Jakarta – Menjelang Hari Raya IdulFitri, persoalan keuangan kerap menjadi dilema bagi sebagian umat Islam. Ibarat dua kewajiban yang berdiri di persimpangan jalan, sebagian masyarakat mempertanyakan mana yang harus diprioritaskan lebih dulu: melunasi utang yang jatuh tempo atau menunaikan zakat fitrah yang menjadi kewajiban Ramadan.
Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta memberikan penjelasan terkait hal tersebut agar masyarakat tidak keliru dalam menentukan prioritas. Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, menyampaikan bahwa dalam fikih Islam, pembayaran utang yang sudah jatuh tempo harus didahulukan sebelum kewajiban zakat fitrah.
Menurut Adib, prinsip ini berkaitan dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap hak orang lain yang harus segera dipenuhi. Namun demikian, kewajiban zakat fitrah tetap harus dilaksanakan apabila setelah melunasi utang masih terdapat sisa harta yang mencukupi kebutuhan makan pada malam dan hari raya Idulfitri.
“Prioritas bayar utang yang jatuh tempo. Ketika utang dibayar masih ada sisa harta untuk memenuhi kebutuhan makan pada malam dan hari raya Idulfitri, maka tetap wajib bayar zakat fitrah,” jelas Adib saat dihubungi di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa kondisi berbeda berlaku bagi utang yang belum mencapai waktu pelunasan. Dalam situasi tersebut, umat Islam dapat lebih dahulu menunaikan zakat fitrah, sebab kewajiban tersebut berkaitan langsung dengan penyempurnaan ibadah puasa Ramadan.
Selain itu, Adib mengingatkan bahwa kewajiban zakat fitrah tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga menjadi tanggung jawab kepala keluarga untuk seluruh anggota keluarga yang berada di bawah tanggungannya. Hal ini mencakup laki-laki maupun perempuan, anak-anak, hingga bayi yang baru lahir sebelum Idulfitri.
Secara syariat, kewajiban zakat fitrah memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha’ kurma atau gandum bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka ataupun hamba sahaya, serta kecil maupun dewasa.
Hadis tersebut juga menegaskan bahwa zakat fitrah sebaiknya ditunaikan sebelum umat Islam melaksanakan salat Idulfitri. Tujuannya agar zakat dapat segera disalurkan kepada mereka yang membutuhkan sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan pada hari kemenangan.
Di sisi lain, zakat fitrah juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Ibadah ini berfungsi sebagai sarana penyucian jiwa setelah sebulan penuh menjalankan puasa Ramadan. Selain itu, zakat fitrah menjadi simbol solidaritas sosial yang memperkuat kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu.
Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Nomor 14 Tahun 2026, besaran zakat fitrah untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi ditetapkan sebesar 2,5 kilogram atau setara 3,5 liter beras per jiwa. Apabila dibayarkan dalam bentuk uang, nilainya diperkirakan sekitar Rp50.000 per orang.
Zakat fitrah sendiri dapat mulai dibayarkan sejak awal Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Ketentuan ini memberikan kesempatan luas bagi umat Islam untuk menunaikan kewajiban tersebut tepat waktu sekaligus memastikan distribusinya kepada penerima yang berhak.
Dengan penjelasan ini, masyarakat diharapkan dapat memahami prioritas kewajiban dalam kondisi keuangan tertentu, sehingga pelaksanaan ibadah Ramadan tetap berjalan sesuai tuntunan syariat sekaligus menjaga tanggung jawab sosial kepada sesama.
