Sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia adalah pengalaman kolektif yang mempertemukan emosi, identitas, dan harapan jutaan orang pada waktu yang sama. Karena itu, ketika sebagian penonton Indonesia begadang untuk menyaksikan dimulainya Piala Dunia 2026 tetapi tidak dapat melihat upacara pembukaannya, kekecewaan yang muncul bukanlah perkara sepele. Yang hilang bukan hanya tayangan hiburan. Yang hilang adalah bagian dari pengalaman yang membuat Piala Dunia berbeda dari turnamen lainnya.
Piala Dunia 2026 memang hadir dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Turnamen ini diikuti 48 negara dan memainkan 104 pertandingan di tiga tuan rumah sekaligus: Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Sebagai pembuka, FIFA menyiapkan seremoni besar di Stadion Azteca, Meksiko, yang dimulai sekitar 90 menit sebelum laga perdana. Acara itu menghadirkan pertunjukan budaya Meksiko serta sederet musisi dunia seperti J Balvin, Shakira, Burna Boy, Maná, Belinda, dan Tyla.
Puncak acara terjadi ketika Shakira dan Burna Boy membawakan lagu resmi turnamen berjudul “Dai Dai”. Penampilan itu menjadi simbol dimulainya pesta sepak bola terbesar di dunia yang akan berlangsung lebih dari satu bulan.
Di stadion, puluhan ribu penonton merasakan langsung atmosfer tersebut. Di berbagai negara, jutaan orang menyaksikannya melalui layar televisi dan platform digital. Namun tidak semua penonton memperoleh pengalaman yang sama.
Di Indonesia, sebagian penonton mengeluhkan tidak adanya siaran penuh upacara pembukaan. Keluhan itu cepat menyebar di media sosial. Bagi banyak orang, masalahnya bukan karena ingin melihat konser musik. Mereka ingin merasakan momen ketika dunia berhenti sejenak untuk menyambut sebuah peristiwa global.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat menikmati olahraga. Dulu pertandingan adalah pusat perhatian. Hari ini, pengalaman menjadi bagian yang sama pentingnya. Penonton tidak hanya ingin mengetahui skor. Mereka ingin mengetahui cerita, simbol, dan budaya yang mengiringi pertandingan.
FIFA sendiri tampaknya memahami perubahan itu. Tidak mengherankan bila upacara pembukaan tahun ini dirancang sebagai pertunjukan lintas budaya yang menggabungkan musik, seni visual, dan identitas negara tuan rumah. Bahkan FIFA menempatkan acara tersebut sebagai bagian penting dari kampanye global yang juga mendukung dana pendidikan bersama Global Citizen.
Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Ketika siaran olahraga hanya dipahami sebagai transmisi pertandingan, maka yang terlihat hanyalah hasil akhir. Padahal olahraga modern telah berkembang menjadi ruang kebudayaan yang jauh lebih luas.
Piala Dunia tidak hanya menghasilkan juara. Ia menghasilkan cerita tentang bangsa, identitas, migrasi, teknologi, ekonomi kreatif, hingga diplomasi budaya. Ketika masyarakat Indonesia kehilangan akses terhadap bagian pembuka itu, mereka kehilangan kesempatan memahami narasi yang ingin dibangun penyelenggara.
Dari sudut pandang pendidikan, situasi ini menarik untuk dicermati. Selama bertahun-tahun kita berbicara tentang pentingnya literasi media. Namun literasi bukan hanya kemampuan membaca informasi. Literasi juga kemampuan memahami konteks.
Upacara pembukaan adalah konteks. Melalui tarian, musik, kostum, dan simbol budaya, publik diajak memahami bagaimana tuan rumah memandang dirinya sendiri. Meksiko, misalnya, menjadikan unsur budaya lokal dan tradisi artistik sebagai bagian dari pertunjukan pembuka. Pesan yang ingin disampaikan jelas: sepak bola bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang kebudayaan.
Karena itu, ketika bagian tersebut tidak hadir dalam siaran, pengalaman publik menjadi terpotong. Penonton melihat pertandingan, tetapi kehilangan kisah yang melatarbelakanginya.
Dari perspektif kebudayaan, persoalan ini menunjukkan tantangan yang semakin sering muncul dalam era hak siar modern. Pemegang hak siar menghadapi tekanan bisnis yang besar. Mereka harus menghitung biaya produksi, durasi siaran, iklan, dan preferensi pasar. Tidak semua konten dianggap memiliki nilai ekonomi yang sama.
Masalahnya, logika bisnis tidak selalu sejalan dengan kebutuhan publik. Apa yang dianggap tidak penting dalam perhitungan rating bisa jadi justru memiliki makna besar bagi penonton. Upacara pembukaan mungkin tidak menghasilkan gol, tetapi ia menghasilkan keterikatan emosional. Dan dalam industri hiburan modern, keterikatan emosional adalah aset yang sangat berharga.
Sejarah menunjukkan bahwa momen-momen pembukaan sering kali bertahan lebih lama dalam ingatan publik dibanding hasil pertandingan tertentu. Banyak orang masih mengingat lagu “Waka Waka” milik Shakira pada Piala Dunia 2010. Sebagian mengingat seremoni pembukaan Olimpiade London 2012. Tidak semua orang mengingat skor setiap pertandingan, tetapi mereka mengingat momen yang menyatukan dunia dalam satu pengalaman bersama.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa penyiaran olahraga tidak cukup hanya berfokus pada pertandingan. Publik semakin membutuhkan pengalaman yang utuh. Mereka ingin memahami cerita di balik peristiwa, bukan sekadar menyaksikan hasil akhirnya.
Ke depan, pemegang hak siar di Indonesia perlu melihat penonton sebagai komunitas yang ingin terlibat, bukan hanya konsumen yang menunggu kickoff. Transparansi mengenai konten yang akan ditayangkan juga menjadi penting agar ekspektasi publik tidak berakhir menjadi kekecewaan.
Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Masih ada puluhan pertandingan yang akan menghadirkan drama, kejutan, dan kisah inspiratif. Namun kegaduhan kecil tentang upacara pembukaan memberikan pengingat yang menarik. Dalam dunia yang dipenuhi informasi dan tayangan instan, manusia tetap membutuhkan makna.
Dan makna sering kali lahir bukan ketika pertandingan dimulai, melainkan beberapa menit sebelumnya, saat lampu stadion menyala, musik dimainkan, dan dunia bersama-sama menyadari bahwa sebuah perjalanan besar baru saja dimulai.
