Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 23 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Disaat orang memilih mengeluh, ia memilih menggali bukit dengan tangan sendiri demi hidup orang banyak.
Alfi SalamahAlfi Salamah31 Januari 2026 Profil
Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa
Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di lereng Gunung Galunggung, sebuah kisah perjuangan luar biasa lahir dari tangan seorang perempuan desa. Namanya Ma Eroh, atau akrab dipanggil Mak Eroh oleh warga. Ia bukan pejabat, bukan insinyur, bukan tokoh politik.

Ia hanyalah seorang petani biasa dari Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun tindakannya membuatnya layak disebut pahlawan bukan karena retorika, tapi karena kerja kerasnya menggali bukit demi mengalirkan air untuk rakyat.

Terlahir dalam Kehidupan Sederhana

Ma Eroh lahir sekitar tahun 1934 di lereng gunung yang sunyi, tempat kehidupan bergantung pada sawah dan hujan. Sejak muda ia telah akrab dengan kerja fisik: mencangkul, menanam, memanen. Di desa kecilnya, sumber air adalah segalanya. Namun kehidupan berubah drastis saat Gunung Galunggung meletus pada 1982.

Letusan tersebut menghancurkan irigasi dan menutup jalur air yang selama ini menghidupi sawah dan kebun warga. Kekeringan melanda. Ladang-ladang mengering, hasil panen gagal. Sementara banyak orang mengeluh dan menunggu bantuan, Ma Eroh memilih langkah berbeda: ia ingin mengalirkan kembali air dari hulu dengan tangannya sendiri.

Menggali Bukit Sendirian

Di usia hampir 50 tahun, Ma Eroh memikul linggis, cangkul, dan tali rotan. Dengan alat seadanya, ia mulai menggali bukit cadas yang menjadi penghalang aliran air. Di tengah hutan rimbun, tanpa bantuan siapa pun, ia mulai membuka jalur yang kemudian menjadi saluran air sepanjang 4,5 hingga 6 kilometer.

Ia bekerja tanpa rencana besar, tanpa peta teknik, tanpa gaji. Setiap hari ia menembus semak, memotong akar pohon, dan memecah batu. Banyak warga awalnya menganggapnya “gila” bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mengerjakan proyek sebesar itu seorang diri?

Namun Ma Eroh tidak tergoyahkan oleh celaan. Ia terus menggali, dan kerja kerasnya mulai menarik perhatian warga. Perlahan, satu per satu warga mulai ikut membantunya. Dalam waktu 2,5 tahun, saluran air itu akhirnya selesai dan mampu mengairi sawah di tiga desa.

Air untuk Rakyat, Bukan untuk Nama

Yang paling istimewa dari perjuangan Ma Eroh adalah tujuannya. Ia tidak mencari pujian, tidak mengejar penghargaan. Ia hanya ingin air mengalir kembali ke sawah-sawah yang kering, agar warga bisa menanam kembali padi dan bertahan hidup.

Saluran yang ia buka bukan hanya mengairi kampungnya sendiri, tapi juga dua desa tetangga.
Ia juga tidak pernah meminta bayaran. Ketika warga bertanya apa imbalan yang ia inginkan, Ma Eroh hanya menjawab, “Yang penting sawah bisa ditanami. Kalau panen bagus, kita bisa makan.”

Perjuangannya menjadi simbol nyata bahwa kepahlawanan tidak selalu hadir dari panggung politik atau senjata perang. Kadang, kepahlawanan hadir dalam bentuk perempuan desa yang menggali bukit agar anak-anak di kampungnya bisa makan nasi.

Penghargaan Datang, Tapi Terlambat

Atas jasanya, Ma Eroh menerima Kalpataru, penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup, dari Presiden Soeharto pada tahun 1988. Setahun kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memberikan penghargaan lingkungan hidup kepadanya.

Namun dalam kenyataannya, penghargaan itu tidak pernah menyentuh hidupnya secara langsung. Piala Kalpataru bahkan tidak disimpan oleh keluarga, melainkan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Ia tetap hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Rumahnya terbuat dari bilik bambu, dan ia meninggal dunia pada 18 Oktober 2004 dalam usia sekitar 70 tahun.

Penghargaan datang, tapi kehidupan Ma Eroh tidak pernah berubah. Ia tetap hidup seperti rakyat yang ia perjuangkan. Barangkali inilah bentuk ketulusan sejati: berbuat tanpa pamrih.

Warisan yang Terlupakan?

Kini, dua dekade sejak kepergiannya, nama Ma Eroh mulai terdengar samar. Tugu peringatan memang telah didirikan di Alun-Alun Tasikmalaya, tapi semangat perjuangannya belum sepenuhnya diwarisi. Banyak anak muda bahkan tidak mengenalnya. Saluran air yang ia gali kini masih digunakan, tapi tidak semua tahu siapa penggalinya.

Beberapa pihak menganggap pemerintah setempat belum cukup serius mengangkat warisan perjuangan Ma Eroh. Tidak ada buku biografi resmi, tidak ada film dokumenter besar, bahkan tidak ada kurikulum sekolah yang mengisahkan perjuangan lokal seperti milik Ma Eroh.

Padahal, di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan saat ini, kisah Ma Eroh bisa menjadi inspirasi nasional tentang ketahanan, kerja nyata, dan kepemimpinan lokal yang lahir dari kebutuhan, bukan pencitraan.

Keteladanan untuk Masa Kini

Ma Eroh adalah simbol ketangguhan perempuan desa. Ia menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang dengan alat sederhana dan niat yang kuat. Ia tidak menunggu program pemerintah, tidak menuntut proyek besar. Ia bertindak dan tindakannya membawa air ke ribuan petak sawah.

Di masa kini, ketika pembangunan kerap dibingkai oleh angka dan laporan, Ma Eroh mengajarkan bahwa membangun tidak selalu membutuhkan dana besar. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bergerak, dan keyakinan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan.

Perjuangan Ma Eroh adalah narasi alternatif dari pembangunan: narasi tentang gotong royong, keteguhan hati, dan cinta tanah. Kisahnya layak dikenang, diajarkan, dan dijadikan teladan.

Kalpataru Lingkungan Hidup Pahlawan Lokal Perempuan Tangguh Tasikmalaya
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMahmud Marhaba: Penetapan Tersangka Wartawan Babel Langgar UU Pers
Next Article Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Informasi lainnya

Retribusi Pantai Sindangkerta Disorot

15 Februari 2026

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

30 Januari 2026

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

29 Januari 2026

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

27 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

3 SMA Seni Favorit Para Idol K-Pop Korea Selatan

Daily Tips Ericka

Mochtar Kusumaatmadja, Arsitek Laut Nusantara

Profil Alfi Salamah

Keindahan Ranu Kumbolo, Surga Tersembunyi di Punggung Semeru

Travel Alfi Salamah

Menepi di Jejeran Cemara & Laut Lepas Pangempang

Travel Alfi Salamah

Ijazah Jokowi dan Dagelan Akademik

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Lima Fakta Menarik tentang Penemuan Ruang Antarbintang Voyager

BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari

Zulhas: Pembangunan Pangan Indonesia Tertinggal 27 Tahun

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor