Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 27 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Langkah Skuad Muda yang Tertatih

Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2024 mencerminkan dilema antara harapan dan realitas.
AssyifaAssyifa22 Desember 2024 Opini
Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2024
Timnas Indonesia gagal lolos fase grup Piala AFF 2024, namun menjadi pelajaran berharga bagi pemain muda.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Langkah pertama yang penuh tantangan memberi secercah optimisme. Kemenangan tipis 1-0 atas Myanmar, lewat gol Ramadhan Sananta, menunjukkan determinasi awal yang menjanjikan dari skuad muda. Namun, keajaiban itu hanya bertahan sebentar.

Pada laga kedua melawan Laos, permainan yang penuh semangat berubah menjadi bumerang. Setelah unggul lebih dulu, Indonesia kehilangan fokus di menit-menit akhir, hingga laga berakhir imbang 3-3. Dua poin penting terlepas, mencerminkan masalah dalam manajemen permainan yang belum stabil.

Melawan Vietnam, yang dikenal sebagai tim kuat Asia Tenggara, Indonesia menghadapi tantangan nyata. Strategi bertahan yang solid bertahan hingga menit ke-78. Namun, satu kelengahan menjadi mahal, ketika Vietnam berhasil mencetak gol tunggal kemenangan. Kekalahan 0-1 ini menjadi pukulan telak sekaligus sinyal bahwa Garuda Muda masih membutuhkan banyak pembenahan.

Laga terakhir melawan Filipina menjadi klimaks yang pahit. Penalti Bjorn Kristensen dan kartu merah Muhammad Ferarri di babak pertama membuat Indonesia kehilangan kendali pertandingan. Kekalahan 0-1 memastikan mereka hanya finis di posisi ketiga Grup B dengan empat poin, tertinggal dari Vietnam dan Filipina yang melaju ke semifinal.

Meski langkah Indonesia terhenti, ada dimensi lain yang patut dicermati. Dengan rata-rata usia 20,3 tahun, Timnas Indonesia adalah tim termuda di Piala AFF 2024. Pemain-pemain muda seperti Arkhan Kaka (17 tahun) dan Cahya Supriadi menunjukkan potensi besar untuk masa depan. Pelatih Shin Tae-yong sejak awal sudah menekankan bahwa turnamen ini adalah bagian dari strategi jangka panjang.

Baca Juga:
  • Mantan Presiden Bikin Gaduh
  • Inilah Kekurangan dan Kelebihan Karakteristik Generasi Z
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana
  • Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

Ketika publik menantikan trofi, federasi dan tim pelatih memilih untuk memprioritaskan pembinaan. Ini adalah langkah yang tak populer di mata banyak orang, tetapi sangat strategis dalam membangun fondasi masa depan. Melalui pengalaman ini, para pemain muda mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi di level tertinggi Asia Tenggara, sebuah pembelajaran yang tak ternilai harganya.

Namun demikian, evaluasi kritis tetap diperlukan. Kekurangan dalam transisi permainan, lemahnya koordinasi antarlini, serta ketidakmampuan menjaga fokus di momen-momen penting menjadi catatan yang harus segera diperbaiki. Shin Tae-yong dan jajaran pelatih harus memastikan bahwa kelemahan ini tidak berulang di turnamen mendatang.

Tidak hanya dari sisi teknis, tantangan sepak bola Indonesia juga datang dari aspek manajemen dan politik olahraga. Konsistensi program pembinaan usia muda masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. PSSI, sebagai federasi, memegang peran penting untuk memastikan regenerasi ini berjalan mulus. Dukungan terhadap pelatih, peningkatan kualitas kompetisi domestik, serta investasi pada akademi dan infrastruktur adalah langkah yang harus diambil dengan serius.

Selain itu, sinergi dengan klub-klub lokal perlu diperkuat. Kompetisi yang kompetitif di level domestik akan menciptakan pemain-pemain berkualitas yang siap bersaing di level internasional. Jika ekosistem sepak bola tidak mendukung, regenerasi hanya akan menjadi mimpi tanpa wujud.

Artikel Terkait:
  • Ketika Notifikasi Mengalahkan Literasi
  • Jurnal Ilmiah Indonesia, Banyak Tapi Bagaikan Buih
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah

Meski tersingkir, perjalanan ini tetap menawarkan harapan. Para pemain muda yang kini mendapatkan pengalaman berharga akan menjadi tulang punggung Timnas Indonesia di masa depan. Turnamen seperti SEA Games, kualifikasi Piala Asia U-23, hingga kejuaraan lainnya akan menjadi panggung lanjutan bagi mereka untuk menunjukkan perkembangan.

Publik sepak bola Indonesia harus bersabar. Kebangkitan bukanlah proses instan. Langkah tertatih ini mungkin menyakitkan, tetapi jika diolah dengan benar, akan menjadi pijakan kokoh menuju kejayaan yang lebih besar. Dukungan terhadap pelatih, pemain, dan federasi harus konsisten.

Sepak bola Indonesia membutuhkan keberanian untuk menempuh jalan yang tidak populer demi masa depan yang lebih cerah. Kegagalan kali ini adalah awal dari perjalanan panjang yang akan menentukan arah perkembangan sepak bola nasional. Dengan visi jangka panjang yang jelas, Timnas Indonesia akan melangkah dengan lebih percaya diri di masa depan.

Jangan Lewatkan:
  • Titik Berat Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
  • Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?
  • Polemik Privasi di Era Digital
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?

Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetua MPR RI Bahas Museum Rasulullah dan Kolaborasi Global di Mekah
Next Article 5 Peran Penting Dalam Tim yang Solid

Informasi lainnya

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Surah Al-Ma’un, Intisari dan Penjelasan Mendalam

Islami Udex Mundzir

Syarikat Islam Gelar Iftar Jama’i, Perkuat Ekonomi dan Solidaritas Umat

Islami Ericka

Petualangan Haji: Masjid Quba sebagai Pintu Gerbang Pertama

Islami Alfi Salamah

Empat Kunci Hidup Tenang dalam Islam

Islami Alfi Salamah

Rencanakan Liburan: Jadwal Cuti Bersama Desember 2023

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi