Jakarta – Perekonomian Indonesia terus bergerak seperti mesin yang terkendali ritmenya dengan baik. Sepanjang 2025, ekonomi nasional mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,11 persen. Capaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan global dan fluktuasi ekonomi dunia yang belum sepenuhnya mereda.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (05/02/2026). Ia menjelaskan bahwa Produk Domestik Bruto Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp 23.821,1 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp 13.580,5 triliun atas dasar harga konstan. Pada 2025, ekonomi Indonesia tumbuh lebih cepat dalam perbandingan tahun 2024, dari 5,03 persen menjadi 5,11 persen.
“Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen,” ujar Amalia.
Ia menambahkan, kinerja ekonomi pada triwulan IV 2025 tumbuh 5,39 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi untuk periode triwulan IV sejak Indonesia melewati masa pandemi COVID-19. Dorongan utama berasal dari konsumsi masyarakat yang tetap kuat menjelang akhir tahun.
BPS mencatat peningkatan aktivitas belanja masyarakat melalui berbagai kanal. Transaksi ritel dan marketplace daring meningkat 12,2 persen secara kuartalan pada triwulan IV 2025. Selain itu, masyarakat juga meningkatkan penggunaan uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit. Pemerintah turut mendorong perputaran ekonomi melalui belanja bantuan sosial tunai yang meningkatkan daya beli masyarakat.
Sektor produksi nasional juga menunjukkan performa solid. Aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi, sementara produksi padi pada triwulan IV 2025 tumbuh 7,27 persen secara tahunan. Sepanjang 2025, produksi padi bahkan meningkat 13,29 persen. Di sektor energi, penjualan listrik tumbuh sekitar 3,5 persen secara tahunan pada triwulan IV, seiring meningkatnya aktivitas industri dan rumah tangga.
Investasi menjadi pilar penting lainnya. Realisasi penanaman modal dalam negeri dan asing pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,74 persen secara tahunan dan 12,66 persen secara kumulatif. Konsumsi pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto juga berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, masing-masing menyumbang 0,43 persen dan 1,96 persen basis poin.
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif. Industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan tetap menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi gabungan sebesar 63,09 persen terhadap PDB.
Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh tinggi karena meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru serta kebijakan diskon tarif angkutan. Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,09 persen seiring meningkatnya aktivitas pengguna internet dan lalu lintas data seluler.
Dalam konteks global, International Monetary Fund memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 berada di kisaran 3,3 persen, sementara negara berkembang tumbuh sekitar 4,4 persen. Indonesia mencatat kinerja ekonomi yang relatif stabil jika disandingkan sejumlah mitra dagang utama, meski ekonomi global menghadapi tekanan inflasi dan perlambatan.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2025 menegaskan peran kuat konsumsi rumah tangga, investasi, dan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas. Dengan fondasi tersebut, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pada tahun-tahun berikutnya.
