Rembang – Menjelang Hari Raya Idulfitri, kerinduan pada kampung halaman sering terasa semakin kuat. Bagi sebagian perantau, tradisi mudik menjadi momen yang dinanti. Namun, bagi mereka yang harus menahan langkah pulang tahun ini, ulama karismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menghadirkan pesan menyejukkan: kerinduan kepada keluarga juga merupakan bagian dari kenikmatan hidup.
Fenomena tidak bisa mudik menjelang Lebaran kerap dialami banyak orang karena berbagai alasan, mulai dari keterbatasan biaya, kehabisan tiket perjalanan, hingga tuntutan pekerjaan. Situasi ini membuat sebagian perantau merasa sedih karena tidak dapat bertemu keluarga pada momen penting Idulfitri. Dalam salah satu kajian yang disampaikan menjelang akhir Ramadan, Gus Baha mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap kondisi tersebut.
“Saran saya untuk teman-teman yang ditakdir belum bisa ketemu keluarga, bahwa rindu itu sudah bagian dari kenikmatan. Jadi kita berpikir positif bahwa bertemu itu nikmat, karena silaturahim (menyambung). Tidak ketemu, kita nikmati rasa rindu, rasa sayang yang terpendam,” jelas Gus Baha.
Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Narukan di Rembang itu menjelaskan bahwa rasa cinta yang mendalam atau dalam istilah tasawuf disebut ‘isyq dapat muncul dari berbagai keadaan, termasuk ketika seseorang tidak dapat bertemu dengan orang yang dicintai. Menurutnya, kerinduan justru bisa menghadirkan pengalaman batin yang penuh makna.
“Justru barokahnya tidak ketemu itu ada kenikmatan tersendiri dalam kerinduan, dalam membayangkan ketemu, dalam membayangkan masa lalu yang indah, yang dulu bertemu terus sekarang tidak ketemu. Jadi Allah tidak kekurangan cara untuk membuat orang dapat nikmat,” tuturnya.
Gus Baha menilai manusia sering kali hanya memandang kebahagiaan dari pertemuan secara fisik. Padahal, kenangan, harapan, dan kerinduan juga dapat menjadi sumber kebahagiaan yang tidak kalah bermakna. Dalam pandangannya, Allah memberikan berbagai bentuk nikmat kepada manusia, termasuk melalui perasaan rindu yang menguatkan ikatan batin dengan keluarga.
“Ketika ketemu, ya nikmat. Ketika rindu menikmati masa lalu yang bisa bertemu ya nikmat, meskipun sekarang tidak bertemu karena bagian kenikmatan manusia itu termasuk rindu,” tegas ulama asal Jawa Tengah tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa rindu yang belum terobati sebaiknya disikapi dengan kesabaran dan diiringi dengan ibadah, seperti berzikir atau mengingat Allah. Dengan cara itu, kekecewaan karena gagal mudik dapat berubah menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan spiritual.
“Insyaallah dengan cara itu kita bisa mengobati kekecewaan (karena tidak bisa mudik),” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para perantau bahwa makna silaturahmi tidak hanya terbatas pada pertemuan fisik. Kerinduan yang tersimpan, doa untuk keluarga, serta kenangan kebersamaan juga merupakan bagian dari ikatan kasih sayang yang tetap hidup meski terpisah jarak.
Dengan perspektif tersebut, kegagalan mudik tidak selalu harus dipandang sebagai kehilangan. Sebaliknya, ia bisa menjadi momen untuk mensyukuri kenangan dan menjaga cinta kepada keluarga, sembari menanti pertemuan yang mungkin akan datang di waktu berikutnya.
