkon apartemen.

Alternatif Ekonomi di Tengah Krisis

Selain karena kesadaran lingkungan, faktor ekonomi jadi pendorong utama. Harga cabai rawit yang menembus Rp130.000/kg di akhir 2025, disertai lonjakan harga beras dan sayuran daun, membuat keluarga menengah pun berpikir ulang untuk terus bergantung pada pasar.

Beberapa komunitas bahkan menjadikan urban farming sebagai sumber penghasilan tambahan. Contohnya, komunitas Tani Kota di Bandung mengembangkan sistem hidroponik kolaboratif yang hasil panennya dijual ke pasar daring dengan label “produk lokal bebas pestisida”.

Ini membuktikan bahwa pertanian kota kini bukan hanya simbol kesadaran ekologis, tetapi juga strategi ekonomi baru untuk bertahan dalam ketidakpastian.

Jawaban atas Krisis Pangan dan Iklim

Kota-kota besar menghadapi tantangan besar dalam hal ketersediaan pangan. Ketergantungan pada distribusi dari daerah luar menyebabkan kerentanan tinggi saat terjadi gangguan pasokan seperti saat cuaca ekstrem merusak panen atau saat harga BBM naik dan logistik terhambat.

Urban farming menjadi jawaban lokal atas krisis global. Menanam sendiri adalah bentuk kedaulatan pangan mikro kemampuan individu atau komunitas memenuhi kebutuhan pokok mereka tanpa tergantung pihak luar.

Lebih dari itu, urban farming juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim: mengurangi jejak karbon dari transportasi pangan, menyerap emisi kota, hingga memperbaiki mikroklimat lingkungan urban.

Tidak Semudah yang Tampak

Namun, membangun kebun di tengah kota tidak semudah unggahan di media sosial. Banyak tantangan yang dihadapi, antara lain:

  1. Keterbatasan ruang (terutama di rumah kontrakan atau apartemen).
  2. Biaya awal yang tinggi, terutama untuk sistem hidroponik dan vertikultur.
  3. Kurangnya dukungan regulasi dan insentif dari pemerintah lokal.

Selain itu, akses terhadap bibit, pupuk organik, dan pelatihan teknis juga masih terbatas. Banyak komunitas urban farming yang berjalan sendiri tanpa pendampingan dari institusi atau program resmi.

Ternyata, Ini Lebih dari Sekadar Tren

Jadi, mengapa urban farming begitu meledak popularitasnya? Karena ia bukan sekadar tren gaya hidup, tapi jawaban atas kombinasi krisis ekonomi, iklim, dan sosial yang menekan kehidupan urban.

Ketika negara gagal memastikan stabilitas harga dan pasokan pangan, masyarakat kota menemukan jawabannya di pot kecil dan ember cat bekas. Di sanalah harapan ditanam harapan untuk hidup lebih mandiri, sehat, dan tidak sepenuhnya tergantung pada sistem yang rapuh.

Bentuk Adaptasi Sosial

Urban farming bukan sekadar gerakan hijau. Ini adalah bentuk adaptasi sosial terhadap krisis ekonomi dan ketidakadilan sistem pangan.

Dan semakin kota bergerak cepat, semakin besar pula kebutuhan untuk memperlambat, menanam, dan mengambil kembali kendali atas apa yang kita makan. Karena ternyata, revolusi pangan bisa bermula dari balkon sempit dan tangan kotor tanah.

Kemandirian Pangan Krisis Ekonomi Pangan Lokal Pertanian Kota Urban farming
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleIle Lewotolok Erupsi Ratusan Kali, Lava Menjalar 100 Meter
Next Article Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

Informasi lainnya

Tren Fashion Terbaru 2026

16 Januari 2026

TikTok & Konten Viral

16 Januari 2026

Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

28 Desember 2025

Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat

28 Desember 2025

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

26 Oktober 2025

Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah

21 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Makanan Sehat untuk Sahur dan Berbuka Puasa

Food Assyifa

Kisah Inspiratif Pria 39 Tahun Mengabdi di Pabrik Kiswah Ka’bah

Islami Alfi Salamah

Cara Membuat Kimchi Korea Autentik

Food Alfi Salamah

Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat

Editorial Udex Mundzir

Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Hukum
Ericka6 Agustus 2025

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Optimalisasi Kepemimpinan dalam Transformasi Pelayanan Publik: Peserta Sespimmen Polri Dikreg ke-63 Gelar FGD di Surabaya

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.