Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 26 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Dilema Ojol di Jam Sibuk, Penumpang Lama Menunggu

Lonjakan permintaan ojek online saat jam sibuk membuat penumpang menunggu lama sementara driver menghitung biaya operasional.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati16 Maret 2026 Ekonomi
Dilema Ojol di Jam Sibuk, Penumpang Lama Menunggu
Dua orang pengemudi ojek online (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Pagi hari di ibu kota sering kali bergerak seperti mesin yang dipacu cepat. Namun bagi sebagian warga, ritme itu justru melambat ketika mereka menunggu ojek online yang tak kunjung menerima pesanan. Situasi ini menggambarkan dilema baru transportasi digital: penumpang berharap cepat dijemput, sementara pengemudi harus berhitung agar tidak merugi di jalan.

Fenomena tersebut dialami Andin, seorang pekerja yang setiap hari menggunakan layanan ojek online untuk mobilitasnya di Jakarta Pusat. Pada Minggu (15/3/2026) pagi di sekitar Stasiun Juanda, ia harus menunggu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan pengemudi. Meski beberapa ikon kendaraan terlihat di peta aplikasi, status pesanannya tetap berada pada tahap pencarian driver selama beberapa menit.

“Iya sekarang kayaknya lagi krisis ojol ya. Kalau jam-jam sibuk susah banget dapet drivernya, biasanya gampang. Kadang sekalinya dapat tapi jauh jadi mau enggak mau tunggu,” ujar Andin.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dibandingkan beberapa waktu lalu ketika pesanan biasanya diterima pengemudi dalam hitungan satu hingga dua menit. Kini, waktu tunggu bisa jauh lebih lama, terutama pada jam sibuk pagi dan sore ketika permintaan meningkat tajam.

Andin bahkan pernah memilih berjalan kaki dari kantornya menuju Stasiun Juanda setelah lama menunggu tanpa mendapatkan pengemudi. Ia menilai berjalan kaki lebih cepat daripada terus menunggu di aplikasi.

Baca Juga:
  • Ekonomi RI Tembus 5,61 Persen pada Awal 2026
  • Otorita IKN Beri Lahan Gratis, Menteri ATR/BPN Angkat Bicara
  • Reforma Agraria dan Kedaulatan Pangan Rusak di Era Jokowi
  • AS Terancam Default, Janet Yellen-Warren Buffett Bunyikan Alarm Ekonomi!

“Pernah jalan kaki pulang kerja karena nyerah nunggu ojol enggak dapat-dapat. Dari pada makin malam jadi akhirnya jalan kaki aja, lumayan 17 menit,” tuturnya.

Selain waktu tunggu yang lebih lama, pengguna juga kerap menghadapi lonjakan tarif saat jam sibuk. Harga perjalanan jarak dekat yang biasanya hanya sekitar Rp7 ribu dapat melonjak hingga Rp16 ribu atau lebih. Jika tetap tidak mendapatkan driver, sebagian penumpang akhirnya memilih alternatif lain seperti berjalan kaki atau menggunakan transportasi lain dengan tarif yang lebih mahal.

Di sisi lain, para pengemudi memiliki pertimbangan tersendiri ketika menerima pesanan. Rudi, seorang driver ojek online yang telah bekerja selama dua tahun, mengaku kini lebih selektif dalam memilih order. Ia harus memperhitungkan jarak penjemputan, kondisi lalu lintas, serta potensi waktu terbuang di jalan.

“Kalau jarak jemput terlalu jauh atau macet parah, kadang dilepas. Karena waktu habis di jalan sebelum dapat penumpang,” tuturnya.

Rudi menjelaskan bahwa kemacetan di beberapa titik kota, terutama pada jam pulang kantor, sering membuat waktu perjalanan menjadi tidak sebanding dengan tarif yang diterima. Dalam kondisi tertentu, pengemudi bahkan harus mempertimbangkan risiko kehilangan peluang order lain jika terlalu lama terjebak di jalan.

Artikel Terkait:
  • Beasiswa Kemenkeu Dibatalkan, Efisiensi Anggaran Jadi Prioritas
  • KPEI Dorong Bank Gabung CCP PUVA untuk Stabilitas Pasar
  • Awal 2025, Tekanan Inflasi Diperkirakan Mengancam Dompet
  • Bos Telkom Soroti Masa Depan Telekomunikasi Pasca Merger XL-Smartfren

“Pernah dapat penumpang jarak dekat tapi macet banget, tapi kalau saya yang cancel, saya jadi susah kan dapet penumpang lagi jadi ya sudah kalau penumpang yang cancel dia yang susah dapet drivernya,” ucapnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan penumpang yang tinggi dan pertimbangan efisiensi dari sisi pengemudi. Di satu sisi, masyarakat perkotaan semakin bergantung pada layanan transportasi berbasis aplikasi. Di sisi lain, pengemudi harus memastikan bahwa setiap perjalanan tetap memberikan keuntungan setelah memperhitungkan bahan bakar, waktu, dan kondisi lalu lintas.

Kondisi tersebut membuat jam sibuk menjadi momen yang penuh dilema bagi kedua pihak. Penumpang berharap layanan yang cepat dan terjangkau, sementara pengemudi berusaha mencari order yang paling efisien untuk menjaga pendapatan mereka.

Situasi ini menjadi gambaran dinamika transportasi digital di kota besar, di mana teknologi memudahkan mobilitas, tetapi tetap harus berhadapan dengan realitas kemacetan dan biaya operasional di lapangan.

Jangan Lewatkan:
  • BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,5 Persen
  • Harga BBM Pertamina 1 April 2026 Tetap Stabil
  • Pariwisata Terancam, Efisiensi Anggaran 2025 Picu Kekhawatiran
  • Harga BBM Pertamina Naik, Ini Daftar Terbarunya

Ekonomi Perkotaan Mobilitas Kota Ojek Online Ojol Jakarta Transportasi Digital
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePesan Gus Baha untuk Perantau yang Gagal Mudik
Next Article Membatasi Medsos, Mendidik Generasi

Informasi lainnya

Dapur Warga Bakal Berubah? Pemerintah Siapkan Gas Pengganti LPG

7 Mei 2026

Ekonomi RI Tembus 5,61 Persen pada Awal 2026

6 Mei 2026

Tagihan Listrik April Melonjak, PLN Tegaskan Tarif Tetap

5 Mei 2026

Sertifikasi Halal 2026 Kian Ketat, UMKM Harus Siap Total

26 April 2026

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

25 April 2026

Tarif Listrik April 2026 Tetap, Daya Beli Dijaga

22 April 2026
Paling Sering Dibaca

Evaluasi Smart City Kabupaten Sidoarjo, Sekda Minta Kolaborasi Hexahelix

Techno Silva

Bersihkan Warisan Kabinet Jokowi

Editorial Udex Mundzir

Ironi di Balik Program Bergizi

Opini Assyifa

Cappadocia: Kota Bawah Tanah yang Membongkar Sejarah

Travel Alfi Salamah

Kopi Tuku Branding MRT Cipete

Bisnis Assyifa
Berita Lainnya
Info Haji
Udex Mundzir5 November 2025

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi