Zainal Abidin Syah Alting lahir di Soasiu, Pulau Tidore, pada 5 Agustus 1912. Ia berasal dari garis bangsawan Kesultanan Tidore, salah satu kerajaan Islam tertua di kawasan timur Nusantara. Terlahir dalam atmosfer adat, diplomasi, dan warisan keislaman, Zainal Abidin tumbuh sebagai figur dengan pandangan luas dan semangat kebangsaan yang tinggi.
Pada 1947, ia dinobatkan sebagai Sultan Tidore ke-26, mengemban tugas tradisional dan spiritual dalam masyarakat Maluku Utara yang sarat simbol dan struktur sosial yang khas.
Ikatan Sejarah yang Panjang
Kesultanan Tidore memiliki hubungan historis dengan wilayah Papua Barat, atau yang dulu disebut Irian Barat. Sejak abad ke-17, wilayah Papua telah menjadi bagian dari pengaruh kultural dan politik Kesultanan Tidore, yang kala itu berperan sebagai mitra lokal dalam sistem kekuasaan kolonial Belanda dan juga sebagai penyebar Islam dan perdagangan.
Ikatan inilah yang kelak menjadi landasan politik kuat saat Zainal Abidin Syah memperjuangkan Papua bergabung dengan Indonesia.
Ditunjuk Soekarno: Gubernur Perjuangan Irian Barat
Pada 17 Agustus 1956, Presiden Soekarno mendeklarasikan pembentukan Provinsi Irian Barat sebagai wujud klaim Indonesia atas wilayah tersebut, yang masih dikuasai Belanda. Untuk menegaskan klaim itu, ia menunjuk Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur Perjuangan Irian Barat.
Penunjukan ini bukan sekadar simbolik. Sebagai Sultan yang memiliki legitimasi historis atas Papua, Zainal Abidin membawa otoritas kultural dan legitimasi politik. Ia ditetapkan sebagai Gubernur definitif pada 4 Mei 1962, masa di mana perjuangan diplomatik Indonesia mencapai puncaknya melalui perjanjian New York Agreement.
Diplomasi dan Identitas Nusantara
Zainal Abidin Syah menjalankan diplomasi kultural menggunakan sejarah dan hubungan kekerabatan antarwilayah sebagai alat perjuangan. Ia meyakinkan publik Indonesia dan komunitas internasional bahwa Papua bukan wilayah asing, melainkan bagian dari satu kesatuan sejarah Nusantara.
Di tengah situasi geopolitik yang kompleks melibatkan Belanda, Amerika Serikat, dan PBB, Zainal Abidin Syah mampu menempatkan posisi Tidore secara strategis. Ia mengawal visi bahwa integrasi Papua ke Indonesia adalah hak sejarah, bukan sekadar urusan politik kontemporer.
Mewarisi Nasionalisme dari Timur
Sebagai pemimpin lokal, Sultan Zainal Abidin Syah mampu menjembatani identitas lokal dengan nasionalisme Indonesia. Ia bukan sekadar tokoh simbolik dari wilayah timur, tapi aktor aktif dalam proses penguatan republik yang masih muda dan rentan pecah akibat tarik-menarik kepentingan pascakolonial.
Ia menunjukkan bahwa figur bangsawan tradisional bisa bertransformasi menjadi pelaku sejarah nasional. Di tengah tekanan ideologis Orde Lama dan situasi Perang Dingin, Zainal Abidin menjadi contoh bahwa loyalitas terhadap NKRI tidak bertentangan dengan identitas lokal.
Akhir Hayat dan Pengakuan Sejarah
Sultan Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 di Ambon, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha. Namun, pada 11 Maret 1986, jasadnya dipindahkan ke Sonyine Salaka di Tidore, sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari masyarakatnya.
Baru pada 10 November 2025, pemerintah Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Zainal Abidin Syah. Sebuah pengakuan yang terlambat, namun sangat layak, mengingat kontribusinya terhadap integrasi Papua dan penguatan identitas Indonesia dari wilayah timur.
Jejak yang Tetap Hidup
Warisan Sultan Zainal Abidin Syah tak hanya dalam bentuk nama jalan atau gelar kehormatan. Ia meninggalkan model kepemimpinan yang berakar pada sejarah, tetapi visioner pada masa depan. Ia mewakili bahwa pemimpin tradisional bisa berperan aktif dalam perubahan nasional, bukan menjadi relik masa lalu.
Dalam konteks politik Papua hari ini, nama Zainal Abidin Syah bisa menjadi jembatan untuk memahami bahwa kebhinekaan Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah perjumpaan, dialog, dan keterhubungan antarpulau, antaretnis, dan antarbudaya.
Sultan yang Membelah Laut, Menyatukan Tanah
Sultan Zainal Abidin Syah adalah contoh bagaimana kekuasaan lokal bisa menjadi elemen pemersatu nasional. Ia tidak hanya menyatukan sejarah Tidore dan Papua, tetapi juga memperlihatkan bagaimana legitimasi tradisional bisa berpadu dengan semangat republik.
Figur ini membuktikan bahwa perjuangan bukan hanya berhasil dengan senjata, tapi juga dengan sejarah, diplomasi, dan cinta pada tanah air. Dalam arus besar sejarah Indonesia, Zainal Abidin Syah menjadi suara dari timur yang layak terus digaungkan.
