Bagi sebagian umat Islam, sepuluh hari terakhir Ramadan ibarat garis akhir sebuah maraton spiritual. Ibadah semakin intens, malam semakin panjang, tetapi justru pada fase inilah banyak orang mengeluhkan tubuh mulai melemah, demam, atau sakit kepala.
Fenomena meningkatnya keluhan kesehatan di penghujung Ramadan kerap terjadi karena perubahan pola hidup yang cukup drastis selama bulan puasa. Aktivitas ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan iktikaf membuat waktu istirahat berkurang. Pada saat yang sama, tubuh tetap menjalankan rutinitas harian seperti bekerja, belajar, atau mengurus rumah tangga.
Selain itu, perubahan pola makan juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Banyak orang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar saat berbuka atau sahur, namun tidak selalu memperhatikan keseimbangan nutrisi. Kurangnya asupan air dan vitamin juga dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap kelelahan dan penyakit ringan.
“Di sepuluh hari terakhir Ramadan, aktivitas ibadah biasanya meningkat sementara waktu tidur berkurang. Kondisi ini bisa menurunkan daya tahan tubuh jika tidak diimbangi dengan pola makan dan istirahat yang cukup,” ujar seorang praktisi kesehatan yang menyoroti fenomena tersebut.
Meski demikian, dalam perspektif Islam, sakit yang dialami seorang mukmin memiliki makna spiritual tersendiri. Beberapa hadis menyebutkan bahwa penyakit dapat menjadi sarana penghapus dosa sekaligus peningkatan derajat seseorang di sisi Allah, terutama jika dijalani dengan kesabaran.
Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa ketika seorang hamba beriman sakit, Allah memerintahkan malaikat untuk tetap mencatat pahala sebagaimana amal yang biasa ia lakukan ketika sehat. Dengan demikian, kondisi sakit tidak selalu berarti kehilangan pahala ibadah yang biasa dikerjakan.
Pada saat yang sama, umat Islam tetap dianjurkan untuk menjalankan amalan utama pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an terutama pada akhir malam, serta melaksanakan iktikaf di masjid untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Para ulama juga menjelaskan bahwa kesempatan meraih malam Lailatul Qadar tetap terbuka bagi semua orang, termasuk perempuan yang sedang haid. Meskipun tidak dapat menjalankan salat atau puasa, mereka tetap bisa memperbanyak zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, atau memberikan makanan bagi orang yang berbuka puasa.
Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri menjelaskan bahwa seseorang yang terhalang melakukan ibadah karena alasan syar’i tetap bisa memperoleh pahala apabila niat ibadahnya kuat. Ia mencontohkan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa orang yang tidak bisa ikut suatu amal karena halangan tetap memperoleh pahala yang sama karena niatnya.
Fenomena banyak orang sakit menjelang akhir Ramadan akhirnya dapat dipahami dari dua sisi: faktor fisik akibat perubahan gaya hidup selama puasa, serta makna spiritual yang mengajarkan kesabaran dan keikhlasan. Dengan menjaga pola makan, cukup istirahat, dan mengatur aktivitas ibadah secara seimbang, umat Islam diharapkan tetap dapat memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadan tanpa mengabaikan kesehatan tubuh.
