Lumajang – Gunung Semeru kembali “berbicara” lewat rentetan letusan yang memecah keheningan pagi, seolah mengingatkan bahwa alam memiliki ritmenya sendiri yang tak bisa ditebak. Enam kali erupsi dalam hitungan jam membuat langit di sekitar kawasan gunung berubah kelabu oleh sebaran abu vulkanik.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini tercatat mengalami enam kali erupsi pada Senin (13/4/2026) sejak pagi hari. Letusan pertama terjadi pada pukul 05.45 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak.
Aktivitas kemudian meningkat pada pukul 07.36 WIB dengan kolom abu setinggi 800 meter. Selanjutnya, dua letusan besar pada pukul 07.52 WIB dan 08.53 WIB menghasilkan kolom abu hingga 1.000 meter. Letusan lain juga terjadi pada pukul 08.17 WIB dengan tinggi 900 meter dan erupsi terakhir pada pukul 09.23 WIB kembali mencapai 1.000 meter.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang mengarah ke barat dan barat laut,” ujar Sigit Rian Alfian, petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru.
Ia menjelaskan bahwa erupsi terakhir memiliki amplitudo maksimum 22 mm dengan durasi gempa selama 113 detik, yang menunjukkan aktivitas vulkanik masih cukup tinggi.
Status Gunung Semeru hingga saat ini masih berada pada Level III atau siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting, termasuk larangan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang jalur tersebut karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer.
“Larangan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah tetap diberlakukan untuk menghindari bahaya lontaran material pijar,” tegas Sigit.
Selain ancaman langsung dari letusan, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya sekunder seperti awan panas, guguran lava, serta aliran lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Risiko ini dapat meningkat terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak.
Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas Gunung Semeru memang menunjukkan peningkatan dengan frekuensi erupsi yang cukup tinggi. Kondisi ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari masyarakat serta kesiapsiagaan aparat setempat dalam mengantisipasi potensi dampak yang lebih luas.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa keberadaan gunung api aktif seperti Semeru selalu membawa dua sisi keindahan sekaligus ancaman yang harus dihadapi dengan kesiapan dan kepatuhan terhadap setiap imbauan resmi.
